7 Karakter Orang yang Perlu Mendengarkan Musik agar Fokus Kerja

CNN Indonesia
Kamis, 02 Jul 2026 06:00 WIB
Ilustrasi. Ada orang yang baru bisa fokus saat ada suara-suara yang didengarkan. Seperti apa karakter mereka? (pexels/Julio Lopez)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ada orang yang perlu suara atau musik latar (background music) agar bisa fokus bekerja. Apa kamu salah satunya? Berikut karakter orang yang perlu mendengarkan musik demi bisa fokus.

Suasana tenang, minim suara, dan meja rapi dapat membantu pikiran fokus. Namun sebaliknya, ternyata ada orang yang justru memerlukan suasana berisik baru bisa fokus.

Penelitian pada 2019 menemukan lebih dari setengah Gen Z yang disurvei paling bisa produktif di tengah kebisingan kantor. Sementara itu, Baby Boomers mengaku paling bisa produktif ketika suasananya tenang.

Karakter orang yang perlu mendengarkan musik agar fokus bekerja

Psikolog Lienna Wilson berkata sistem saraf manusia punya kemampuan untuk selalu waspada terhadap rangsangan termasuk suara yang berpotensi bahaya. Dalam suasana tenang sekalipun, otak tetap memindai suara-suara halus yang mungkin berbahaya.

"Bayangkan bagaimana reaksi Anda jika tiba-tiba mendengar sirene mobil pemadam kebakaran di luar, sementara Anda sedang membaca buku dengan tenang. Semakin Anda memperhatikan rangsangan eksternal, semakin sulit untuk fokus," kata Wilson dilansir dari Parade.

Suara atau musik latar membantu mengeliminasi suara-suara yang mengganggu atau menyiratkan bahaya sehingga otak tetap fokus.

Mereka yang terbiasa melakukannya ternyata punya sejumlah karakter unik. Apa saja?

1. Kreatif

Orang yang perlu kebisingan untuk bisa fokus seringkali punya ide dan solusi cukup inovatif. Kebisingan dapat membuka imajinasi mereka.

Melansir Your Tango, studi pada 2021 menunjukkan bahwa bagi para pemikir yang kreatif, tingkat kebisingan sedang di latar belakang dikaitkan dengan peningkatan kinerja kreatif.

2. Suka bermimpi

Penyuka kebisingan biasanya memiliki imajinasi yang kaya. Kebisingan menjaga kreativitas tetap mengalir, lalu menghasilkan proyek dan ide. Semua ini tidak akan mereka dapatkan lewat duduk dalam hening.

Kadang tak harus white noise atau musik. Kebisingan ini bisa sesederhana suara ketikan keyboard komputer atau mendengar orang lain mengobrol di dekat mereka.

3. Menikmati variasi

Ilustrasi. Orang yang menyukai kebisingan biasanya menikmati variasi termasuk variasi dalam hal kegiatan harian atau musik yang didengarkan. (Unsplash/BandLab)

Mereka hampir selalu menikmati variasi baik itu dalam rutinitas harian, bacaan, atau tugas-tugas di tempat kerja. Buat orang-orang ini, keheningan terasa cukup membosankan.

Cek saja pemutar musik mereka. Daftar lagunya bisa dari berbagai genre. Perubahan dari lagu lambat ke lagu cepat sudah bisa memberikan variasi sehingga hari berlalu tanpa rasa bosan.

4. Gampang beradaptasi

Wilson berkata orang yang perlu kebisingan untuk bisa fokus jauh lebih fleksibel daripada orang kebanyakan.

Mereka, lanjut dia, cenderung mudah beradaptasi dengan berbagai situasi seperti tetangga berisik atau tinggal di dekat stasiun kereta api.

"Selama membangun kemampuan beradaptasi mereka, mereka biasanya memasukkan suara latar yang cenderung menutupi suara yang tidak diinginkan," imbuh Wilson.

5. Seorang multitasker

Orang-orang yang menikmati kebisingan biasanya unggul dalam hal multitasking. Wilson berkata orang yang suka melakukan banyak tugas cenderung menikmati suara latar.

Mereka bisa berpindah dengan cepat dari satu tugas ke tugas berikutnya. Keheningan justru bisa membuat mereka lambat.

6. Spontan dan impulsif

Mereka berkembang di lingkungan yang ramai dan kadang disertai suara-suara tak terduga. Hal ini pun membuat mereka terlatih untuk mengambil keputusan dengan cepat berdasar insting.

Kebisingan memicu sifat impulsif. Mereka punya energi cukup untuk bertindak cepat tanpa banyak berpikir. Sebaliknya, keheningan memicu keraguan karena mereka hanya ditemani pikiran mereka sendiri.

7. Tidak bisa duduk diam

Ilustrasi. Orang yang suka kebisingan biasanya tidak bisa duduk diam. Mereka nyaris selalu bergerak seperti, menggerakkan kaki saat duduk, tangan memainkan bolpoin, atau memencet bubble wrap. (Ratih Dewi)

Jika kamu menemukan orang yang suka mendengarkan musik atau suara latar selama bekerja, biasanya mereka tidak bisa duduk diam. Keinginan untuk bergerak tidak hanya muncul secara fisik tapi juga mental.

Pikiran melompat dari satu ide ke ide lain. Mereka pun sangat ingin bergerak. Suara-suara ini memungkinkan mereka lebih mudah bergerak.

(els)


Saksikan Video di Bawah Ini:

Gen Z: Mending Lari daripada Party

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK