Kesepian dan Depresi Lansia, Tantangan RI saat Populasi Kian Menua
Rhea Tritami | CNN Indonesia
Kamis, 25 Jun 2026 09:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Indonesia memasuki fase aging population dengan penduduk lansia mencapai 11,97 persen. Adapun kesepian dan depresi lansia menjadi tantangan yang harus dijawab. (iStock/amenic181)
Jakarta, CNN Indonesia --
Indonesia saat ini sedang memasuki fase aging population atau populasi menua. Proporsi penduduk lansiadi Indonesia kini tercatat di atas 10 persen.
Berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk lansia sudah mencapai 11,97 persen.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) sempat menyoroti pentingnya sejumlah program yang dapat menjaga kualitas hidup lansia agar tetap sehat, aktif, dan tidak kesepian.
Kesepian memang jadi tantangan tersendiri dalam menghadapi fase aging population. Ditambah lagi, kesepian erat kaitannya dengan depresi.
Kesepian dan depresi pada lansia
Berdasarkan data dalam policy brief Kemendukbangga/BKKBN dan UNFPA 2024, disebutkan prevalensi kesepian pada lansia mencapai 10,3 persen pada 2022. Sementara depresi, angkanya mencapai 64,4 persen dalam hasil Skrining Lansia Sederhana (Skilas) Kemenkes pada 2024 lalu.
Menurut policy brief tersebut, prevalensi depresi pada lansia perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Adapun depresi lebih banyak ditemukan pada usia di atas 80 tahun dan cenderung lebih tinggi pada lansia dengan pendidikan rendah, tinggal sendirian, dan belum menikah.
Prevalensi ini tak berbeda jauh dari hasil penelitian lain yang membahas soal kesepian pada lansia yang dipublikasi di Jurnal Ners (2025) oleh Yuni Asri et al.
Penelitian tersebut melakukan analisis potong-lintang menggunakan data dari Indonesian Family Life Survey gelombang kelima (IFLS-5) pada 2014-2015.
Hasilnya, 11,2 persen lansia melaporkan tingkat kesepian yang tinggi, sedangkan 88,8 persen lainnya mengalami kesepian rendah. Faktor penyebabnya, antara lain pendidikan rendah, merasa tidak puas dengan hidup, hingga kualitas tidur yang buruk.
Uniknya, lansia yang tinggal di Sumatra ternyata lebih kecil kemungkinannya merasa kesepian dibandingkan daerah lain. Hal ini menunjukkan lokasi tempat tinggal juga bisa menjadi faktor penentu.
Menanggapi data-data di atas, psikolog Arnold Lukito menjelaskan kaitan antara kesepian dan depresi pada lansia. Menurutnya, kedua hal ini bersifat seperti lingkaran setan.
Mengutip dari John T. Cacioppo, Arnold mengatakan, perasaan kesepian merupakan alarm biologis yang mengindikasikan bahwa kita butuh terhubung dengan orang lain. Jika alarm tersebut menyala terus tanpa bisa dipenuhi, otak mulai melihat lingkungan sosial sebagai ancaman.
"Akibatnya, lansia makin menarik diri, makin terisolasi, dan depresinya makin berat. Jadi, rasa kesepian sebetulnya tanda psikologis yang wajar, bukan kelemahan atau kekurangan," kata Arnold kepada CNNIndonesia.com, Rabu (24/6).
Rasa kesepian tidak bisa dianggap sepele karena dampaknya tak hanya pada depresi. Berdasarkan meta analisis Julianne Holt-Lunstad et al. pada 2015, ditemukan kesepian dan isolasi sosial bisa meningkatkan risiko kematian yang bahkan melebihi risiko obesitas.
"Kesepian yang kronis berkorelasi dengan tekanan darah tinggi, penyakit jantung, inflamasi dalam tubuh, penurunan daya ingat, hingga peningkatan risiko demensia," kata Arnold lagi.
Adapun depresi pada lansia, menurut Arnold, kadang tak terdeteksi karena gejalanya muncul sebagai keluhan fisik, mulai dari pegal-pegal, sulit tidur, atau lemas.
Berbagai keluhan ini sering tidak ditindaklanjuti karena dianggap wajar akibat faktor usia. Padahal, depresi bukanlah aspek normal dari penuaan. Ini merupakan kondisi yang perlu dipulihkan.
Baca halaman selanjutnya...
Kesendirian tak sama dengan kesepian
Seperti yang disebutkan sebelumnya, lansia yang tinggal sendiri menjadi salah satu faktor penyebab depresi. Namun, ini bukan berarti lansia yang tinggal bersama keluarga tidak mengalami kesepian sama sekali.
"Miskonsepsi yang sering terjadi adalah menyamakan kesepian dengan sendirian. Kesepian sifatnya subjektif, yaitu gap antara kedekatan yang seseorang butuhkan dan kedekatan yang benar-benar ia rasakan," tutur Arnold.
Inilah mengapa seorang lansia yang tinggal di rumah bersama anak cucu bisa tetap merasa kesepian. Terlebih jika interaksi dengan keluarga terasa dangkal atau ia merasa dianggap sebagai beban di rumah.
"Di Indonesia, hal ini sering luput karena kita berasumsi tinggal bersama keluarga otomatis membuat lansia lebih aman atau terlindungi. Padahal, ditemani secara fisik dan terhubung secara emosional adalah dua hal yang berbeda," kata Arnold.
Penyebab kesepian dan depresi pada lansia sendiri bersifat multifaktor. Arnold mengatakan, penyebabnya bisa karena kehilangan beruntun, misalnya pasangan, saudara, dan teman sebaya yang meninggal satu per satu.
Bisa pula karena lansia kehilangan peran dan tujuan hidup setelah pensiun atau anak-anaknya mulai mandiri. Kesepian dan depresi juga bisa diperparah dengan menurunnya kondisi fisik.
Lansia cenderung mengalami penurunan kesehatan, mobilitas, hingga gangguan pendengaran dan penglihatan yang bisa membuat mereka makin menarik diri dari kehidupan sosial.
Arnold pun menyebut, ada beberapa kelompok lansia yang secara umum paling rentan mengalami kesepian dan depresi.
"Lansia yang baru ditinggal pasangan, yang tinggal sendiri, yang punya penyakit kronis atau keterbatasan gerak, dan yang merasa dirinya tidak lagi berguna dan menjadi tanggungan. Di banyak daerah, kerentanan ini bertambah pada [lansia] yang ditinggal anak-anaknya merantau ke kota besar," tutur Arnold.
Pentingnya memberikan sense of purpose pada lansia
Ilustrasi lansia. (Istockphoto/jacoblund)
Lansia perlu didukung untuk menghindari kesepian dan depresi. Misalnya, menciptakan berbagai kegiatan yang bisa dilakukan lansia seperti menekuni hobi berkebun, bertani, atau aktivitas ringan lainnya.
Arnold tak menampik kebutuhan aktivitas untuk lansia seperti yang disebutkan di atas. Hanya saja, ia mengingatkan, setiap kegiatan harus memberikan rasa berdaya dan rasa yang dibutuhkan lansia.
Lansia, lanjut Arnold, bisa bertahan dan semangat saat mereka punya sesuatu untuk diurus dan ada keputusan yang bisa diambil. Jangan juga menempatkan lansia menjadi pihak yang harus diurus.
Itulah mengapa, keluarga ataupun pengasuh lansia perlu menghindari ucapan seperti, 'bapak/ibu istirahat saja, biar kami yang urus'. Kata-kata seperti ini sering kali diucapkan sebagai bentuk hormat dan kasih sayang.
"Padahal secara psikologis, itu bisa memicu apa yang Martin Seligman, Bapak Psikologi Positif, sebut sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari. Saat pilihan dan peran 'dicabut' dari seseorang, semangat hidupnya pun ikut padam," ujar Arnold.
Oleh karena itu, Arnold menyarankan aktivitas yang diciptakan untuk lansia perlu memiliki sense of purpose alias tujuan. Setiap komunitas lansia harus bisa berkontribusi, bukan sekadar jadi tempat berkumpul.
Jakarta, CNN Indonesia --
Indonesia saat ini sedang memasuki fase aging population atau populasi menua. Proporsi penduduk lansiadi Indonesia kini tercatat di atas 10 persen.
Berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk lansia sudah mencapai 11,97 persen.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) sempat menyoroti pentingnya sejumlah program yang dapat menjaga kualitas hidup lansia agar tetap sehat, aktif, dan tidak kesepian.
Kesepian memang jadi tantangan tersendiri dalam menghadapi fase aging population. Ditambah lagi, kesepian erat kaitannya dengan depresi.
Kesepian dan depresi pada lansia
Berdasarkan data dalam policy brief Kemendukbangga/BKKBN dan UNFPA 2024, disebutkan prevalensi kesepian pada lansia mencapai 10,3 persen pada 2022. Sementara depresi, angkanya mencapai 64,4 persen dalam hasil Skrining Lansia Sederhana (Skilas) Kemenkes pada 2024 lalu.
Menurut policy brief tersebut, prevalensi depresi pada lansia perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Adapun depresi lebih banyak ditemukan pada usia di atas 80 tahun dan cenderung lebih tinggi pada lansia dengan pendidikan rendah, tinggal sendirian, dan belum menikah.
Prevalensi ini tak berbeda jauh dari hasil penelitian lain yang membahas soal kesepian pada lansia yang dipublikasi di Jurnal Ners (2025) oleh Yuni Asri et al.
Penelitian tersebut melakukan analisis potong-lintang menggunakan data dari Indonesian Family Life Survey gelombang kelima (IFLS-5) pada 2014-2015.
Hasilnya, 11,2 persen lansia melaporkan tingkat kesepian yang tinggi, sedangkan 88,8 persen lainnya mengalami kesepian rendah. Faktor penyebabnya, antara lain pendidikan rendah, merasa tidak puas dengan hidup, hingga kualitas tidur yang buruk.
Uniknya, lansia yang tinggal di Sumatra ternyata lebih kecil kemungkinannya merasa kesepian dibandingkan daerah lain. Hal ini menunjukkan lokasi tempat tinggal juga bisa menjadi faktor penentu.
Menanggapi data-data di atas, psikolog Arnold Lukito menjelaskan kaitan antara kesepian dan depresi pada lansia. Menurutnya, kedua hal ini bersifat seperti lingkaran setan.
Mengutip dari John T. Cacioppo, Arnold mengatakan, perasaan kesepian merupakan alarm biologis yang mengindikasikan bahwa kita butuh terhubung dengan orang lain. Jika alarm tersebut menyala terus tanpa bisa dipenuhi, otak mulai melihat lingkungan sosial sebagai ancaman.
"Akibatnya, lansia makin menarik diri, makin terisolasi, dan depresinya makin berat. Jadi, rasa kesepian sebetulnya tanda psikologis yang wajar, bukan kelemahan atau kekurangan," kata Arnold kepada CNNIndonesia.com, Rabu (24/6).
Rasa kesepian tidak bisa dianggap sepele karena dampaknya tak hanya pada depresi. Berdasarkan meta analisis Julianne Holt-Lunstad et al. pada 2015, ditemukan kesepian dan isolasi sosial bisa meningkatkan risiko kematian yang bahkan melebihi risiko obesitas.
"Kesepian yang kronis berkorelasi dengan tekanan darah tinggi, penyakit jantung, inflamasi dalam tubuh, penurunan daya ingat, hingga peningkatan risiko demensia," kata Arnold lagi.
Adapun depresi pada lansia, menurut Arnold, kadang tak terdeteksi karena gejalanya muncul sebagai keluhan fisik, mulai dari pegal-pegal, sulit tidur, atau lemas.
Berbagai keluhan ini sering tidak ditindaklanjuti karena dianggap wajar akibat faktor usia. Padahal, depresi bukanlah aspek normal dari penuaan. Ini merupakan kondisi yang perlu dipulihkan.
Baca halaman selanjutnya...
Kesendirian pada Lansia Tak Sama dengan Kesepian
Ilustrasi. Indonesia memasuki fase aging population dengan penduduk lansia mencapai 11,97 persen. Adapun kesepian dan depresi lansia menjadi tantangan yang harus dijawab. (iStock/monkeybusinessimages)
Kesendirian tak sama dengan kesepian
Seperti yang disebutkan sebelumnya, lansia yang tinggal sendiri menjadi salah satu faktor penyebab depresi. Namun, ini bukan berarti lansia yang tinggal bersama keluarga tidak mengalami kesepian sama sekali.
"Miskonsepsi yang sering terjadi adalah menyamakan kesepian dengan sendirian. Kesepian sifatnya subjektif, yaitu gap antara kedekatan yang seseorang butuhkan dan kedekatan yang benar-benar ia rasakan," tutur Arnold.
Inilah mengapa seorang lansia yang tinggal di rumah bersama anak cucu bisa tetap merasa kesepian. Terlebih jika interaksi dengan keluarga terasa dangkal atau ia merasa dianggap sebagai beban di rumah.
"Di Indonesia, hal ini sering luput karena kita berasumsi tinggal bersama keluarga otomatis membuat lansia lebih aman atau terlindungi. Padahal, ditemani secara fisik dan terhubung secara emosional adalah dua hal yang berbeda," kata Arnold.
Penyebab kesepian dan depresi pada lansia sendiri bersifat multifaktor. Arnold mengatakan, penyebabnya bisa karena kehilangan beruntun, misalnya pasangan, saudara, dan teman sebaya yang meninggal satu per satu.
Bisa pula karena lansia kehilangan peran dan tujuan hidup setelah pensiun atau anak-anaknya mulai mandiri. Kesepian dan depresi juga bisa diperparah dengan menurunnya kondisi fisik.
Lansia cenderung mengalami penurunan kesehatan, mobilitas, hingga gangguan pendengaran dan penglihatan yang bisa membuat mereka makin menarik diri dari kehidupan sosial.
Arnold pun menyebut, ada beberapa kelompok lansia yang secara umum paling rentan mengalami kesepian dan depresi.
"Lansia yang baru ditinggal pasangan, yang tinggal sendiri, yang punya penyakit kronis atau keterbatasan gerak, dan yang merasa dirinya tidak lagi berguna dan menjadi tanggungan. Di banyak daerah, kerentanan ini bertambah pada [lansia] yang ditinggal anak-anaknya merantau ke kota besar," tutur Arnold.
Pentingnya memberikan sense of purpose pada lansia
Ilustrasi lansia. (Istockphoto/jacoblund)
Lansia perlu didukung untuk menghindari kesepian dan depresi. Misalnya, menciptakan berbagai kegiatan yang bisa dilakukan lansia seperti menekuni hobi berkebun, bertani, atau aktivitas ringan lainnya.
Arnold tak menampik kebutuhan aktivitas untuk lansia seperti yang disebutkan di atas. Hanya saja, ia mengingatkan, setiap kegiatan harus memberikan rasa berdaya dan rasa yang dibutuhkan lansia.
Lansia, lanjut Arnold, bisa bertahan dan semangat saat mereka punya sesuatu untuk diurus dan ada keputusan yang bisa diambil. Jangan juga menempatkan lansia menjadi pihak yang harus diurus.
Itulah mengapa, keluarga ataupun pengasuh lansia perlu menghindari ucapan seperti, 'bapak/ibu istirahat saja, biar kami yang urus'. Kata-kata seperti ini sering kali diucapkan sebagai bentuk hormat dan kasih sayang.
"Padahal secara psikologis, itu bisa memicu apa yang Martin Seligman, Bapak Psikologi Positif, sebut sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari. Saat pilihan dan peran 'dicabut' dari seseorang, semangat hidupnya pun ikut padam," ujar Arnold.
Oleh karena itu, Arnold menyarankan aktivitas yang diciptakan untuk lansia perlu memiliki sense of purpose alias tujuan. Setiap komunitas lansia harus bisa berkontribusi, bukan sekadar jadi tempat berkumpul.