Dampak Anak Terlalu Dikekang, Bisa Terbawa hingga Dewasa
CNN Indonesia
Rabu, 08 Jul 2026 19:45 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Ilustras. Pola asuh otoriter bisa membuat anak terluka secara batin. (iStockphoto/gahsoon)
Jakarta, CNN Indonesia --
Orang tua tentu ingin yang terbaik bagi anak. Keinginan untuk melindungi, mendisiplinkan, dan mengarahkan anak agar tumbuh menjadi pribadi yang sukses sering kali membuat sebagian orang tua menerapkan aturan yang ketat di rumah.
Namun, ketika kontrol yang diberikan terlalu besar dan ruang bagi anak untuk berpendapat, bereksplorasi, atau mengekspresikan perasaan menjadi sangat terbatas, dampaknya bisa bertahan hingga anak beranjak dewasa.
Dalam psikologi perkembangan, pola asuh yang terlalu ketat atau mengekang dikenal sebagai authoritarian parenting. Pola asuh ini ditandai dengan kontrol yang tinggi, tuntutan yang besar, tetapi minim kehangatan emosional dan komunikasi dua arah.
Melansir Freudly, psikolog perkembangan Diana Baumrind mengelompokkan pola asuh ini sebagai gaya pengasuhan yang mengutamakan kepatuhan mutlak. Anak dituntut mengikuti aturan tanpa banyak ruang untuk bertanya atau berdiskusi.
Padahal, para ahli menegaskan bahwa disiplin bukanlah hal yang buruk. Struktur dan aturan justru penting untuk membantu anak tumbuh dengan sehat. Masalah muncul ketika kontrol lebih dominan dibandingkan dukungan emosional dan rasa aman yang dibutuhkan anak.
Lalu, apa saja dampak yang bisa muncul jika anak terlalu dikekang? Berikut penjelasannya, melansir Medicinet:
1. Kepercayaan diri rendah
Anak yang tumbuh di bawah pengawasan dan kritik yang berlebihan cenderung meragukan kemampuan dirinya sendiri. Mereka terbiasa mengandalkan penilaian orang tua sehingga kesulitan mempercayai keputusan yang dibuat sendiri.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa anak dari orang tua yang sangat otoriter memiliki tingkat harga diri yang lebih rendah dibandingkan anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang lebih hangat dan suportif.
Saat dewasa, kondisi ini dapat muncul dalam bentuk rasa tidak percaya diri, takut mencoba hal baru, atau selalu membutuhkan validasi dari orang lain.
2. Takut melakukan kesalahan
Banyak anak yang dibesarkan dengan aturan sangat ketat tumbuh menjadi pribadi yang perfeksionis. Mereka merasa kesalahan adalah sesuatu yang harus dihindari karena sering dikaitkan dengan hukuman atau kritik.
Akibatnya, kesalahan kecil pun bisa memicu kecemasan berlebihan. Mereka menjadi sangat berhati-hati, takut gagal, dan khawatir mengecewakan orang lain.
Baca kelanjutannya dampak anak terlalu dikekang di halaman berikutnya..
3. Lebih rentan mengalami depresi dan kecemasan
Lingkungan yang penuh kritik dan minim dukungan emosional dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental.
Anak yang terbiasa mendengar bahwa perasaannya tidak penting atau selalu dianggap salah berpotensi mengalami kecemasan dan depresi ketika dewasa. Mereka juga cenderung kesulitan mengenali serta mengelola emosi secara sehat.
4. Sulit mengungkapkan perasaan
Dalam keluarga yang sangat mengekang, anak sering kali belajar untuk memendam emosi demi menghindari konflik atau hukuman.
Kebiasaan ini dapat terbawa hingga dewasa. Mereka kesulitan menyampaikan kebutuhan, mengungkapkan ketidaksetujuan, atau membicarakan perasaan yang sebenarnya dirasakan.
Akibatnya, hubungan pertemanan maupun hubungan romantis menjadi lebih rentan mengalami masalah komunikasi.
Menariknya, aturan yang terlalu ketat tidak selalu membuat anak menjadi lebih patuh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan pola asuh otoriter justru lebih berisiko menunjukkan perilaku membangkang atau kenakalan.
Mereka tidak melihat orang tua sebagai figur yang layak dihormati karena hubungan yang terbentuk lebih didasarkan pada rasa takut daripada rasa percaya. Ketika kesempatan muncul, mereka cenderung melanggar aturan sebagai bentuk perlawanan.
6. Berisiko mengalami masalah perilaku
Sebuah studi pada anak usia sekolah menemukan bahwa anak yang diasuh secara otoriter lebih sering menunjukkan perilaku agresif, hiperaktif, menentang aturan, hingga perilaku antisosial.
Selain itu, mereka juga cenderung memiliki kemampuan sosial yang lebih rendah dibandingkan anak yang dibesarkan dengan pendekatan yang lebih seimbang.
7. Rentan menjadi pelaku atau korban perundungan
Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kontrol dan hukuman berisiko lebih tinggi mengalami masalah dalam hubungan sosial.
Sebagian menjadi korban perundungan karena memiliki kepercayaan diri yang rendah. Sebagian lainnya justru meniru pola agresif yang mereka lihat di rumah dan berpotensi menjadi pelaku perundungan terhadap teman sebaya.
8. Kesulitan mengatur diri sendiri
Saat anak selalu diatur secara ketat, mereka tidak memiliki banyak kesempatan untuk belajar mengambil keputusan dan menghadapi konsekuensinya.
Ketika beranjak remaja atau dewasa, mereka bisa mengalami kesulitan mengelola perilaku, mengatur emosi, maupun menyelesaikan masalah secara mandiri. Dengan kata lain, kepatuhan yang terlihat saat kecil belum tentu mencerminkan kemampuan mengendalikan diri yang baik di masa depan.
Anak yang terbiasa mengutamakan keinginan orang tua di atas kebutuhan dirinya sendiri sering tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengatakan 'tidak'.
Mereka merasa bersalah saat menolak permintaan orang lain dan cenderung mengorbankan kebutuhan pribadi demi menyenangkan orang di sekitarnya. Kondisi ini dapat membuat mereka rentan terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.
10. Berisiko mengalami obesitas
Dampak pola asuh yang terlalu ketat ternyata tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental. Sejumlah penelitian menemukan bahwa anak usia prasekolah yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibandingkan teman sebayanya.
Risiko tersebut juga ditemukan pada anak usia sekolah. Para peneliti menduga hal ini berkaitan dengan pola pengelolaan stres, kebiasaan makan, serta keterbatasan anak dalam mengembangkan kemampuan mengatur diri sendiri.