Tiap Tahun 1,7 Juta Anak RI Alami Alergi, Salah Satu Dipicu Susu Sapi

CNN Indonesia
Kamis, 11 Jun 2026 20:00 WIB
Ilustrasi. Setiap tahun sekitar 1,7 juta anak Indonesia mengalami alergi. Salah satu yang banyak menjadi perhatian adalah alergi susu sapi. (istockphoto/LP7)
Jakarta, CNN Indonesia --

Alergi pada anak bukan sekadar ruam merah atau gatal-gatal yang muncul sesekali. Jika tidak dikenali dan ditangani dengan tepat, alergi bisa mengganggu kualitas hidup anak, bahkan berisiko memengaruhi tumbuh kembangnya.

Dokter sekaligus peneliti, Ray Wagiu Basrowi, menyampaikan setiap tahun sekitar 1,7 juta anak Indonesia mengalami alergi. Salah satu yang banyak menjadi perhatian adalah alergi susu sapi.

"Angkanya 7,5 persen. Anak Indonesia jumlahnya di atas 50 juta, bayangin berapa banyak itu dan ini bertambah setiap tahun," kata Ray dalam acara jelang World Allergy Week 2026 bersama Sarihusada, Jakarta, Kamis (11/6).

Angka itu menunjukkan alergi pada anak bukan keluhan kecil yang bisa diabaikan. Terlebih, gejalanya bisa muncul dalam bentuk yang berbeda-beda, mulai dari kulit, saluran cerna, hingga saluran napas.

Hal senada disampaikan Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, Molly Dumakuri Oktarina. Ia mengatakan angka kejadian alergi terus meningkat, baik di dunia maupun di Indonesia.

Menurut Molly, sekitar 30-50 persen orang mengalami sensitisasi terhadap alergen. Alergen adalah zat atau bahan yang dapat memicu reaksi alergi pada tubuh.

"Kemudian bisa dilihat, sekitar 8 persen mengalami alergi pada makanan. Khususnya alergi susu sapi, angka kejadiannya sekitar 2-7,5 persen di Indonesia," kata Molly dalam kesempatan sama.

Pada anak usia sekolah, Molly menyebut sekitar 40-50 persen mengalami sensitisasi terhadap alergen. Artinya, tubuh anak sudah mengenali zat tertentu sebagai pemicu reaksi alergi, meski gejala yang muncul bisa berbeda pada setiap anak.


Penyebab alergi pada anak

Alergi pada anak dapat dipengaruhi beberapa faktor. Ray menjelaskan faktor genetik menjadi salah satu penyebab yang perlu diperhatikan. Anak dengan riwayat alergi dalam keluarga memiliki risiko lebih besar mengalami alergi.

Paparan terhadap bahan pemicu alergi juga berperan. Faktor lingkungan seperti asap rokok, polusi udara, cuaca, dan infeksi dapat memperparah gejala alergi, terutama pada saluran napas.

Kemudian, Ray juga menekankan bahwa alergi kini menjadi salah satu beban kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan. Sebab, jumlah kasus terus bertambah dan dampaknya tidak hanya dirasakan anak, tetapi juga keluarga.

"Ini yang kita bilang sebagai salah satu yang bikin public health burden di Indonesia. Beban untuk masalah kesehatan kita sebenarnya," kata Ray.


Orang tua perlu lebih peka

Molly mengatakan peningkatan kasus alergi membuat kesadaran orang tua menjadi penting. Semakin cepat alergi dikenali, semakin besar peluang anak mendapat tata laksana yang sesuai.

Alergi susu sapi juga tidak berarti anak harus dibiarkan tanpa asupan bergizi. Orang tua perlu mengetahui pemicunya serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar dapat memberikan nutrisi yang tepat, khususnya bagi anak yang memiliki alergi.

Dengan pengenalan gejala yang tepat dan penanganan sesuai, risiko gangguan tumbuh kembang akibat alergi dapat ditekan.

(anm/fef)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK