Serangan Jantung Kini Ancam Usia 20-an, Pemeriksaan Dini Makin Penting

CNN Indonesia
Rabu, 03 Jun 2026 20:25 WIB
Ilustrasi. Waspada, penyakit jantung bisa dialami usia muda. (istockphoto/Silver Place)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penyakit jantung selama ini identik dengan usia lanjut. Namun kini, tren tersebut mulai berubah. Dokter menemukan semakin banyak kasus gangguan jantung yang muncul pada usia muda, bahkan di bawah 30 tahun.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik, Teguh Triyono mengatakan penyakit jantung masih menjadi pembunuh nomor satu, baik di Indonesia maupun dunia. Yang mengkhawatirkan, serangan jantung kini juga banyak ditemukan pada kelompok usia 20 hingga 30 tahun.

"Sekarang banyak ditemukan juga pasien-pasien serangan jantung di bawah 30 tahun," kata Teguh dalam keterangannya usai menghadiri LabTalk Indonesia, Powering The Future of Smart Laboratories yang digelar Mindray dan Kementerian Kesehatan beberapa waktu lalu.

Menurutnya, perubahan pola hidup menjadi salah satu faktor utama yang memicu meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular pada usia muda. Kebiasaan kurang bergerak atau sedentary lifestyle, konsumsi makanan cepat saji, hingga minim aktivitas fisik disebut ikut memperburuk kondisi kesehatan pembuluh darah.

"Kalau bahasa kerennya sedentary. Dikit-dikit naik kendaraan, pesan makanan online, aktivitas fisik jadi berkurang," ujarnya.

Teguh menjelaskan, kerusakan pembuluh darah dapat berdampak pada berbagai organ vital. Jika terjadi di otak, risikonya stroke. Bila terjadi di jantung, bisa memicu serangan jantung. Sementara jika mengenai ginjal, dapat menyebabkan gagal ginjal.

Karena itu, pemeriksaan laboratorium dinilai memiliki peran penting untuk mendeteksi risiko penyakit jantung sejak dini, bahkan sebelum gejala muncul.

Salah satu pemeriksaan yang umum dilakukan adalah profil lemak atau lipid profile untuk melihat kadar kolesterol dalam tubuh. Pemeriksaan ini membantu memprediksi risiko penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah.

"Zaman dulu orang sakit jantung itu di atas 40 atau 50 tahun. Sekarang tidak lagi," kata Teguh.

Ia menegaskan, laboratorium tidak hanya berfungsi untuk mendeteksi risiko, tetapi juga membantu proses diagnosis hingga pemantauan pasien setelah menjalani terapi.

"Diagnosis penyakit jantung itu membutuhkan pemeriksaan laboratorium. Setelah terapi pun tetap harus dimonitor lewat hasil lab," ujarnya.

Perkembangan teknologi juga membuat pemeriksaan laboratorium kini semakin canggih. Salah satunya melalui teknologi Total Laboratory Automation (TLA) yang mulai diterapkan di berbagai fasilitas kesehatan modern.

General Manager Mindray Medical Indonesia, Conan Chen menjelaskan sistem TLA memungkinkan integrasi penuh antara perangkat laboratorium, software, kecerdasan buatan (AI), hingga sistem teknologi informasi dalam satu ekosistem.

Menurut Conan, selama ini banyak laboratorium menggunakan perangkat berbeda sehingga integrasi data menjadi tantangan besar. Melalui sistem TLA, proses pemeriksaan dapat berjalan lebih otomatis, cepat, dan efisien.

"Mindray menghadirkan semuanya dalam satu platform yang dikembangkan sendiri, termasuk otomatisasi dan AI," ujar Conan.

Ia juga menyebut teknologi laboratorium kini tak lagi hanya bisa digunakan rumah sakit besar. Dengan sistem yang lebih fleksibel, laboratorium berkapasitas kecil pun mulai dapat bertransformasi menjadi smart lab.

"Kemajuan teknologi laboratorium ini diharapkan dapat membantu deteksi dini penyakit menjadi lebih cepat dan akurat, termasuk untuk penyakit jantung yang kini makin banyak menyerang usia muda," katanya. 

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK