Bakal Ada 100 Taksi Air Listrik di Maladewa dalam 3 Tahun Mendatang
Surganya wisata bahari, alias Maladewa, bakal memiliki 100 taksi air listrik dalam tiga tahun ke depan. Alat transportasi berbahan bakar listrik ini diharapkan akan menghadirkan sistem transportasi antarpulau yang lebih bersih, lebih senyap, dan lebih efisien.
Program ini juga diharapkan membantu negara kepulauan tersebut mencapai target netral karbon pada 2030.
Pengadaan taksi air listrik diprakarsai oleh Navier, perusahaan teknologi maritim di AS dan JIH Global Investment yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA).
Menurut pernyataan Navier, pihaknya bersama JIH Global Investment akan membangun jaringan Navier Network di Maladewa.
Ini merupakan koridor maritim berkelanjutan berbasis perangkat lunak yang akan menghubungkan bandara, resor, vila pribadi, hingga pulau-pulau lokal menggunakan armada kapal hidrofoil berkinerja tinggi.
Dalam pernyataan yang dirilis pada awal Juni itu disebutkan, nilai armada dalam kerja sama tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$100 juta.
Tahap awal pengiriman taksi air listrik akan dimulai pada 2026 dengan lima unit kapal Navier N30, kemudian dilanjutkan dengan hingga 95 kapal tambahan selama tiga tahun berikutnya.
Pendiri sekaligus CEO Navier, Sampriti Bhattacharyya, mengatakan Maladewa menjadi lokasi yang ideal untuk membuktikan transportasi maritim bisa dibuat lebih bersih, lebih tenang, dan lebih baik bagi pengalaman wisatawan.
"Hampir setiap tamu, pekerja, resor, dan pulau bergantung pada kapal atau pesawat amfibi. Itu membuat Maladewa menjadi tempat yang sempurna untuk membuktikan transportasi maritim bisa lebih bersih, lebih senyap, terstandar, berbasis perangkat lunak, dan jauh lebih baik untuk pengalaman tamu," tutur Bhattacharyya, seperti diberitakan Anadolu Agency.
Bhattacharyya menegaskan, proyek ini bukan sekadar menghadirkan kapal baru, melainkan membangun jaringan transportasi air mewah yang berkelanjutan untuk masa depan.
Adapun Mohamed Ali Janah, Chairman JIH Global Investment, menyebut Maladewa selama ini dikenal sebagai pionir pariwisata mewah. Namun negara ini sedang mengalami ancaman perubahan iklim.
"Maladewa selalu berada di garis depan pariwisata mewah, tetapi sebagai negara kepulauan di garis depan perubahan iklim, kami juga memiliki kesempatan untuk membantu menentukan seperti apa masa depan transportasi air," kata Janah.
Pernyataan dari Navier menyebut, Maladewa nantinya akan menjadi contoh untuk memperluas transportasi air modern ke negara-negara kepulauan lain, termasuk pasar pesisir kelas premium.
Dengan proyek ini, Maladewa tak hanya memperkuat sektor pariwisatanya, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai laboratorium inovasi transportasi ramah lingkungan.
(rti)