7 Kalimat Ini Bikin Rasa Percaya Diri Anak Turun, Pantang Diucapkan!
Rasa percaya diri anak tidak tumbuh begitu saja, tetapi dibangun sedikit demi sedikit dari pengalaman dan lingkungan terdekatnya. Salah satu faktor terbesar yang memengaruhinya, yakni cara orang tua berbicara kepada anak setiap hari.
Tanpa sadar, ada banyak kalimat yang terdengar sepele terlontar dari mulut orang tua, tetapi justru bisa menurunkan rasa percaya diri anak.
Jika diucapkan berulang kali, kalimat seperti ini dapat membuat anak merasa tidak cukup baik, tidak mampu, bahkan takut mencoba hal baru.
Kalimat sepele yang bikin percaya diri anak turun
Penting bagi orang tua untuk menyaring kembali ucapannya terhadap anak yang sedang tumbuh kembang. Supaya rasa percaya diri anak tetap terjaga, sebaiknya hindari kalimat-kalimat berikut ini:
1. "Kamu tidak akan pernah berhasil"
Kalimat ini termasuk ucapan yang sangat merusak karena memberi label mutlak pada anak. Kata-kata seperti "tidak pernah" atau "selalu" cenderung membuat anak merasa usahanya sia-sia.
Akibatnya, percaya diri anak bisa turun drastis karena ia menganggap dirinya memang tidak mampu. Sebaiknya, fokuslah pada perilaku yang perlu diperbaiki, bukan menyerang harga dirinya.
2. "Kenapa kamu melakukan itu?"
Sekilas terdengar seperti pertanyaan biasa, tetapi kata 'kenapa' sering membuat anak jadi defensif. Anak bisa merasa dihakimi dan akhirnya menutup diri.
Menurut psikolog anak, Caroline Danda, anak-anak sering kali sudah tahu terlebih dahulu bahwa mereka membuat pilihan buruk.
"Bertanya 'kenapa' dapat menyebabkan rasa malu dan menginternalisasi bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri mereka. Katakan saja, 'Bantu saya memahami apa yang terjadi' atau 'Jelaskan bagaimana kamu membuat pilihan ini,'" ujar Danda, dilansir Parade.
3. "Sini, biar Ayah/Ibu saja yang kerjakan"
Ucapan ini sering keluar saat orang tua terburu-buru. Padahal, kalimat sepele seperti ini bisa membuat anak merasa tidak cakap.
Jika terlalu sering mendengarnya, anak akan ragu pada kemampuannya sendiri. Lebih baik beri kesempatan anak mencoba, lalu bantu pada bagian yang memang sulit.
4. "Mengapa kamu tidak bisa seperti kakakmu/temanmu?"
Membandingkan anak dengan saudara atau temannya bukanlah motivasi yang sehat. Menurut Times of India, hal ini justru dapat menumbuhkan rasa iri, kecewa, dan rendah diri.
Anak akan menangkap pesan bahwa dirinya kurang berharga. Untuk menjaga percaya diri anak, hargai keunikan dan kelebihan yang ia miliki.
5. "Kamu terlalu sensitif" atau "Sudah, jangan nangis"
Banyak orang tua mengucapkannya untuk meredakan situasi. Namun, kalimat ini justru mengabaikan emosi anak.
Anak bisa mengira perasaannya salah atau memalukan. Dalam jangka panjang, ia menjadi ragu mengekspresikan diri. Sebaiknya, validasi emosinya dengan lembut, misalnya, "Ibu tahu kamu sedang sedih, yuk cerita."
6. "Ah, itu kan bukan masalah besar"
Bagi orang tua, masalah anak mungkin terlihat kecil. Namun, bagi anak, itu bisa terasa besar dan menakutkan. Saat perasaannya diremehkan, anak merasa tidak dipahami.
"Misalnya, mengatakan sesuatu seperti 'Ini tidak menakutkan' kepada anak yang cemas tentang sesuatu, memperkuat anggapan bahwa perasaan mereka tidak valid," kata terapis Jill DiPietro, seperti dikutip dari laman Tinybeans.
Tips dari DiPietro, orang tua perlu memahami emosi anak, lalu berikan dukungan secara emosional dan menemani anak menghadapi ketakutannya.
7. "Kamu memang kurang usaha"
Kalimat ini sering dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi hasilnya justru sebaliknya. Anak bisa merasa usaha terbaiknya tetap tidak pernah cukup.
Lama-kelamaan, ia kehilangan semangat dan meragukan kemampuannya sendiri. Daripada menghakimi, bantu anak mengevaluasi apa yang bisa diperbaiki di upaya berikutnya.
Menjaga rasa percaya diri anak tidak selalu membutuhkan tindakan besar, tetapi bisa dimulai dari memilih ucapan yang tepat setiap hari.
Banyak kalimat sepele yang terdengar biasa ternyata menyimpan dampak besar bagi perkembangan mental anak. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih peka agar tidak asal berbicara saat emosi.
(rti)