Hari-hari Berjalan Biasa, Tapi Hidup Terasa Berat? Ini Kata Psikolog

CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 15:15 WIB
Pekerja melintasi pelican crossing saat jam pulang kerja di kawasan Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, Senin (5/5/2025). (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Ilustrasi. Beberapa orang mengalami hidup yang terasa berat meski sebenarnya hari-hari berjalan biasa dan baik-baik saja. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)

Paparan berita negatif juga bisa memperkuat rasa takut. Arnold menyebut ada negativity bias, yaitu kecenderungan otak lebih peka terhadap hal buruk dibanding hal baik.

Riset Baumeister berjudul 'Bad Is Stronger Than Good' menjelaskan bahwa hal buruk memang cenderung lebih kuat ditangkap otak. Secara evolusi, manusia perlu cepat menangkap ancaman agar bisa bertahan hidup.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalahnya, di era media sosial, ancaman itu bisa muncul terus-menerus lewat layar ponsel. Doomscrolling atau kebiasaan menggulir berita buruk membuat otak merasa dunia lebih berbahaya.

"Satu konten video berita buruk akan mengalahkan ratusan hari aman yang tidak kita rekam di pikiran," kata Arnold.

Kapan perlu waspada?

Lelah biasa umumnya membaik setelah istirahat. Tidur cukup, libur, atau mengambil jeda bisa membantu tubuh kembali pulih.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika istirahat tidak lagi membantu. Sudah tidur cukup, tetapi bangun tetap lelah. Akhir pekan berlalu, tetapi Senin tetap terasa sangat berat.

Stres kronis atau burnout sendiri bisa ditandai dengan kelelahan emosional, sulit tidur, mudah sakit, otot tegang, sulit konsentrasi, gampang marah, merasa kosong, menarik diri, atau tidak lagi peduli pada hal yang dulu penting.

Jika kondisi ini menetap selama berminggu-minggu dan mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional bisa menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan.

(anm/asr) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2