Kemenkes: Satu Kontak Erat Hantavirus MV Hondius di Jakarta Negatif
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan satu warga negara asing (WNA) yang tinggal di Indonesia lalu menjadi kontak erat kasus hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius, dinyatakan negatif.
Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan kontak erat tersebut merupakan laki-laki berusia 60 tahun yang tinggal di wilayah Jakarta Pusat. Ia diketahui bekerja sebagai karyawan swasta di perusahaan asing di Indonesia.
"Laki-laki ini adalah warga negara asing, umur 60 tahun, tinggal di Jakarta Pusat. Kemudian gejala tidak ada. Namun komorbid, hipertensi 10 tahun tidak terkontrol, dan melakukan vaping," kata Andi dalam konferensi pers Kewaspadaan Penyakit Virus Hanta secara daring pada Senin (11/5).
Andi menjelaskan, WNA tersebut merupakan kontak erat dari salah satu kasus konfirmasi di kapal pesiar MV Hondius. Ia sempat berada dalam satu penginapan dan satu penerbangan dengan kasus kedua, yakni perempuan berusia 69 tahun yang kemudian meninggal dunia.
Kemenkes menerima notifikasi dari International Health Regulations National Focal Point (IHR NFP) Inggris pada Kamis (7/5) pukul 21.55 WIB terkait keberadaan satu kontak erat yang berdomisili di Jakarta.
"Kontak erat ini berada dalam satu penerbangan dengan kasus kedua dari St Helena ke Johannesburg, Afrika Selatan, dan ketika turun dari kapal MV Hondius tersebut, mereka tentunya tinggal di hotel dan mereka tinggal juga dalam hotel yang sama," tutur Andi.
Usai menerima notifikasi, Kemenkes melakukan penyelidikan epidemiologi pada Jumat (8/5). Kontak erat itu kemudian dijemput dan dibawa ke RSPI Sulianti Saroso pada Sabtu (9/5), untuk pengambilan spesimen dan pemantauan.
Andi menyebut, pemeriksaan dilakukan terhadap lima spesimen, yakni serum, urine, saliva, usap tenggorokan, dan darah lengkap. Hasil pemeriksaan menunjukkan negatif hantavirus.
"Sekali lagi, kabar baiknya dari orang asing ini bahwa hasil pemeriksaan PCR-nya itu negatif hantavirus," Andi menegaskan.
Berdasarkan kronologi Kemenkes, kontak erat tersebut melakukan perjalanan ke sejumlah wilayah di Argentina pada 18-30 Maret 2026. Ia kemudian tiba di Ushuaia, Argentina, sebelum mengikuti perjalanan kapal pesiar MV Hondius.
Pada 24 April lalu, kontak erat itu turun dari kapal di St Helena dan melanjutkan perjalanan ke Johannesburg, Afrika Selatan. Ia kemudian bepergian ke Zimbabwe pada 26-29 April dan kembali ke Indonesia melalui Qatar pada 30 April.
Saat ini, kontak erat tersebut masih dipantau di RSPI Sulianti Saroso. Andi mengatakan, kondisi WNA tersebut tidak menunjukkan gejala mengkhawatirkan.
"Kondisi pasien sehat. Kalau kita lihat dari foto-foto yang ada maupun video, beliau itu bermain HP, menggunakan HP, dan tidak ada gejala-gejala yang mengkhawatirkan," katanya.
Meski hasil pemeriksaan negatif, Kemenkes memastikan pemantauan lanjutan tetap dilakukan sesuai ketentuan WHO. Pemantauan itu melibatkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta hingga puskesmas setempat.
"Jadi kontak erat yang dimaksud tadi yang warga negara asing itu, akan dilakukan pemantauan aktif sesuai waktu yang telah ditetapkan oleh WHO," kata Andi.
Andi melanjutkan, koordinasi tidak hanya dilakukan dengan laboratorium, tetapi juga dengan dinas kesehatan dan puskesmas. Untuk kontak erat yang tinggal di Jakarta Pusat itu, pemantauan nantinya dilakukan oleh Puskesmas Senen.
"Sudah ada komunikasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta termasuk puskesmas. Jadi nanti puskesmas di wilayah tersebut, saya sebut aja deh, Puskesmas Senen, itu akan melakukan pemantauan secara reguler terhadap kondisi pada pasien tersebut," tuturnya.
Ia menambahkan, pemeriksaan laboratorium akan dilakukan ulang secara berkala untuk memastikan kondisi kontak erat tersebut tetap terpantau.
"Kita akan lakukan pemantauan tersebut dengan melakukan proses pemeriksaan laboratorium nanti berulang lagi untuk setiap dua minggu," kata Andi.
(anm/rti)