Ramai soal Tren 'Date Cancelled' di Media Sosial, Apa Itu?
Dalam beberapa waktu terakhir, media sosial, terutama platform Threads, tengah ramai dengan tren 'date cancelled'. Apa itu 'date cancelled'?
Secara harfiah, date cancelled sendiri bisa berarti 'kencan yang dibatalkan'. Namun, dalam tren ini, pengguna media sosial justru ramai-ramai berbagi alasan kegagalan kencan masing-masing.
Threads pun ramai dengan alasan-alasan orang batal berkencan. Ada yang memberikan alasan serius, ada juga yang membagikan alasan yang justru memicu gelak tawa.
Jadwal kencan umumnya dibatalkan karena hal-hal yang dianggap mengganggu alias bikin ilfeel. Mengutip Wolipop, cara mengetik, sopan santun, hingga perbedaan hobi kerap jadi alasan kencan dibatalkan.
Lucunya, meski terdengar receh, tapi netizen justru merasa alasan-alasan tersebut relate dengan pengalaman sendiri.
Salah satu contoh yang viral adalah cerita seseorang yang membatalkan kencan lantaran lawan bicaranya menyebut iPhone dengan 'ip'. Ada juga yang merasa ilfeel hanya karena lawan bicaranya menulis dengan cara yang salah seperti 'dimana'.
Tren ini memperlihatkan bagaimana media sosial menjadi tempat berbagi pengalaman pribadi dengan cara yang ringan dan menghibur.
Kendati demikian, mengutip Fast Company, tren ini tampaknya bakal cepat meredup secepat kemunculannya. Beberapa netizen telah melontarkan kekesalannya terhadap tren ini.
Salah satu pengguna media sosial menyuarakan, "Date cancelled, karena dia terlalu sering menggunakan tren 'date cancelled'."
Kemunculan komentar di atas memperlihatkan bahwa setiap tren media sosial, dalam batas tertentu, dirasa berlebihan. Orang seolah berburu waktu untuk mengikutinya agar tidak ketinggalan.
Ada banyak hal yang sebenarnya membuat tren di media sosial cepat melonjak hingga dianggap berlebihan. Salah satunya adalah konsep 'herd mentality', yakni saat seseorang menerima perilaku atau ide tertentu hanya karena banyak orang mengikuti hal yang sama.
Hal tersebut menggambarkan bagaimana orang-orang saat ini mencoba meniru perilaku orang lain dalam upaya untuk mencerminkan perilaku yang dianggap 'benar'.
"Kita lebih cenderung percaya bahwa suatu tren itu sah, menarik, atau bermanfaat secara sosial ketika kita menyaksikan teman juga mengikutinya," tulis Psychology Today.
Tak cuma itu, unsur neurokimia juga dinilai berperan dalam membuat tren media sosial cepat diikuti banyak orang. Salah satunya adalah dopamin yang menimbulkan perasaan senang.
Bagi orang yang mengikuti tren, kehadiran 'likes' dan 'comment' bisa memberikan kebahagiaan tersendiri. Media sosial sudah ibarat 'obat' yang dapat mengaktifkan area kebahagiaan di otak.
Dopamin juga bisa didapat oleh orang-orang yang hanya memperhatikan tren tanpa mengikutinya. Sebagaimana tren 'date cancelled', berbagai pengalaman netizen yang ikut berbagi berhasil bikin orang lain tertawa, meski hanya memperhatikannya.
(asr)