PEKAN ALERGI SEDUNIA

Orang Tua Punya Alergi, Apakah Anak Pasti Mengalaminya?

CNN Indonesia
Senin, 22 Jun 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Jenis alergi tidak diturunkan orang tua ke anak. (Stock/damircudic)
Jakarta, CNN Indonesia --

Banyak orang tua khawatir alergi yang mereka miliki akan otomatis diturunkan kepada anak. Misalnya, ibu memiliki asma atau ayah alergi debu, lalu anak dianggap pasti mengalami kondisi yang sama.

Padahal, alergi tidak diturunkan sesederhana itu. Anak memang memiliki risiko lebih tinggi mengalami alergi jika orang tua atau saudara kandung memiliki riwayat serupa. Namun, jenis alergi yang muncul belum tentu sama, bahkan anak dari orang tua alergi tidak selalu akan mengalami alergi.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi-Imunologi, Molly Dumakuri Oktarina, mengatakan riwayat alergi dalam keluarga merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko alergi pada anak.

"Kalau salah satu orang tua, baik ibu ataupun ayah, dan/atau salah satu saudara kandung sudah didiagnosis mengalami alergi, maka anak berisiko memiliki gejala alergi sekitar 20-40 persen," kata Molly dalam acara menjelang World Allergy Week 2026 bersama Sarihusada di Jakarta, Kamis (11/6).

Menurut Molly, risiko tersebut meningkat menjadi sekitar 40-60 persen jika ayah dan ibu sama-sama memiliki riwayat alergi. Bahkan, jika kedua orang tua mengalami jenis alergi yang sama, peluang anak mengalami alergi bisa lebih tinggi lagi.

"Kalau gejala pada ibu dan bapaknya sama, misalnya ibunya asma dan bapaknya asma juga, maka risiko anaknya bisa sampai 80 persen," ujarnya.

Meski demikian, anak yang lahir dari orang tua tanpa riwayat alergi tetap dapat mengalami alergi. Molly menyebut risikonya sekitar 5 persen.

Yang diturunkan bukan jenis alerginya

Kecenderungan tubuh untuk lebih mudah mengalami reaksi alergi dikenal dengan istilah atopi. Kondisi inilah yang umumnya diwariskan dalam keluarga, bukan jenis alergi tertentu.

Artinya, ibu yang alergi makanan laut tidak otomatis memiliki anak dengan alergi makanan laut. Begitu pula ayah yang menderita asma tidak serta-merta membuat anak mengalami asma.

Yang lebih mungkin diwariskan adalah kecenderungan sistem imun untuk bereaksi berlebihan terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik memang berperan dalam munculnya penyakit alergi. Risiko alergi akan meningkat apabila salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat alergi. Namun, jenis alergi yang muncul, kapan gejalanya timbul, serta tingkat keparahannya tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.

Alergi muncul saat ada pemicu

Molly menjelaskan bahwa gejala alergi umumnya muncul ketika dua faktor bertemu. Pertama, anak memiliki kecenderungan atau risiko alergi. Kedua, anak terpapar alergen atau zat yang memicu reaksi alergi.

"Gejala alergi itu timbul apabila ada dua faktor. Yang satu adalah riwayat, jadi anak sudah memiliki riwayat atau risiko alergi. Yang kedua adalah terpajan alergen. Kalau dua-duanya ada, maka timbul gejala alergi," jelasnya.

Alergen dapat berbeda pada setiap anak. Pemicunya bisa berupa protein susu sapi, telur, kacang-kacangan, makanan laut, debu, tungau, serbuk sari, hingga bulu hewan.

Karena itu, orang tua tidak disarankan menebak penyebab alergi anak hanya berdasarkan riwayat keluarga. Pemeriksaan oleh dokter tetap diperlukan untuk memastikan apakah gejala yang muncul benar merupakan alergi dan untuk mengetahui pemicu utamanya.

Selain faktor genetik dan paparan alergen, lingkungan turut memengaruhi risiko alergi pada anak. Salah satu aspek yang berperan adalah pemenuhan nutrisi sejak awal kehidupan.

Molly menjelaskan bahwa pemberian ASI pada masa awal kehidupan dapat menjadi salah satu upaya yang membantu menurunkan risiko alergi. Selain itu, faktor seperti metode persalinan juga dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota baik di dalam tubuh anak.

"Mikrobiota baik itu bisa mempercepat atau membantu pematangan sistem imun, sehingga dapat mencegah kejadian alergi pada anak," katanya.

Risiko alergi pada anak tidak hanya ditentukan oleh faktor keturunan. Lingkungan, paparan alergen, kesehatan saluran cerna, pola makan, pemberian ASI, hingga kondisi kulit juga berperan dalam membentuk respons imun anak.

Karena itu, orang tua yang memiliki riwayat alergi tidak perlu langsung berasumsi bahwa anak pasti akan mengalami kondisi yang sama. Yang lebih penting adalah mengenali gejala sejak dini, memperhatikan pola kemunculannya, dan berkonsultasi dengan dokter apabila anak menunjukkan tanda-tanda alergi yang berulang.

(anm/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK