Sering Main HP Saat Diajak Ngobrol? Ini Alasan di Baliknya

CNN Indonesia
Minggu, 21 Jun 2026 06:02 WIB
ilustrasi handphone
Ilustrasi. Pasti muncul rasa kesal ketika ngobrol bersama teman tapi dia main handphone. (istockphoto/Jacob Wackerhausen)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Pernah bercerita serius kepada seseorang, tetapi lawan bicara justru sibuk menatap layar ponselnya? Ia mungkin masih mengangguk atau sesekali menjawab, tetapi matanya lebih sering tertuju pada notifikasi yang muncul di layar.

Secara fisik ia ada di hadapan kita, namun perhatiannya tidak sepenuhnya berada di sana.

Fenomena ini dikenal dengan istilah phubbing, gabungan dari kata phone dan snubbing. Mengacu pada studi yang dipublikasikan di ScienceDirect, phubbing adalah perilaku mengabaikan orang lain dalam interaksi tatap muka karena lebih fokus pada ponsel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski terlihat sepele, kebiasaan ini dapat memengaruhi kualitas hubungan dan komunikasi. Lalu, mengapa sebagian orang sulit melepaskan diri dari ponsel saat sedang mengobrol?

Berikut penjelasannya:

1. Takut ketinggalan informasi

Salah satu penyebab utama phubbing adalah fear of missing out (FOMO), yakni rasa takut tertinggal informasi, tren, atau aktivitas yang sedang terjadi.

Orang dengan FOMO cenderung merasa perlu terus memeriksa pesan, notifikasi, media sosial, atau berita terbaru, bahkan ketika sedang bersama orang lain. Akibatnya, perhatian mudah terpecah dan percakapan yang sedang berlangsung menjadi terabaikan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers menemukan bahwa phubbing berkaitan dengan sejumlah faktor psikologis, termasuk kecanduan ponsel, FOMO, dan rasa kesepian. Dalam kondisi tersebut, ponsel menjadi sarana utama untuk merasa tetap terhubung dengan dunia luar.

2. Kebiasaan yang sudah berlangsung otomatis

Tidak semua orang membuka ponsel saat mengobrol karena sengaja ingin mengabaikan lawan bicara. Pada banyak kasus, perilaku tersebut terjadi secara otomatis.

Ketika ada notifikasi masuk, tangan langsung meraih ponsel. Saat percakapan memasuki jeda singkat, layar kembali dibuka tanpa disadari. Seiring waktu, kebiasaan mengecek ponsel berubah menjadi respons spontan yang dilakukan tanpa pertimbangan.

Karena berlangsung secara otomatis, seseorang sering kali tidak menyadari bahwa tindakannya dapat mengganggu jalannya komunikasi dan membuat lawan bicara merasa tidak diperhatikan.

3. Merasa cemas jika tidak mengecek ponsel

Bagi sebagian orang, tidak melihat ponsel dalam waktu tertentu justru memunculkan rasa gelisah. Mereka merasa harus segera membalas pesan, mengetahui kabar terbaru, atau memastikan tidak ada notifikasi penting yang terlewat.

Penelitian yang dimuat di PubMed menunjukkan bahwa FOMO merupakan salah satu faktor psikologis yang kerap dikaitkan dengan perilaku phubbing. Dalam situasi ini, seseorang bisa terus-menerus membuka ponsel bukan karena ada kebutuhan mendesak, melainkan untuk meredakan kecemasan akibat merasa tertinggal informasi.

Apa yang bisa dilakukan?

Sulit melepaskan ponsel saat mengobrol tidak selalu berarti seseorang sengaja bersikap tidak sopan. Di balik kebiasaan tersebut bisa terdapat FOMO, kecemasan, atau pola penggunaan ponsel yang sudah mengakar.

Meski demikian, dampaknya terhadap kualitas komunikasi tetap nyata. Karena itu, langkah sederhana seperti meletakkan ponsel dalam posisi terbalik, mematikan notifikasi untuk sementara, atau menyimpannya saat sedang berbincang dapat membantu menjaga fokus.

Pada akhirnya, memberikan perhatian penuh kepada seseorang yang sedang berbicara adalah bentuk penghargaan yang sederhana, tetapi memiliki makna besar dalam membangun hubungan yang sehat dan hangat.

(anm/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]