Totebag dan Ilusi Ramah Lingkungan yang Berujung Jadi Sampah

Tiara Sutari | CNN Indonesia
Jumat, 05 Jun 2026 17:45 WIB
totebag berbahan spunbond
Ilustrasi. Semula totebag digunakan sebagai salah satu kampanye ramah lingkungan dan pengurangan penggunaan kantong plastik, tapi kini totebag justru jadi 'limbah' baru yang tak kalah bahaya dari plastik. (istockphoto/FabrikaCr)

Bom waktu sampah tekstil nasional

Akumulasi tas belanjaan yang tak terpakai ini turut memperpanjang daftar hitam krisis limbah tekstil di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sampah tekstil menyumbang sekitar 2,87 persen dari total komposisi sampah nasional, atau diestimasikan mencapai 1,75 juta ton per tahunnya.

Ironisnya, industri tekstil dan garmen di dalam negeri juga tercatat sebagai salah satu sektor paling boros air, mengonsumsi sekitar 93 miliar meter kubik air per tahun, setara 31 kali kapasitas Waduk Jatiluhur.

Ketika totebag spunbond berakhir di TPA atau dibakar oleh masyarakat karena menumpuk, mereka melepaskan gas berbahaya seperti CO2, CO, dan SO2 yang merusak sistem pernapasan dan memperparah pemanasan global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apa solusinya? Apakah kita harus kembali ke kantong kresek hitam zaman dulu?

Jeanny menekankan bahwa kunci utama dari gerakan minim sampah bukan terletak pada bendanya, melainkan pada perubahan gaya hidup dan pola pikir (mindset).

"Dari awal para pelaku gaya hidup minim sampah sudah bilang, yang penting itu bukan bendanya atau bahannya apa, tapi cara kita memakai benda itu. Kalau bendanya diproduksi secara organik dan ramah sosial sekalipun, tapi kalau kita memakainya seperti barang sekali pakai, ya sama juga bohong," tegas Jeanny.

totebag bergambar lucuTotebag bergambar lucu (Foto: iStockphoto/guruXOOX)

Bagi konsumen, langkah terbaik adalah menggunakan kembali (reuse) apa yang sudah ada di rumah hingga benar-benar rusak. Membiasakan diri menyelipkan satu atau dua totebag katun tipis di dalam tas kerja atau jok motor bisa menjadi penyelamat saat ada belanjaan mendadak.

Di sisi lain, pelaku usaha ritel dan UMKM juga dituntut mulai menggeser strategi promosinya. Mengurangi bagi-bagi goodie bag spunbond secara cuma-cuma dan mulai berani meminta konsumen membawa kantong sendiri adalah langkah awal yang krusial.

"Ketika berbisnis, isu ekologi itu harus ditaruh di paling awal, bukan jadi bonus terakhir. Memang ada trade-off seperti kita tidak bisa pamer logo di tas konsumen, tapi demi kelestarian lingkungan, itulah harga yang harus dibayar," pungkas Jeanny.

Bagaimanapun, bumi tidak butuh miliaran orang yang mempraktikkan gaya hidup zero-waste secara sempurna dengan membeli totebag estetik baru. Bumi hanya butuh kita semua memanfaatkan apa yang ada di lemari secara konsisten, agar pahlawan lingkungan ini tidak berakhir menjadi monster baru di TPA.

(tis/asr) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2