GLP-1 RA Oral untuk Obesitas, Apa Bedanya Dibanding Injeksi?
Lalu, bagaimana caranya agar obat oral ini bisa bertahan di saluran cerna dan efektivitasnya tetap setara dengan injeksi? Riyanni menjelaskan, ada penggunaan SNEC (sodium N-(8-[2-hydroxybenzoyl]amino)caprylate) dalam pembuatan obat GLP-1 RA oral.
"Fungsinya adalah untuk meredakan pH dan kondisi di saluran cerna, sehingga produk tersebut tidak mudah tercerna dan bisa mudah dengan jumlah yang sama terserap di dalam pembuluh darah," Riyanny menjelaskan.
Menurutnya, teknologi inilah yang membuat efektivitas obat oral setara dengan injeksi dan molekulnya tak mudah rusak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun terkait pemberian, biasanya GLP-1 RA injeksi biasanya diberikan seminggu sekali, sedangkan obat oral diminum satu kali setiap hari. Namun tentunya penggunaannya harus tetap berdasarkan anjuran dokter.
Terkait keamanan dan efek samping, baik GLP-1 RA versi injeksi maupun oral hampir memiliki profil yang sama.
"Kalau kita bicara safety profile, karena molekulnya adalah molekul yang sama dengan teknologi penghantaran yang berbeda, maka efek sampingnya kurang lebih juga similar. Jadi memang yang membedakan hanya metodologi penghantaran," kata Riyanny.
Bagaimana potensi GLP-1 RA oral masuk di Indonesia?
Meski di AS obat GLP-1 RA versi oral sudah disetujui dan bisa digunakan sejak awal 2026, di Indonesia obat ini masih belum bisa diakses.
Riyanny mengatakan, Novo Nordisk Indonesia sendiri sedang berproses. Pihaknya sedang melakukan asesmen apakah ada kebutuhan akan obat oral untuk pasien obesitas di Indonesia.
"Kami membutuhkan persiapan data dan lain sebagainya untuk diajukan ke badan terkait, untuk evaluasi dan lain sebagainya, sampai akhirnya tersedia," kata Riyanni.
Terkait harga, Riyanny mengatakan pihaknya akan mengikuti kebijakan global. Adapun di AS, seperti diberitakan sebelumnya, harga obat oral ini ditawarkan dengan harga bervariasi.
Mulai dari US$149 atau setara Rp2,4 juta per bulan untuk dosis 1,5 mg dan 4 mg, hingga US$299 atau setara Rp5 juta per bulan untuk dosis 9 mg dan 25 mg.
"Tapi kami mengupayakan, sebagus-bagusnya obat adalah obat yang tersedia dan terakses. Jadi, tentu inovasi sebisa mungkin kita akan bawa ke Indonesia," ucap Riyanny.
(rti) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
