Obsessive Love, Saat Cinta Berubah Jadi Obsesi Berbahaya
Obsessive love atau cinta obsesif kerap disalahartikan sebagai bentuk cinta yang sangat besar. Padahal, kondisi ini bisa berubah menjadi hubungan yang tidak sehat, penuh kontrol, bahkan berujung kekerasan emosional maupun fisik.
Dalam hubungan romantis, rasa sayang memang bisa memunculkan keinginan untuk selalu dekat dengan pasangan. Namun pada obsessive love, perasaan tersebut berkembang menjadi obsesi berlebihan hingga seseorang memandang pasangan seperti milik pribadi yang harus selalu diawasi dan dikendalikan.
Melansir Medical News Today, istilah obsessive love disorder sendiri sebenarnya belum diakui secara resmi sebagai gangguan mental dalam dunia medis. Kondisi ini juga belum tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5). Meski begitu, para ahli menilai perilaku cinta obsesif bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan mental tertentu.
Seseorang yang mengalami cinta obsesif umumnya kesulitan mengatur emosi dan membangun hubungan yang sehat. Dalam kasus ekstrem, obsesi terhadap pasangan dapat memicu perilaku manipulatif, ancaman, hingga tindakan kekerasan.
Apa itu obsessive love?
Melansir American Psychological Association, obsessive love merujuk pada kondisi ketika seseorang terlalu terfokus pada orang yang dicintainya hingga menganggap pasangan sebagai objek atau kepemilikan.
Perasaan ini biasanya dibarengi dorongan untuk terus memantau, mengontrol, atau memastikan pasangan tidak meninggalkannya. Penderitanya juga bisa mengalami kecemburuan berlebihan, rasa takut ditinggalkan, hingga keyakinan yang tidak sesuai realitas.
Beberapa orang dengan obsessive love memiliki harga diri rendah dan merasa identitas dirinya bergantung sepenuhnya pada hubungan tersebut.
Perbedaan obsessive love dan cinta yang sehat
Cinta yang sehat umumnya dibangun atas rasa percaya, respek, kenyamanan emosional, dan komitmen. Hubungan yang sehat juga memberi ruang bagi masing-masing individu untuk tetap berkembang sebagai pribadi yang utuh.
Sementara itu, obsessive love lebih berfokus pada kebutuhan diri sendiri. Alih-alih mencintai pasangan sebagai individu yang setara, seseorang dengan cinta obsesif cenderung ingin memiliki dan menguasai pasangan.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan merasa aman dan dipercaya. Sebaliknya, hubungan obsesif sering diwarnai rasa curiga, kontrol berlebihan, serta ketakutan kehilangan yang intens.
Obsesi dalam cinta juga bisa muncul pada hubungan yang sebenarnya tidak ada, misalnya terhadap selebritas atau orang asing. Kondisi ini dikenal sebagai erotomania, yaitu keyakinan delusional bahwa seseorang yang memiliki status sosial lebih tinggi diam-diam mencintainya.
Penyebab obsessive love
Ada banyak faktor yang dapat memicu munculnya cinta obsesif. Melansir Verywellmind, berikut beberapa di antaranya:
1. Gangguan kesehatan mental
Obsessive love dapat berkaitan dengan sejumlah kondisi psikologis, seperti gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder/BPD), depresi, skizofrenia, hingga gangguan delusi.
Orang dengan BPD, misalnya, sering memiliki ketakutan besar terhadap penolakan dan ditinggalkan. Mereka bisa membangun hubungan yang sangat intens dalam waktu singkat, tetapi emosinya mudah berubah drastis.
2. Pola attachment yang tidak sehat
Pengalaman masa kecil juga berpengaruh besar terhadap cara seseorang menjalin hubungan saat dewasa.
Anak yang tumbuh dengan pengasuh yang tidak konsisten, abusif, atau kurang memberi rasa aman berisiko memiliki insecure attachment. Kondisi ini membuat seseorang mudah cemas, takut ditinggalkan, dan sangat bergantung pada pasangan.
3. Trauma dan fear of abandonment
Trauma emosional atau pengalaman kehilangan di masa lalu dapat memunculkan ketakutan ekstrem untuk ditinggalkan.
Akibatnya, seseorang mungkin melakukan berbagai cara agar pasangan tetap bertahan, termasuk mengontrol, mengancam, atau bersikap posesif secara berlebihan.
4. Obsessive-compulsive disorder (OCD)
Pada beberapa kasus, obsessive love juga berkaitan dengan relationship obsessive-compulsive disorder (ROCD), yaitu bentuk OCD yang membuat seseorang terus-menerus meragukan hubungan atau kesetiaan pasangan.
Penderitanya bisa memiliki pikiran obsesif tentang perselingkuhan dan terus mencari kepastian melalui perilaku kompulsif, seperti memeriksa ponsel atau aktivitas pasangan.
5. Pengaruh sosial dan budaya
Lingkungan sosial turut memengaruhi cara seseorang memandang cinta dan hubungan.
Sebagian orang tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta berarti kepemilikan atau pasangan harus selalu menuruti keinginannya sebagai bukti kasih sayang. Pola pikir seperti ini dapat melanggengkan hubungan yang manipulatif dan tidak sehat.
Gejala obsessive love
Gejala cinta obsesif bisa berbeda pada tiap orang, tergantung penyebab yang mendasarinya. Namun secara umum, tanda-tandanya meliputi:
• terlalu terobsesi dengan hubungan meski baru mengenal pasangan dalam waktu singkat,
• cepat merasa 'jatuh cinta' secara intens,
• ingin terus mengontrol pasangan,
• sulit menerima batasan atau penolakan,
• merasa sangat cemburu tanpa alasan jelas,
• memantau aktivitas pasangan secara berlebihan,
• takut ekstrem ditinggalkan,
• mengancam pasangan saat hubungan terancam berakhir,
• memaksa pasangan memenuhi tuntutan yang tidak masuk akal.
(tis/tis)