Love Story

'Saya Seorang Janda, Lalu Kenapa?'

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2020 16:20 WIB
Ilustrasi. Adanya stigma yang membudaya membuat perjuangan hidup seorang janda menjadi berlipat ganda. (Diolah dari iStock)
Jakarta, CNN Indonesia --

Beberapa waktu lalu, celotehan tentang janda ramai menghiasi grup pertemanan saya di media sosial Whatsapp lengkap dengan kiriman meme foto syur seorang wanita seksi mengenakan atasan bikini. Sontak suasana di grup menjadi riuh.

Para anggota grup, terutama pria, tak segan berbicara tak senonoh dan vulgar. Berbalas komentar pedas tentang sosok janda sebagai makhluk sensual, bergairah, dan panas. Batin saya terusik. Jari-jemari terasa gatal, tanpa pikir panjang saya pilih opsi menu 'exit group'.

Saya adalah seorang janda. Janda kembang, begitu biasanya orang bilang. Usia saya belum genap 30 tahun ketika pasangan hidup yang saya nikahi memilih untuk menceraikan saya. Segenap keyakinan saya akan hubungan kekal abadi sehidup semati sebuah perkawinan luluh lantak dalam sekejap.


Apa lacur, krisis kepercayaan diri dan trauma menjalin ikatan romantis melanda diri saya. Kesabaran dan kekuatan mental saya diuji sedemikian rupa.

Kau tahu? Sedikit pun tak pernah terlintas di benak akan status seorang janda yang kini saya lakoni. Siapa pula yang ingin bercerai? Bercerai jelas bukan keinginan, apalagi impian. Itu adalah mimpi buruk. Sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi ketika hidup tak banyak memberikan pilihan.

"Move on please.. Lupakan masa lalu, mau sampai kapan kamu menutup diri begini terus?" ujar Carla suatu hari. Dia adalah salah satu teman dekat saya yang tahu persis bagaimana sebuah perceraian membuat saya nyaris menjadi gila.

Pertanyaan itu tak mampu saya jawab. Keinginan untuk membuka diri dan pergi berkencan lagi seakan-akan sirna. Membayangkan kembali proses perkenalan, pendekatan, memilih menimbang, cocok atau tidak lalu putuskan, buat saya mual dan pusing.

Namun, Carla tak gampang menyerah. Dia sodorkan beberapa pilihan teman pria yang menurutnya akan cocok berpasangan dengan saya.

Dari sekian nama, Carla ngotot agar saya bertemu dan berkenalan dengan Andre. Seorang engineer tambang, berstatus lajang, berusia 34 tahun, anak pertama dari lima bersaudara, pria asli Bandung.

"Kamu yakin?" tanya saya pada Carla.

"Lho, kenapa? Ada yang salah dengan profil Andre?" ujar Carla sambil menatap saya, alisnya terangkat sempurna.

Lagi-lagi saya bungkam. Dalam hati, sudah ragu duluan mendengar status Andre sebagai lajang. Berkali-kali saya yakinkan diri bahwa tak ada yang salah dengan perempuan berstatus janda. Status pernikahan saya dulu sah di mata hukum dan agama, meski kini akta cerai sudah saya miliki. Tapi, tetap saja saya dibuat ragu.

Bagaimana pun, kekhawatiran saya jelas beralasan. Adanya stigma yang membudaya membuat perjuangan hidup seorang janda menjadi berlipat ganda. Stereotip yang telanjur berkembang menghalangi janda untuk dapat merasa diterima kembali di tengah masyarakat tanpa embel-embel sebagai wanita penggoda, lemah, dan haus kasih sayang. Status janda seolah-olah mengurangi nilai dan kualitas yang dimiliki seorang perempuan. Menjadi warga 'kelas dua', dipandang sebelah mata. Ataukah ini hanya dugaan saya saja?

Ilustrasi Liburan ke PantaiIlustrasi. Adanya stigma yang membudaya membuat perjuangan hidup seorang janda menjadi berlipat ganda. (adamkontor/Pixabay)

"Sudah, jangan terlalu banyak pikiran," sahut Carla yang tampaknya dapat membaca kekhawatiran saya. "Beri dirimu kesempatan. Coba saja dulu, temui dia."

Mungkin Carla ada benarnya juga. Setelah sekian lama beristirahat dari dunia 'persilatan', sudah saatnya saya merapikan diri, merasakan lagi gejolak nervous berjumpa dengan orang baru. Ya, meski setengah hati, tapi seperti kata Carla, tak ada salahnya mencoba.

Pertemuan itu terjadi di sebuah kafe dengan hamparan nuansa city lights. Benar-benar sempurna, membawa pikiran saya justru kembali pada kenangan lama. Jika saja Andre, waktu itu tak berinisiatif untuk membuka topik dan mengeluarkan lelucon garing di sela-sela percakapan, mungkin pertemuan kami tak berkesan dan berakhir biasa-biasa saja.

Hubungan kami kian berkembang. Andre bahkan mengajak saya untuk menemui keluarganya sebagai bentuk keseriusannya meminang. Sebelum hal itu terjadi, saya putuskan untuk memberitahu Andre bahwa saya pernah menikah.

Perasaan kaget itu terlihat jelas dari roman wajahnya. Beberapa detik, pria itu tampak membeku, berusaha menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Mulutnya lalu berkata pelan-pelan, "Iya tidak apa-apa, bukan masalah." Tapi, ah, hati saya tetap menyimpan ragu.

Haruskah saya diam saja? Status yang melekat pada diri kerap membuat serba salah. Disimpan rapat-rapat pun tetap mengundang konflik dan konsekuensi. Meski pada dasarnya saya siap dengan segala risiko, belum tentu demikian orang yang mendengarnya.

Ibunya menatap saya dari ujung pangkal kaki hingga kepala. Bertanya apa pekerjaan saya, dan dimana saya tinggal. Untuk beberapa saat saya merasa diterima hingga akhirnya status saya terungkap dan mengubah keseluruhan rencana.

Di suatu siang, setelah belasan telepon tak terjawab. Andre mengirimi saya pesan singkat: Maafkan, aku tak berdaya membelamu. Ibuku tak setuju dengan hubungan kita dan aku tak mau jadi anak durhaka.

Dada ini seakan ditikam benda tajam. Harga diri saya terasa dikuliti. Malam itu saya terjaga hingga fajar tiba.

Menikahi janda butuh lebih banyak pertimbangan. Bagi segelintir orang, status pernah berumah tangga dipandang kurang ideal untuk bersanding dengan bujang. Apalagi jika janda tersebut belum mampu berdikari dan mapan. Kehadiran anak dari hasil perkawinan sebelumnya dapat dianggap menjadi beban.

Otak dan hati saya berusaha mencerna hal itu berulang-ulang. Carla tak berhenti meminta maaf meski hal itu bukan salahnya. Sejak saat itu, ia tak lagi berusaha menjodohkan saya dengan siapa-siapa. "Biar-lah jodoh itu datang sendiri padamu," ujarnya.

Akhirnya, setelah sekian lama mengarungi pergolakan batin, saya berhasil mencapai titik terang. Jika tidak, hal terburuk apa pun dapat terjadi, termasuk kematian. Dan saya terlalu pengecut untuk benar-benar mengakhiri hidup ibarat seorang pecundang.

Titik terang itu datang begitu saja di suatu siang. Tak sengaja saya melihat sebuah billboard berisi iklan pembukaan sebuah studio zumba. Keputusan untuk datang ke studio tersebut menjadi momen krusial bagi hidup saya. Bertemu wajah-wajah baru dan asing ternyata menyenangkan.

FOTO 3:Sejumlah karyawati yang bekerja di kawasan Casablanca mengikuti kelas zumba saat jam istirahat kerja di pusat kebugaran Ciputra World, Jakarta, Kamis, 18 Juni 2015. Jam istirahat dimanfaatkan karyawati yang satu gedung dengan pusat kebugaran untuk menjaga tubuh tetap bugar ditengah tingginya tekanan kerja. CNN Indonesia/Safir MakkiIlustrasi. Melalui gerakan-gerakan dinamis zumba, energi negatif seorang 'janda' yang selama ini melingkupi saya akhirnya terlepas. (Safir Makki)

Pada satu titik, melalui entakan irama, gerakan-gerakan dinamis diiringi musik Amerika latin, energi negatif yang selama ini melingkupi saya akhirnya terlepas. Saya merasa bebas. Saya bahkan tak dapat berhenti. Dua hari setelahnya, kaki ini berlari menyusuri jogging track menghabiskan satu jam pertama dengan keringat mengucur deras, tapi puas. Saya tahu saya telah kembali.

Jiwa ini tengah menyelamatkan dirinya sendiri berenang ke tepian dari dalamnya lautan kesedihan. Membangun kembali rasa percaya diri dan mereduksi pikiran-pikiran buruk melalui karya tulis. Menumbuhkan kembali benih-benih cinta pada diri sendiri dengan afirmasi-afirmasi positif, dengan mengubah sudut pandang bahwa menjadi janda bukanlah aib. Kalau saya memang seorang janda, lalu kenapa?

There's nothing to be ashamed of being divorced woman. Saya persilakan siapa pun untuk pergi apabila mereka keberatan dengan status 'pernah menikah' yang saya sandang. Itu mengurangi tingkat keruwetan, percaya-lah.

Semangat hidup yang sempat padam itu akhirnya muncul kembali ketika diri ini memahami bahwa sering kali garis takdir kehidupan tak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Jiwa ini justru semakin kuat dan tabah dengan masalah. Saya berani abaikan persepsi dan sentimen buruk yang kerap muncul, karena sejatinya, ketika antipati dan sikap menghakimi sudah kuat tertanam di dalam jiwa seseorang, hampir mustahil untuk mengubahnya.

Kewajiban dan tugas saya hanya-lah menjaga diri sebaik-baiknya. Itu saja.

Tulisan merupakan kiriman dari pembaca CNNIndonesia.com, Dyadiary (34 tahun), yang bercerita soal pengalaman hidup pribadinya.
(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]