Jangan Asal, Ngomongin Perempuan Secara Seksual Termasuk Pelecehan

CNN Indonesia
Selasa, 14 Apr 2026 15:15 WIB
Kasus dugaan chat bernada seksual sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum UI mengingatkan bahwa pelecehan seksual tidak selalu hadir dalam bentuk sentuhan fisik.
Ilustrasi. Kasus dugaan chat bernada seksual sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum UI mengingatkan bahwa pelecehan seksual tidak selalu hadir dalam bentuk sentuhan fisik. (iStock/doidam10)

Dari sisi riset internasional, pemahaman ini juga sejalan. Studi tentang unwanted sexual attention pada perempuan muda menyebut pengalaman pelecehan seksual tidak hanya berupa sentuhan yang tidak diinginkan, tetapi juga komentar seksual, penyebaran gambar bernuansa seksual, rumor seksual, dan tekanan untuk melakukan aktivitas seksual.

Temuan itu penting karena menunjukkan bahwa bagi korban, pengalaman dilecehkan sering kali dimulai dari hal-hal yang oleh pelaku dianggap 'hanya komentar' atau 'cuma bercanda'.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gambaran serupa juga terlihat dalam penelitian tentang kekerasan seksual berbasis teknologi. Bentuk yang paling sering muncul justru bukan kontak fisik, melainkan pesan, komentar, dan gangguan seksual di ruang digital, termasuk media sosial dan pesan pribadi. Ini memperlihatkan bahwa pelecehan seksual hari ini makin sering hadir lewat kata-kata dan interaksi online.

Masalahnya, dampak dari pelecehan verbal atau nonfisik ini bukan sekadar rasa tidak nyaman sesaat. Studi di jurnal Sex Roles juga menemukan, perempuan yang mengalami sexual harassment mengalami penurunan kesejahteraan, kepuasan hidup yang lebih rendah, dan tekanan psikologis yang lebih tinggi dibanding kelompok pembanding.

Pada mahasiswa, dampaknya juga bisa menjalar ke kehidupan akademik. Pelecehan seksual dapat memengaruhi rasa aman, kesehatan mental, relasi sosial, hingga kenyamanan berada di lingkungan kampus. Artinya, meski bentuknya 'hanya omongan', efeknya bisa terasa panjang.

[Gambas:Video CNN]

Kasus yang ramai belakangan ini pada akhirnya mengingatkan bahwa pelecehan tidak selalu tampak ekstrem dari awal. Penting untuk membedakan antara obrolan biasa dan obrolan yang sudah masuk wilayah pelecehan.

Ketika perempuan dibicarakan secara seksual tanpa persetujuan, direndahkan, atau dijadikan objek, itu bukan lagi sekadar candaan. Itu bisa menjadi bentuk pelecehan seksual nonfisik.

Di ruang seperti kampus, yang seharusnya menjadi tempat belajar dan merasa aman, batas ini penting untuk dikenali. Sebab, pelecehan seksual tidak selalu datang dengan bentuk yang kasar atau terang-terangan. Kadang ia justru hadir dalam kalimat yang dianggap biasa, sampai akhirnya terlalu lama dibiarkan.

(anm/asr) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2