Membaca Jejak Jakarta dari Gang ke Gang di Glodok
Orang bisa datang ke Glodok untuk mencari makan. Bisa juga untuk membeli obat tradisional, berburu kopi legendaris, atau sekadar berjalan dari satu gang ke gang lain.
Di balik toko-toko tua, vihara, gereja, rumah lama, dan lorong-lorong yang tampak tumbuh tanpa pola, ada jejak panjang tentang Batavia, komunitas Tionghoa, perdagangan, trauma, hingga keberagaman Jakarta yang terbentuk selama ratusan tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CNNIndonesia.com berkesempatan menyusuri Glodok dalam media experience Jalan Jajan: Petak ke Petak yang digelar Gojek di Jakarta, Kamis (25/6). Perjalanan dipandu oleh Abimantra Pradhana, Founder SANA Kenal Kota.
Lewat rute pendek di kawasan Pecinan itu, kami diajak melihat Glodok bukan hanya sebagai pusat kuliner, melainkan juga bagian penting dari biografi Jakarta.
"Kalau enggak ada Glodok, keragaman itu enggak akan ada," kata Abimantra saat memandu perjalanan.
Glodok dan lapisan sejarahnya
Perjalanan menyusuri Glodok tidak bisa dilepaskan dari Kota Tua dan Batavia. Abimantra menjelaskan bahwa benteng Batavia mulai dibangun pada 1619.
Dalam perkembangannya, kawasan yang kini dikenal sebagai Kota Tua pernah menjadi pusat kota benteng.
Pada masa itu, kota benteng dihuni terutama oleh orang Belanda dan komunitas Tionghoa. Sementara kelompok lain tinggal di kampung-kampung di sekitar tembok kota.
Dari sanalah muncul nama-nama kampung berdasarkan asal komunitas, seperti Kampung Bugis, Kampung Ambon, dan kampung-kampung lain yang ikut membentuk wajah Jakarta lama.
Glodok sendiri tumbuh sebagai Pecinan di luar tembok kota. Kawasan ini lekat dengan sejarah panjang komunitas Tionghoa di Jakarta, termasuk peristiwa kelam pada 1740 yang dikenal sebagai Geger Pecinan.
Setelah peristiwa itu, komunitas Tionghoa perlahan kembali membangun kehidupan di kawasan Glodok. Gang-gang yang hari ini terlihat padat, berliku, dan tumbuh organik menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.
"Bayangin 400 tahun berkembang secara organik. Jadi gang-gangnya ada makanan, ada rumah-rumah. Umurnya bayangin sudah lebih dari 300 tahun," kata Abimantra.
Dari Pancoran ke Petak Sembilan
Suasana kawasan Glodok, Jakarta. (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf) |
Rute perjalanan dimulai dari kawasan Pancoran Glodok. Nama Pancoran lekat dengan cerita tentang sumber air. Dalam penjelasan Abimantra, kawasan itu dahulu berkaitan dengan pancuran air yang menjadi salah satu penanda penting di area tersebut.
Sementara nama Glodok, dalam cerita lokal, kerap dikaitkan dengan bunyi air dari kincir kayu.
"Glodoknya dari mana? Sumber mata air itu dulu ada kincir penggerak dari kayu, bunyinya 'glodok, glodok, glodok'. Itu cerita lokal, tapi saya percaya karena masuk akal," jelas Abimantra.
Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju Pasar Pancoran dan Petak Sembilan. Kawasan ini memperlihatkan denyut Glodok sehari-hari, mulai dari toko obat tradisional, pasar, rumah ibadah, toko makanan, dan gang-gang kecil yang berdiri berdekatan.
Di Petak Sembilan, jejak komunitas Tionghoa terasa kuatnya. Toko obat menjadi salah satu pemandangan yang mudah ditemukan. Hal ini tidak lepas dari tradisi pengobatan Tionghoa yang sejak lama dikenal di kawasan tersebut.
"Kalau orang Tionghoa misalnya, kalau enggak ke tabib ya ke dukun. Orang Tionghoa juga sangat dikenal dengan traditional Chinese medicine-nya. Di Petak Sembilan, kita akan banyak menemukan toko obat," jelas Abimantra.
Gang Gloria dan aroma makanan lama
Suasana kawasan Glodok, Jakarta. (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf) |
Setelahnya, perjalanan berlanjut ke Gang Gloria, salah satu lorong kuliner yang sudah lama menjadi tujuan pemburu makanan di Glodok.
"Ini Gang Gloria. Dulu ada pertokoan Gloria di sini, dan ini berkembang berapa ratus tahun," kata Abimantra.
Di kawasan ini, pengunjung bisa menemukan beragam makanan legendaris.
"Di sini ada Kopi Es Tak Kie, Kari Lam, kari daging dengan kentang, otak-otak, nasi hainam, pangkas rambut yang sudah beberapa generasi, sampai soto betawi khas Tionghoa," imbuhnya.
Di satu sisi, lorong ini ramai oleh pengunjung yang datang untuk mencicipi makanan. Di sisi lain, setiap toko membawa cerita tentang keluarga, usaha turun-temurun, dan cara komunitas bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Simak cerita selengkapnya di halaman berikutnya..
Add
as a preferred source on Google






