Profesi Pendamping Naik Gunung, Naik Daun di Kalangan Gen Z China
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan hidup modern, anak muda di China kini semakin banyak mencari sesuatu yang tak bisa diukur hanya dengan harga atau fungsi. Mereka rela mengeluarkan uang demi pengalaman yang menghadirkan rasa nyaman, bahagia, ditemani, atau sekadar membuat hidup terasa lebih bermakna.
Fenomena ini dikenal dengan istilah qing xu jia zhi atau nilai emosional (emotional value).
Istilah tersebut menjadi kata kunci baru yang menggambarkan cara generasi muda China menghabiskan uang sekaligus mencerminkan kecemasan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu gambaran nyata dari tren ini dapat ditemukan di Gunung Tai, salah satu gunung paling sakral di China yang berada di Provinsi Shandong. Di sana, seorang pria berusia 24 tahun bernama Xiao Meng telah mendaki gunung tersebut hingga 200 kali.
Gunung Tai memiliki lebih dari 7.500 anak tangga batu dan menjulang setinggi 1.545 meter di atas permukaan laut. Selama lebih dari dua ribu tahun, para kaisar China datang ke tempat ini untuk berdoa. Kini, Gunung Tai menjadi destinasi wisata populer sekaligus simbol ketahanan fisik dan mental.
Namun Xiao Meng bukanlah pemandu wisata biasa. Ia bekerja sebagai pei pa atau "pendamping pendakian". Tugasnya bukan hanya menjelaskan sejarah dan lokasi penting sepanjang perjalanan, tetapi juga memberikan dukungan fisik dan emosional kepada para klien.
Ia menyediakan makanan dan minuman, membantu membawa barang bawaan, menemani mengobrol, menyemangati saat kelelahan, bahkan sesekali menggendong pendaki yang sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan.
"Selama klien ingin mendaki, kami menjamin bisa membawa mereka sampai ke puncak," ujar Xiao Meng dikutip dari CNA.
Profesi yang dijalani Xiao Meng merupakan bagian dari ekonomi emosional yang sedang berkembang pesat di China. Dalam ekonomi ini, konsumen tidak lagi membeli produk atau jasa semata karena kegunaannya, tetapi juga karena perasaan yang dihadirkannya, mulai dari kegembiraan, kenyamanan, kebanggaan, hingga rasa ditemani.
Bisnis menjual perasaan
Xiao Meng mulai menjadi pendamping pendakian setelah lulus dari universitas olahraga tahun lalu. Ia mematok tarif sekitar 700 yuan atau setara Rp1,5 juta per hari. Dengan kemampuan fisiknya, ia mampu mencapai puncak Gunung Tai hanya dalam waktu dua jam lebih sedikit, jauh lebih cepat dibanding rata-rata wisatawan yang membutuhkan sekitar enam jam.
Meski pekerjaannya terkadang melelahkan secara emosional, Xiao Meng mengaku merasakan kepuasan tersendiri.
"Ada kalanya saya harus terus menyemangati klien yang sedang merasa terpuruk. Itu cukup menguras energi. Tetapi ketika mereka akhirnya berhasil mencapai puncak dan terlihat sangat bahagia, rasa lelah saya ikut hilang," katanya.
Permintaan terhadap jasa seperti ini terus meningkat. Bahkan, Xiao Meng pernah mengatur pendakian yang melibatkan 24 pendamping untuk menemani dua orang klien yang ingin suasana lebih ramai dan menyenangkan.
Ia juga pernah membawa buket bunga untuk membantu seseorang melamar kekasihnya di puncak gunung. Dalam kesempatan lain, ia diminta membawa timbangan agar seorang klien bisa membandingkan berat badannya sebelum dan sesudah mendaki.
Meski begitu, para pendamping pendakian tetap menjaga batas profesional. Mereka umumnya tidak menerima ajakan bersosialisasi di luar pekerjaan, seperti minum bersama setelah perjalanan selesai.
Popularitas profesi ini meledak dalam beberapa tahun terakhir dan menyebar ke berbagai wilayah China. Kini terdapat kelompok-kelompok khusus di media sosial yang mempertemukan pendamping pendakian dengan calon klien.
(tis/tis)