Hati-hati, Konsultasi Tarot Bisa Bikin Ketagihan
Fenomena konsultasi tarot kian populer, terutama di tengah masyarakat yang mencari kepastian di tengah ketidakpastian hidup. Namun di balik daya tariknya, praktik ini ternyata menyimpan potensi risiko psikologis, termasuk memicu ketergantungan.
Psikolog dan Direktur Tabula Psychology Center, Arnold Lukito, menjelaskan bahwa secara psikologis, konsultasi tarot memang bisa membuat seseorang 'terjebak' untuk terus kembali.
Menurutnya, mekanisme ini dikenal sebagai variable reinforcement schedule, yakni pola penguatan yang sama seperti pada mesin slot.
"Kadang bacaan tarot terasa sangat akurat (reward), kadang tidak. Justru ketidakterdugaan ini yang membuat otak kita terus kembali," ujarnya kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Ketika keputusan tak lagi datang dari diri sendiri
Lebih dari sekadar kebiasaan, ketergantungan pada tarot juga bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus dan mengkhawatirkan. Arnold menyebutnya sebagai externalization of decision-making, yakni kecenderungan menyerahkan pengambilan keputusan kepada faktor eksternal.
Setiap kali seseorang mengambil keputusan penting berdasarkan tarot atau ramalan, secara tidak langsung ia sedang melatih otaknya untuk tidak mempercayai penilaiannya sendiri.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri dalam menghadapi masalah.
"Ketergantungan bukan sekadar sering konsultasi, tapi ketika seseorang tidak bisa lagi mengambil keputusan sederhana tanpa terlebih dahulu menarik kartu atau meminta ramalan," jelasnya.
Meski demikian, Arnold tidak sepenuhnya melarang praktik konsultasi tarot. Dari perspektif psikologi, ia melihat ada ruang di mana tarot bisa memberikan manfaat, asalkan ditempatkan secara tepat.
Tarot, kata dia, dapat berfungsi sebagai alat refleksi, mirip dengan teknik proyektif dalam psikologi. Dalam konteks ini, kartu bukanlah penentu masa depan, melainkan cermin untuk memahami isi pikiran dan perasaan yang sebenarnya sudah ada dalam diri.
"Yang bekerja sebenarnya bukan kartunya, tapi proses refleksinya," katanya.
Cara menyikapi tarot dengan sehat
Agar tidak terjebak dalam ketergantungan, ada beberapa sikap yang disarankan.
Pertama, kata Arnold ubah cara pandang terhadap tujuan konsultasi. Alih-alih bertanya 'apa yang akan terjadi?', lebih baik mengajukan pertanyaan seperti 'apa yang perlu saya pertimbangkan?'. Perubahan kecil ini membantu menjaga kendali tetap berada di tangan sendiri.
Kedua, penting untuk menjaga batas, baik secara finansial maupun emosional. Jika seseorang merasa harus berkonsultasi setiap akan mengambil keputusan, atau pengeluaran untuk tarot mulai mengganggu kondisi keuangan, hal tersebut bisa menjadi tanda bahaya.
Ketiga, ketika hasil ramalan terasa buruk, penting untuk tidak menganggapnya sebagai vonis.
Dalam psikologi kognitif, keyakinan dapat membentuk perilaku, dan perilaku pada akhirnya memengaruhi hasil. Jika seseorang meyakini bahwa ia akan gagal, maka peluang kegagalan bisa meningkat karena otak cenderung mencari bukti yang menguatkan keyakinan tersebut, fenomena yang dikenal sebagai self-fulfilling prophecy dan confirmation bias.
"Kalau hasilnya buruk, sadari bahwa itu hanya satu interpretasi dari satu orang pada satu momen. Masa depan terlalu kompleks untuk ditentukan oleh 78 kartu," ujar Arnold.
Arnold mengingatkan, manusia memang membutuhkan 'peta' untuk menghadapi ketidakpastian hidup. Namun, peta yang paling akurat bukanlah yang datang dari luar, melainkan yang dibangun dari kesadaran diri, nilai yang diyakini, dan keberanian untuk melangkah meski tanpa kepastian penuh.
"Tarot mungkin bisa menjadi alat bantu sesekali. Tapi kendali atas hidup, tetap seharusnya berada di tangan sendiri," katanya.
(tis/tis)