5 Kebiasaan yang Bisa Membantu Anak Lebih Anteng Seperti Kamari
Belakangan, Kamari Sky Wassink menjadi perbincangan di media sosial setelah terlihat anteng dan tenang saat mengikuti prosesi entrance dalam pernikahan ibunya, Jennifer Coppen, dengan Justin Hubner.
Sikap Kamari yang tenang di usia 2 tahun sontak mencuri perhatian publik. Namun, anak yang terlihat tenang sebenarnya tidak bisa dijelaskan hanya dari satu faktor.
Di sisi lain, tantrum pada balita tetap merupakan bagian normal dari perkembangan emosi karena anak belum sepenuhnya mampu mengelola rasa kecewa, lapar, lelah, atau tidak nyaman seperti orang dewasa.
Meski demikian, pola makan dan rutinitas harian dapat membantu anak belajar mengenali serta mengatur emosinya. Berikut beberapa kebiasaan yang dapat mendukung anak tumbuh lebih tenang:
1. Hindari gula tambahan sebelum usia 2 tahun
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tidak mengonsumsi gula tambahan. Alasannya bukan semata-mata agar anak lebih tenang, melainkan karena kebutuhan gizi mereka sangat tinggi, sementara kapasitas asupan kalorinya masih terbatas.
Sejumlah penelitian yang dipublikasikan di PubMed juga menunjukkan bahwa konsumsi gula bebas dalam jumlah tinggi pada balita berkaitan dengan masalah tidur, gejala ADHD, dan kecemasan. Kondisi seperti kurang tidur atau mudah gelisah dapat memengaruhi kemampuan anak mengatur emosi, meski gula tidak disebut sebagai penyebab langsung tantrum.
2. Utamakan real food dan batasi makanan ultra-proses
Real food adalah makanan yang masih mendekati bentuk aslinya dan minim proses pengolahan. Contohnya nasi, kentang, ubi, telur, ikan, ayam, tahu, tempe, sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan yang disesuaikan dengan usia anak.
Jenis makanan ini membantu anak memperoleh nutrisi yang lebih utuh sekaligus mengenal rasa alami berbagai bahan pangan. Sebaliknya, makanan ultra-proses seperti camilan kemasan, minuman manis, sereal manis, makanan cepat saji, atau produk instan tertentu umumnya mengandung gula, garam, lemak, pewarna, dan perisa dalam jumlah tinggi.
Penelitian yang dimuat dalam JAMA Network Open menemukan adanya kaitan antara konsumsi makanan ultra-proses pada usia 3 tahun dengan perilaku anak saat berusia 5 tahun. Karena itu, membatasi makanan ultra-proses sejak dini bukan hanya penting untuk menjaga berat badan atau kesehatan gigi, tetapi juga mendukung pola makan yang lebih baik secara keseluruhan.
3. Jaga jadwal makan dan tidur
Anak cenderung lebih mudah rewel atau tantrum saat lapar, kelelahan, atau menerima terlalu banyak rangsangan. Tidak jarang, perilaku yang terlihat sebagai "rewel" sebenarnya merupakan sinyal bahwa tubuh anak membutuhkan makan, istirahat, atau suasana yang lebih tenang.
Karena itu, jadwal makan dan tidur yang relatif konsisten penting untuk membantu anak merasa aman dan nyaman. Anak biasanya lebih mudah mengikuti ritme harian ketika mengetahui kapan waktunya makan, tidur, bermain, mandi, atau berhenti menggunakan gawai.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pola tidur malam pada anak prasekolah berkaitan dengan sejumlah faktor gaya hidup, termasuk pola makan tinggi makanan olahan dan cepat saji sejak usia 2 tahun. Temuan ini memperlihatkan bahwa pola makan dan kualitas tidur saling memengaruhi dalam keseharian anak.
4. Bangun rutinitas yang mudah diprediksi
Anak-anak umumnya merasa lebih nyaman ketika mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Rutinitas sederhana seperti bangun pagi, sarapan, bermain, tidur siang, makan malam, lalu tidur malam pada jam yang relatif sama dapat membantu mereka memahami alur aktivitas sehari-hari.
Penelitian dalam Routines and Child Development menunjukkan bahwa rutinitas keluarga berkaitan dengan berbagai hasil positif pada anak, mulai dari kemampuan mengatur diri, perkembangan sosial-emosional, prestasi akademik, hingga kesehatan mental dan fisik.
Rutinitas tidak harus dijalankan secara kaku. Yang terpenting, anak memiliki pola yang cukup stabil sehingga tidak terus-menerus menghadapi perubahan mendadak yang dapat memicu stres atau ketidaknyamanan.
5. Hadapi tantrum dengan respons yang tenang
Pola makan sehat dan tidur yang cukup tidak membuat anak sepenuhnya bebas dari tantrum. Saat tantrum terjadi, respons orang tua justru menjadi salah satu faktor penting yang membantu anak belajar memahami emosinya.
Anak belajar mengelola emosi dari cara orang tua merespons situasi sulit. Ketika orang tua ikut berteriak, mengancam, atau mempermalukan anak, ledakan emosi bisa semakin besar. Sebaliknya, respons yang tenang dapat membantu anak merasa lebih aman dan perlahan belajar menenangkan diri.
Anak yang lebih tenang bukanlah hasil dari satu aturan tunggal. Tidak cukup hanya dengan menghindari gula atau menerapkan pola makan real food. Fondasi regulasi emosi dibangun dari berbagai kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, mulai dari asupan bernutrisi, tidur yang cukup, rutinitas yang teratur, hingga cara orang tua mendampingi anak menghadapi emosinya setiap hari.
(anm/tis)