WHO: Risiko Penyebaran Wabah Ebola di Kongo Sangat Tinggi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan risiko penyebaran wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) kini berada pada level sangat tinggi, terutama di wilayah timur negara itu yang tengah dilanda konflik dan krisis kemanusiaan.
Menurut laporan WHO, hingga kini tercatat 82 kasus Ebola terkonfirmasi dengan tujuh kematian di Kongo. WHO juga memperkirakan jumlah sebenarnya jauh lebih besar.
Lembaga tersebut mencatat hampir 750 kasus suspek dan 177 kematian suspek sejak korban pertama dilaporkan meninggal di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, pada 24 April lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wabah Ebola kali ini menyebar di tengah situasi kompleks, mulai dari konflik bersenjata, perpindahan massal warga, fasilitas kesehatan yang kewalahan, hingga maraknya hoaks dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan.
"Risiko penyebaran yang lebih luas benar-benar nyata," kata Direktur Mercy Corps di Kongo, Rose Tchwenko, seperti dikutip The Guardian, Sabtu (23/5).
Rumah sakit di wilayah terdampak juga mulai penuh oleh pasien suspek Ebola. Manajer program darurat organisasi medis Médecins Sans Frontières (MSF), Trish Newport, mengatakan tim medis kesulitan mencari ruang isolasi kosong bagi pasien.
"Setiap fasilitas kesehatan yang mereka hubungi mengatakan, 'Kami penuh dengan kasus suspek. Kami tidak punya ruang lagi,'" ujarnya.
Penyebaran wabah juga diperparah tradisi pemakaman yang melibatkan sentuhan langsung terhadap jenazah, padahal virus Ebola sangat mudah menular melalui cairan tubuh.
Ketegangan bahkan sempat pecah di Rwampara setelah warga membakar pusat perawatan Ebola, karena pihak berwenang menolak menyerahkan jenazah korban untuk dimakamkan keluarga.
Selain itu, masih banyak pula warga yang percaya Ebola hanyalah rekayasa. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyebut relawan kini turun langsung ke rumah-rumah warga untuk memberikan edukasi dan membantu proses pemakaman aman.
"Kepercayaan masyarakat bisa menjadi penentu apakah wabah ini berhasil dikendalikan atau justru menyebar lebih luas," kata perwakilan IFRC, Gabriela Arenas.
Di tengah kondisi tersebut, WHO telah mengirim 22 staf internasional ke wilayah terdampak dan menggelontorkan dana darurat sebesar US$3,9 juta atau setara sekitar Rp69 miliar untuk penanganan wabah.
WHO bersama Africa CDC juga mempercepat pengembangan vaksin dan terapi eksperimental untuk strain Bundibugyo, jenis Ebola yang kini menyebar di Kongo.
Ebola merupakan penyakit virus yang sangat menular dengan tingkat kematian antara 25 hingga 90 persen. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan organ, gangguan pembuluh darah, hingga perdarahan internal maupun eksternal yang parah.
(anm/wiw) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]