Nilai Anak Turun? Ini 6 Hal yang Harus Dilakukan Orang Tua

CNN Indonesia
Selasa, 09 Jun 2026 13:00 WIB
Jangan buru-buru menyalahkan atau memarahi anak ketika nilai mereka jelek. Lantas, apa yang harus orang tua lakukan jika nilai anak turun?
Ilustrasi. Jangan buru-buru menyalahkan atau memarahi anak ketika nilai mereka jelek. Lantas, apa yang harus orang tua lakukan jika nilai anak turun? (iStockphoto/damircudic)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Turunnya nilai akademis anak seringkali membuat orang tua khawatir. Terlebih jika sebelumnya anak memiliki nilai atau prestasi yang baik.

Akan tetapi, orang tua tidak perlu buru-buru bersikap menyalahkan anak atau memarahi mereka. Sebab, ada banyak faktor yang membuat nilai pelajaran anak di sekolah jelek. Lantas, apa yang harus orang tua lakukan jika nilai anak turun?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orang tua perlu memahami bahwa anak juga dapat mengalami hambatan di sekolah. Penurunan nilai anak juga bukan selalu tanda mereka malas.

Bisa saja anak sedang mengalami kesulitan mata pelajaran tertentu, kelelahan, atau sempat kehilangan motivasi. Hal tersebut mungkin sulit anak sampaikan kepada orang tua.

Untuk itu, orang tua justru perlu mencari tahu akar masalahnya dan fokus pada kiat yang harus dilakukan ketimbang memberikan hukuman. Dengan begitu, anak dapat lebih terbantu dan kembali meningkatkan nilai di kemudian hari.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua ketika nilai atau prestasi akademis anak di sekolah turun.


1. Tenang dan tanyakan penyebabnya

Mengutip Cleveland Clinic, nilai atau prestasi menurun bukan lantas menjadi alasan untuk langsung memarahi anak. Sebaliknya, orang tua perlu menghadapinya dengan tenang agar anak merasa nyaman untuk bercerita.

Orang tua bisa menanyakan kepada anak apa yang terjadi, mendengarkan penjelasannya, kemudian mencari solusi bersama.

"Mencari tahu penyebab di balik hasil yang kurang baik akan membantu Anda mengatasinya dengan lebih tepat," ujar dokter anak Courtney Nolan.


2. Bangun komunikasi dengan guru

Guru menjadi sosok yang paling memahami perkembangan anak di sekolah. Jika nilai anak mulai menurun, jangan ragu untuk berdiskusi dengan guru atau wali kelas untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai kondisi anak di kelas hingga kendala yang mungkin mereka tengah hadapi.

"Pendekatan ini merupakan upaya bersama untuk membantu anak," saran Dr. Nolan.

3. Bantu anak dalam belajar dan mencapai target realistis

Orang tua dapat membantu membangun kebiasaan belajar anak. Misalnya dengan membuat jadwal belajar yang teratur, menyediakan tempat belajar yang nyaman, mengurangi distraksi dari paparan gadget, serta memastikan keseimbangan belajar, istirahat, dan aktivitas anak.

Selain itu, ajak anak menetapkan target akademis yang realistis. Jangan lupa untuk memberi apresiasi atas setiap kemajuan yang dicapai.

"Jangan membuatnya terlalu rumit. Terkadang, hasil terbaik justru datang dari langkah-langkah yang paling sederhana," ujar Nolan.


4. Pantau berkala perkembangan belajar anak

Jangan tunggu rapor ujian akhir keluar untuk mengetahui kondisi akademis anak. Orang tua sebaiknya rutin memantau nilai tugas, tes, dan perkembangan belajar lainnya.

Cara ini dapat membantu orang tua lebih memahami anak dan mendeteksi lebih dini ketika mereka menghadapi kesulitan.

"Cobalah mengantisipasi masalah sebelum menjadi lebih besar," kata Nolan.


5. Hindari menekan anak berlebihan

Concern terhadap prestasi akademis anak memang penting, tetapi jangan sampai menjadi idealisme orang tua sehingga menekan anak.

Terlalu fokus pada nilai dan ranking justru dapat membuat anak stres, kehilangan semangat belajar, bahkan mengganggu kesehatan atau memicu masalah serius lainnya.

6. Terima sebagai bagian dari proses belajar

Nilai yang buruk memang mengecewakan, tetapi orang tua perlu memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar anak.

Dengan sikap yang penuh pengertian dapat membuat anak lebih berani mengakui kesalahan dan belajar dari pengalaman tersebut.

Ditambahkan dari laman Parents, psikolog klinis Emily Edlynn menjelaskan bahwa keterampilan sosial justru memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kesuksesan profesional saat dewasa dibandingkan nilai akademis semata.

"Keterampilan sosial yang kuat terbukti lebih berkaitan dengan kesuksesan profesional di masa dewasa dibandingkan sekadar nilai," ujarnya.

Karena itu, saat anak mendapat nilai buruk, orang tua dapat fokus pada apa yang bisa dipelajari dari pengalaman tersebut. Alih-alih menjadikannya sebagai tolok ukur kecerdasan atau penentu mutlak masa depan anak.

Demikian beberapa hal yang harus dilakukan orang tua jika nilai anak turun.

(fef) Add as a preferred
source on Google