Capsule Wardrobe dan Ide Keberlanjutan, Bisakah Berjalan Beriringan?

rti | CNN Indonesia
Jumat, 05 Jun 2026 19:00 WIB
Capsule wardrobe mendorong kita untuk berpakaian lebih mindful dan menekan belanja baju baru.
Ilustrasi. Capsule wardrobe mendorong kita untuk berpakaian lebih mindful dan menekan belanja baju baru. Namun apakah konsep ini sejalan dengan gerakan keberlanjutan? (iStockphoto/Tatiana Dyuvbanova)

Namun Founder Lyfe With Less dan Komunitas Bersaling-silang, Cynthia S. Lestari, memiliki caranya sendiri untuk menyiasati biaya mahal menerapkan slow fashion. Ia sendiri berpendapat menerapkan gaya hidup ini tak harus selalu mahal.

"The most sustainable fashion adalah apa yang kita punya sebenarnya di lemari kita. Meskipun itu misalnya di lemari kita brand-nya fast fashion, ya, tapi diperlakukan slow, itu sudah sangat baik," tutur Cynthia kepada CNNIndonesia.com secara terpisah.

Menurutnya, akan sangat kontradiktif jika kita membeli berbagai produk berlabel slow fashion tetapi memperlakukannya seperti fast fashion alias cepat buang dan cepat beli lagi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konsumen harus lebih kritis, gerakan harus lebih masif

Perlu disadari, berbagai gerakan mendukung keberlanjutan di tingkat individu, seperti memperlambat konsumsi melalui slow fashion, bertukar pakaian bekas, hingga menerapkan capsule wardrobe, cenderung tak signifikan dalam mengurangi limbah.

"Itu hampir sama kayak plastik. Menurut orang, [kita harus] kurangi konsumsi plastik, tapi produsennya masih banyak banget, malah makin banyak," kata Wahyu.

Menurutnya, kesadaran akan keberlanjutan semestinya tak hanya muncul di kalangan konsumen, tetapi juga di kalangan produsen.

Namun, melihat sisi terangnya, berbagai gerakan ini efektif untuk membongkar budaya konsumtif yang hiperaktif. Berbagai kampanye gerakan ini bisa membuat konsumen lebih teredukasi dan mengurangi budaya throw away alias sekali pakai langsung buang.

Jika ingin berbagai gerakan mendukung keberlanjutan memiliki signifikansi dalam mengurangi limbah, kuncinya konsumen harus lebih kritis.

"Nah, tapi ini juga harus dibarengi dengan apa? Dengan memaksa korporasi untuk merespons tuntutan mereka dan mereka [korporasi] pun harus berubah," ujar Wahyu.

Misalnya, produsen yang sebelumnya memproduksi barang dengan umur pakai dua tahun, bisa menghasilkan barang dengan umur pakai lima tahun karena tuntutan konsumen.

Selain konsumen harus lebih kritis, Cynthia menambahkan perspektif berbeda. Menurutnya, gerakan-gerakan yang mendukung keberlanjutan ini harus lebih masif. Apalagi dalam melawan stigma tentang barang bekas dan barang yang umurnya sudah lama.

"Karena kita ada di dunia digital nih, yang serba medsos dan lain-lain, menurutku biar kita bisa menjangkau lebih banyak orang, harus lebih banyak yang menggaungkan ini, sih," ujar Cynthia.

Menurutnya, perlu lebih banyak orang yang melakukan berbagai gerakan tersebut dan terlihat di media sosial, sehingga bisa memberikan pengaruh positif ke audiensnya. Ia mencontohkan selebritas Cinta Laura yang menunjukkan gaya berpakaian 'itu-itu saja' saat melakukan kegiatan sebagai pembawa acara.

"Itu mungkin salah satu cara untuk menormalisasi hal ini, bahwa public figure aja itu merasa enggak apa-apa, it's fine to wear it. Jadi outfit repeater tuh sebenarnya fine-fine aja gitu," kata Cynthia.

"Jadi menurut aku, caranya ya harus lebih masif lagi nih, konten-konten, berita-berita, atau orang-orang yang ngomongin soal ini. Biar anak-anak gen Z, millenial, merasa hal ini adalah hal yang normal aja," kata Cynthia lagi.

Jadi, bila kita merefleksikan apakah bisa capsule wardrobe berjalan beriringan dengan keberlanjutan? Jawabannya bisa, tetapi tidak otomatis.

Capsule wardrobe hanya akan benar-benar mendukung gaya hidup keberlanjutan ketika ia menjadi kebiasaan yang mengakar: mindful dalam membeli, realistis terhadap kebutuhan individu, dan konsisten dalam memperpanjang umur pakai.

Dengan kata lain, capsule wardrobe adalah alat. Apakah ia menjadi langkah kecil yang berdampak, atau hanya tren yang lewat, ditentukan oleh kita yang menerapkannya.

(rti/asr) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2