Budaya Populer Ikut Langgengkan Stigma Negatif Janda, Waktunya Setop
Istilah janda masih sering muncul sebagai bahan candaan, gosip, bahkan stereotip yang bernuansa seksual di masyarakat Indonesia. Sebutan seperti 'janda kembang', misalnya, masih mudah ditemukan dalam percakapan sehari-hari hingga budaya populer.
Langgengnya stigma negatif janda sering dikaitkan dengan budaya patriarki di tengah masyarakat. Tapi di luar itu, budaya populer juga sebenarnya turut berkontribusi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pegiat isu perempuan Poppy Dihardjo menilai, stigma terhadap janda tidak bisa dilepaskan dari kuatnya budaya patriarki yang masih hidup di masyarakat Indonesia.
"Apapun yang berhubungan dengan perempuan sering kali standarnya lebih tinggi dibanding laki-laki," kata Poppy kepada CNNIndonesia.com, Senin (22/6).
Menurut dia, perempuan sejak kecil lebih sering didefinisikan melalui relasinya dengan orang lain, seperti menjadi anak yang berbakti, istri yang baik, atau ibu yang sempurna. Berbeda dengan laki-laki yang lebih banyak dinilai sebagai individu.
"Perempuan itu selalu dianggap sebagai hak milik. Sebagai objek milik keluarga lalu milik suami. Begitu ikatannya putus, perempuan dianggap enggak bertuan, dalam tanda kutip. Pada akhirnya dianggap mengancam keteraturan sosial yang dibangun di atas kepemilikan itu," ujarnya.
Karena itulah, kata Poppy, status janda sering mendapat sorotan lebih besar dibanding duda.
"Laki-laki enggak pernah didefinisikan oleh status relasionalnya. Laki-laki didefinisikan oleh diri mereka sendiri, bukan oleh status sosialnya," katanya.
Budaya populer ikut berkontribusi
Perempuan yang juga berstatus janda itu menilai budaya populer punya kontribusi besar dalam melanggengkan stigma tersebut. Menurutnya, istilah janda sejak lama dikaitkan dengan gambaran perempuan yang menggoda dan menjadi objek lelucon.
Ia menyinggung film Inem Pelayan Sexy yang populer pada era 1970-an hingga berbagai lagu yang menjadikan status janda sebagai bahan candaan.
"Setelah itu, janda dikomersialisasi, dalam tanda kutip. Jadi sesuatu yang populer untuk diolok-olok, untuk menjadi perempuan yang begitu menggoda," ujarnya.
Ilustrasi. Budaya populer punya kontribusi besar dalam melanggengkan stigma negatif janda. (iStockphoto/Pheelings Media) |
Menurut Poppy, penggambaran yang terus berulang dalam film, lagu, maupun percakapan sehari-hari membuat kata janda lebih sering terdengar dibanding duda.
"Budaya populer itu berkontribusi cukup besar. Kata janda jadi makin sering terdengar dan akhirnya melekat dengan berbagai stereotip," katanya.
Hapus stigma negatif, janda cuma status
Ia menilai, banyak orang sebenarnya merasa tidak nyaman dengan candaan terkait janda, tetapi tidak selalu menyadari penyebabnya.
"Kadang kita dengar candaan lalu merasa enggak nyaman, tapi enggak tahu kenapa. Kemungkinan besar karena candaan itu seksis atau misoginis," ujarnya.
Poppy mengatakan, yang perlu dilakukan bukan menghapus kata janda, melainkan mengembalikannya pada makna yang sebenarnya.
"Kembalikan kata janda sebagai definisi orang yang tidak lagi ada dalam perkawinan. Tidak mendeskripsikan siapa dia sebagai manusia," kata Poppy.
Lihat Juga : |
Menurutnya, status janda hanyalah kondisi perkawinan, bukan identitas yang menentukan nilai seseorang.
"Jangan berikan makna lain selain makna yang sebenarnya. Kata janda itu tidak mendeskripsikan siapa kamu," tegasnya.
Bagi Poppy, selama masyarakat masih menilai perempuan berdasarkan status perkawinannya, stigma terhadap janda akan terus muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari gosip, candaan, hingga stereotip yang merugikan.
Pada akhirnya, kata dia, janda hanyalah sebuah status.
"Semua perempuan yang menikah akan menjadi janda pada waktunya, kecuali meninggal lebih dulu. Itu saja," pungkasnya.
(asr/asr) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


