Mengapa Manusia Mudah Jatuh Cinta pada Kucing? Ini Alasannya

CNN Indonesia
Selasa, 30 Jun 2026 06:00 WIB
Ilustrasi. Ada alasan kenapa manusia mudah jatuh cinta ke kucing. (REUTERS/Mahmoud Issa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jika membuka media sosial, tak sulit menemukan video kucing yang ditonton jutaan kali. Tingkah mereka yang menggemaskan, ekspresi wajah yang datar tetapi lucu, hingga aksi-aksi tak terduga membuat banyak orang sulit berpaling. Fenomena ini bukan sekadar tren internet.

Di Indonesia sendiri, kecintaan terhadap kucing memang sangat besar. Survei Rakuten Insight melaui National Geographic menunjukkan bahwa kucing merupakan hewan peliharaan favorit masyarakat Indonesia dengan persentase mencapai 47 persen. Sementara itu, Euromonitor memperkirakan terdapat sekitar 4,8 juta ekor kucing yang dipelihara di Indonesia.

Lantas, mengapa manusia begitu mudah menyukai, bahkan jatuh cinta pada kucing? Para ilmuwan ternyata telah lama mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Mulai dari ahli genetika, psikolog, hingga peneliti perilaku hewan mengemukakan sejumlah teori yang menjelaskan hubungan emosional antara manusia dan si meong.

Ikatan yang terjalin sejak ribuan tahun lalu

Hubungan manusia dan kucing ternyata bukan sesuatu yang baru. Analisis DNA menunjukkan bahwa nenek moyang kucing domestik modern berasal dari kucing liar Afrika (Felis silvestris lybica) yang hidup di kawasan Hilal Subur, meliputi Mesopotamia kuno, Mesir, Levant, hingga Persia.

Para peneliti memperkirakan hubungan manusia dengan kucing dimulai sekitar 9.500 tahun lalu. Bukti arkeologis tertua ditemukan di Pulau Siprus, ketika seekor kucing dikuburkan bersama manusia, menandakan adanya hubungan yang dekat antara keduanya.

Awalnya, hubungan tersebut terbentuk bukan karena manusia sengaja memelihara kucing sebagai teman. Kehadiran mereka justru sangat membantu kehidupan masyarakat agraris.

Eva-Maria Geigl, Direktur Penelitian di National Centre for Scientific Research (CNRS) Prancis sekaligus kepala kelompok Epigenomika dan Paleogenomik di Institut Jacques Monod, menjelaskan bahwa kucing mulai mendekati permukiman manusia karena melimpahnya sumber makanan.

"Kucing didomestikasi sebagai hewan komensal. Mereka mendekati permukiman manusia karena terdapat banyak hewan pengerat yang berkembang biak di sekitar tempat penyimpanan biji-bijian. Mereka kemudian beradaptasi dengan lingkungan manusia karena hal itu menguntungkan secara evolusi," ujar Geigl, dikutip dari Medical News Today.

Kucing membuat manusia merasa 'spesial'

Tak seperti anjing yang cenderung ramah kepada siapa saja, kucing dikenal lebih selektif dalam menunjukkan kasih sayang. Justru sifat inilah yang menurut psikolog membuat manusia semakin terpikat.

Patricia Pendry, peneliti interaksi manusia dan hewan dari Washington State University, menemukan bahwa hubungan emosional antara manusia dan kucing sering kali sangat kuat, terutama pada orang-orang yang memiliki tingkat kelekatan emosional tinggi.

Pendry berhipotesis bahwa respons kucing yang sulit ditebak membuat manusia merasa dipilih ketika akhirnya mendapatkan perhatian dari mereka.

"Respons halus dan agak tidak terduga yang diberikan kucing membuat kita merasa dipilih atau dianggap istimewa ketika mereka menunjukkan kasih sayang," jelas Pendry.

Menurutnya, karena respons tersebut tidak selalu muncul setiap saat, manusia justru semakin penasaran dan terus mencari perhatian dari kucing.

"Karena perilaku mereka kurang dapat diprediksi, kita tetap terpikat, hampir seperti kecanduan. Kita terus berharap dengkuran atau usapan lembut berikutnya akan datang," katanya.

Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai intermittent reinforcement, yaitu ketika penghargaan yang datang secara tidak menentu justru membuat seseorang semakin sulit melepaskan diri.

Wajah kucing mengaktifkan naluri mengasuh

Ada alasan biologis lain mengapa manusia mudah jatuh hati pada kucing.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk merespons ciri-ciri fisik yang menyerupai bayi, seperti mata besar, kepala yang relatif bulat, wajah mungil, serta perilaku bermain.

Permintaan jasa penitipan kucing mengalami lonjakan signifikan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Fenomena ini terjadi seiring meningkatnya mobilitas masyarakat yang bersiap melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim) Foto: CNN Indonesia/Adi Ibrahim

Karakteristik tersebut dikenal sebagai baby schema atau Kindchenschema, konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh ahli etologi Konrad Lorenz.

Respons terhadap ciri-ciri tersebut berkembang melalui evolusi karena membantu manusia terdorong untuk merawat bayi. Menariknya, banyak karakteristik itu juga dimiliki oleh anak kucing.

Tak heran jika melihat anak kucing sering kali memunculkan dorongan spontan untuk menggendong, membelai, atau melindungi mereka.

Kucing juga dikenal sebagai 'komedian' alami. Mereka dapat berlari sekencang mungkin mengejar bayangan, melompat tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba bersembunyi di dalam kardus, atau menjatuhkan benda dari meja sambil tetap mempertahankan ekspresi datar.

Anak kucing bahkan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain. Aktivitas tersebut bukan hanya menghibur manusia, tetapi juga menjadi bagian penting dari proses belajar berburu dan mengasah koordinasi tubuh.

Perilaku yang spontan dan sering kali tidak masuk akal itulah yang membuat banyak orang terus tertarik mengamati kucing.

Kehadiran kucing ternyata tidak hanya memberikan hiburan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa berinteraksi dengan hewan peliharaan dapat membantu menurunkan tingkat stres, mengurangi rasa kesepian, serta meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Suara dengkuran kucing juga dipercaya memberikan efek menenangkan bagi sebagian orang. Aktivitas sederhana seperti mengelus bulu kucing dapat memicu pelepasan hormon oksitosin, yaitu hormon yang berperan dalam membangun rasa nyaman dan ikatan emosional.

Meski manfaat tersebut dapat berbeda pada setiap individu, banyak pemilik kucing mengaku merasa lebih rileks setelah menghabiskan waktu bersama peliharaan mereka.

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK