Batasi Interaksi Dengan 7 Tipe Orang Ini Demi Kesehatan Mental
Tidak semua orang yang menyebalkan harus langsung dijauhi. Terkadang, seseorang hanya sedang lelah, menghadapi masalah, atau berada dalam fase hidup yang sulit.
Namun, ada pola hubungan yang patut diwaspadai jika terus berulang. Relasi yang konsisten dipenuhi hal-hal negatif dapat memengaruhi tingkat stres, kesehatan mental, bahkan kondisi fisik dalam jangka panjang.
Karena itu, penting untuk mengenali tipe-tipe orang yang sebaiknya dibatasi dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa tipenya:
1. Orang yang manipulatif
Orang manipulatif sering kali tidak tampak bermasalah pada awalnya. Mereka bisa terlihat ramah, perhatian, dan suportif. Namun, seiring waktu, mereka perlahan mengarahkan orang lain agar mengikuti keinginan mereka.
Dalam psikologi, perilaku ini kerap dikaitkan dengan konsep Dark Triad, yang mencakup narsisme, Machiavellianism, dan psikopati. Penelitian The Dark Triad of Personality menjelaskan bahwa ketiga sifat tersebut berkaitan dengan kecenderungan manipulatif, minim empati, dan berorientasi pada kepentingan diri sendiri.
2. Orang yang selalu membawa drama
Pernah merasa lelah setelah berbicara dengan seseorang? Bisa jadi Anda sedang berhadapan dengan sosok yang selalu membawa drama.
Orang seperti ini hampir selalu dikelilingi konflik, keluhan, atau masalah baru yang tanpa sadar menyeret orang-orang di sekitarnya. Dalam penelitian yang dimuat di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), fenomena ini dikenal sebagai negative social ties atau hasslers, yakni individu yang membuat kehidupan sosial terasa lebih sulit dan menjadi sumber stres berkepanjangan.
3. Orang yang tarik-ulur secara emosional
Tipe ini sering membuat bingung. Hari ini mereka bisa sangat baik, perhatian, dan mendukung. Namun, keesokan harinya mereka berubah dingin, menyalahkan, atau membuat orang lain merasa tidak cukup baik.
Hubungan seperti ini dikenal sebagai ambivalent social ties, yaitu relasi yang memiliki sisi positif dan negatif sekaligus. Ketidakpastian tersebut membuat hubungan terasa melelahkan karena sulit diprediksi dan sering memicu tekanan emosional.
4. Orang yang terlalu mengontrol hidup orang lain
Memberi saran berbeda dengan mengendalikan. Saran masih memberikan ruang bagi seseorang untuk menentukan pilihan, sedangkan kontrol membuat orang merasa kehilangan kebebasan.
Pola ini dapat masuk dalam konsep coercive control. Studi Coercive Control in Intimate Partner Violence menjelaskan bahwa kontrol koersif merupakan pola paksaan, ancaman, pembatasan, atau pengawasan yang membuat seseorang kehilangan otonomi dalam hubungan.
5. Orang yang suka merendahkan
Komentar merendahkan mungkin terdengar sepele jika hanya terjadi sekali. Namun, jika dilakukan berulang kali, ucapan seperti 'kamu enggak bisa' atau 'segitu saja bangga' dapat mengikis rasa percaya diri.
Perilaku ini berkaitan dengan konsep incivility, yaitu tindakan negatif berintensitas rendah yang terkadang tidak tampak agresif secara langsung, tetapi tetap dapat melukai dan berdampak buruk pada orang yang menjadi sasaran.
6. Orang yang tidak menghargai batasan
Setiap orang memiliki batasan, baik terkait waktu, energi, privasi, pilihan hidup, maupun kemampuan untuk berkata tidak.
Orang yang tidak menghargai batasan biasanya menuntut orang lain selalu tersedia, marah saat ditolak, atau membuat seseorang merasa bersalah ketika tidak memenuhi keinginannya. Jika terus dibiarkan, hubungan seperti ini dapat menguras energi bahkan sebelum pertemuan terjadi.
7. Orang yang hanya datang saat membutuhkan
Ada hubungan yang terasa seperti jalan satu arah. Seseorang selalu hadir ketika membutuhkan bantuan, tetapi menghilang saat orang lain sedang menghadapi kesulitan.
Jika pola ini terus berlangsung, hubungan akan terasa timpang dan tidak sehat. Membatasi interaksi dengan orang seperti ini bukan berarti harus memutus hubungan sepenuhnya, melainkan menjaga agar relasi tidak terus merugikan salah satu pihak.
Membatasi hubungan tidak selalu berarti mengakhiri relasi secara total. Dalam banyak situasi, langkah yang lebih realistis adalah mengurangi intensitas komunikasi, berani menetapkan batasan, atau tidak lagi membiarkan diri terjebak dalam pola yang sama.
Menjaga kesehatan mental bukan hanya soal mengelola emosi diri sendiri, tetapi juga memilih lingkungan sosial yang sehat. Sebab, orang-orang yang berada di sekitar kita dapat memberikan dukungan, tetapi juga bisa menjadi sumber kelelahan emosional jika batasan tidak dijaga dengan baik.
(anm/tis)