Menjaga Seni Tailoring di Tengah Gempuran Fast Fashion

CNN Indonesia
Sabtu, 16 Mei 2026 04:40 WIB
Di tengah tren fast fashion, Wong Hang menjaga seni bespoke tailoring yang mengutamakan kualitas, presisi, dan sentuhan personal lintas generasi.
Bespoke Tailoring. (ANTARA/HO-dokumentasi pribadi Samuel Wongso)

Bertahan di tengah perubahan tren fesyen

Industri tailoring sempat mengalami perlambatan ketika tren fesyen bergeser ke gaya kasual dan oversized pada awal 2010-an. Saat itu, suit mulai dianggap terlalu formal dan identik dengan gaya lama.

Namun Wong Hang memilih tetap mempertahankan identitasnya melalui potongan jas klasik bergaya Eropa dan Inggris yang dianggap lebih timeless. Menurut Samuel, tren dapat berubah dalam hitungan tahun, tetapi pakaian dengan potongan presisi akan selalu relevan.

Karena itu, Wong Hang tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga menekankan kualitas material dan teknik jahitan agar suit dapat digunakan dalam jangka panjang dan tetap bisa disesuaikan ketika bentuk tubuh pelanggan berubah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Komitmen tersebut diwujudkan melalui layanan lifetime guarantee untuk setiap suit yang dibuat. Pelanggan dapat melakukan penyesuaian ukuran secara gratis seumur hidup, baik ketika berat badan bertambah maupun berkurang.

Menurut Samuel, penyesuaian tersebut bahkan bisa dilakukan hingga sekitar delapan sentimeter ke atas atau ke bawah tanpa merusak bentuk asli pakaian.

"Layanan tersebut sebetulnya tidak mudah diterapkan karena membutuhkan kualitas bahan, teknik tailoring, dan pola jahitan yang presisi agar pakaian tetap dapat disesuaikan tanpa merusak bentuk aslinya," kata Samuel.

Pendekatan personal itu membuat Wong Hang tetap dipercaya berbagai kalangan, mulai dari profesional, pengusaha, pejabat, hingga figur publik.

Di sisi lain, Wong Hang juga mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk lini bisnis pakaian jadi mereka, Wong Hang Bersaudara (WHB).

Teknologi tersebut memungkinkan pemindaian ukuran tubuh pelanggan secara otomatis yang kemudian langsung terintegrasi ke sistem pembuatan pola. Namun, Samuel menegaskan sentuhan personal tetap menjadi inti layanan bespoke Wong Hang.

Samuel menilai suit sempat mengalami masa ketika pakaian tersebut hanya dianggap cocok untuk pernikahan atau acara formal tertentu. Karena itu, ia memilih membangun pengaruh melalui gaya berpakaian sehari-hari dengan tetap mengenakan suit atau blazer dalam berbagai kesempatan.

Baginya, berpakaian rapi dan sesuai acara juga merupakan bentuk penghormatan kepada orang lain.

"Saya selalu pakai suit wherever I go, ke mana pun. Meeting juga pakai blazer. Waktu itu yang namanya tuxedo, itu belum common di Indonesia," katanya.

Saat itu, mayoritas model suit yang populer masih bergaya Amerika dengan siluet longgar. Wong Hang justru konsisten membawa pendekatan tailoring bergaya Eropa yang lebih presisi dan mengikuti bentuk tubuh.

Meski sempat dianggap berbeda, pendekatan tersebut perlahan diterima dan memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap suit dan bespoke tailoring.

Selain mempertahankan teknik craftsmanship, Wong Hang juga terus mengikuti perkembangan material kain premium dunia. Samuel menyebut Wong Hang menjadi official tailor di Indonesia untuk sejumlah merek kain internasional seperti Loro Piana, Ermenegildo Zegna, Cerruti, hingga Holland & Sherry.

Menurutnya, perkembangan teknologi kain menjadi salah satu pembeda utama antara suit tailoring dan pakaian produksi massal.

"Dari Cerruti waktu itu pertama kali, dia mengeluarkan suit yang waterproof. Jadi kain-kain yang seperti itu, itu adalah pembeda antara kita beli di mal dengan beli di tailor," ujar Samuel.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2