Tarot dan Manusia yang Selalu Ingin Tahu Nasibnya
Antara ramalan dan refleksi
Seiring waktu, Judith melihat perubahan cara orang memandang tarot. Jika dulu lekat dengan praktik klenik, kini tarot mulai diterima sebagai ruang bercerita, bahkan seperti berbicara dengan teman.
"Sekarang orang lebih terbuka. Tarot itu jadi tempat cari saran, bukan sekadar ramalan," katanya.
Pandangan ini sejalan dengan perspektif psikologi. Psikolog Arnold Lukito menjelaskan bahwa rasa ingin tahu terhadap masa depan adalah bagian dari mekanisme dasar manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Otak manusia pada dasarnya adalah prediction machine. Kita terus membuat prediksi untuk memahami apa yang akan terjadi," ujarnya.
Dalam neuropsikologi, ketidakpastian bahkan dipersepsikan sebagai ancaman oleh otak. Bagian otak bernama amigdala merespons ketidakpastian hampir sama seperti saat menghadapi bahaya fisik.
Tak heran jika manusia cenderung mencari 'petunjuk' untuk meredakan kecemasan, termasuk melalui tarot.
Namun, Arnold mengingatkan, tarot sebaiknya tidak diposisikan sebagai alat prediksi mutlak.
"Tarot bisa berfungsi seperti teknik proyektif dalam psikologi. Kartu menjadi cermin untuk melihat apa yang sebenarnya sudah ada dalam pikiran kita," jelasnya.
Lalu, bagaimana sebaiknya menyikapi tarot?
Arnold menyarankan untuk mengubah cara bertanya. Alih-alih 'apa yang akan terjadi?', lebih sehat jika bertanya, 'apa yang perlu saya pertimbangkan?'
Perbedaan ini, meski tampak kecil, menentukan posisi seseorang, apakah tetap memegang kendali atas hidupnya, atau justru menyerahkannya pada ramalan.
Ia juga mengingatkan soal risiko psikologis jika hasil pembacaan dianggap sebagai vonis.
"Kalau seseorang percaya 'saya akan gagal', itu bisa jadi kenyataan. Bukan karena kartunya, tapi karena pola pikir yang terbentuk," katanya.
Di sinilah tarot menemukan maknanya yang lain, bukan sebagai penentu masa depan, melainkan sebagai alat untuk memahami diri.
Judith pun menutup dengan pesan sederhana.
"Jadikan tarot sebagai penyemangat. Kalau lagi buntu, boleh dengar. Tapi tetap harus berusaha dan berdoa," ujarnya.
Di tengah dunia yang semakin tak pasti, mungkin manusia memang selalu butuh peta. Namun, seperti diingatkan Arnold, peta terbaik bukanlah yang datang dari luar, melainkan yang disusun dari kesadaran diri, nilai hidup, dan keberanian melangkah, bahkan saat arah belum sepenuhnya jelas.
(tis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

