Membaca Jejak Jakarta dari Gang ke Gang di Glodok

Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Jumat, 03 Jul 2026 08:15 WIB
Menyusuri Glodok, Membaca Jejak Jakarta dari Satu Gang ke Gang Lain
Suasana vihara di kawasan Glodok, Jakarta. (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf)

Vihara, gereja, dan usia kota

Salah satu titik penting dalam perjalanan ini adalah Vihara Dharma Bhakti atau Kim Tek Ie di Petak Sembilan. Vihara ini disebut berdiri sejak 1650 dan menjadi salah satu penanda tua keberadaan komunitas Tionghoa di Jakarta.

Bagi Abimantra, yang juga seorang arsitek, rumah ibadah seperti vihara bisa menjadi petunjuk untuk membaca usia sebuah kawasan. Di banyak titik lama Jakarta, keberadaan vihara sering berkaitan dengan aktivitas perdagangan dan titik temu masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Biasanya di setiap area di Jakarta, kalau kita mau mengenali area tertua, ada viharanya," ujar Abimantra.

Arsitektur vihara juga menyimpan cerita. Ornamen naga di atap, bentuk sayap bangunan, hingga susunan ruang menjadi tanda yang membedakan rumah ibadah dan rumah tinggal.

Meski begitu, tidak semua bangunan tua di Glodok mudah dibaca hanya dari fungsinya hari ini. Ada rumah tinggal lama milik kapitan Tionghoa yang kemudian berubah fungsi menjadi gereja, yakni Gereja Santa Maria de Fatima.

Buat Abimantra, perubahan fungsi itu menjadi salah satu hal menarik dari Glodok. Bangunan yang semula menjadi rumah tinggal bisa berubah menjadi ruang ibadah, tanpa sepenuhnya kehilangan jejak arsitektur lamanya.

"Ini sebuah fenomena yang menarik, bagaimana rumah tinggal kapitan Tionghoa ini berubah menjadi gereja," kata Abimantra.

Di Glodok, bangunan-bangunan tua seperti itu tidak berdiri sebagai peninggalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia tetap berada di tengah pasar, toko, kendaraan, dan orang-orang yang datang untuk berbelanja, beribadah, atau sekadar melintas.

Itulah yang membuat Glodok terasa berbeda. Sejarahnya tidak hanya dipajang, tetapi tetap dipakai dan dilalui setiap hari.

Jejak trem dan bangunan lama

Selain kuliner dan rumah ibadah, Glodok juga menyimpan cerita tentang transportasi Jakarta. Abimantra menunjukkan bahwa kawasan Kota Tua hingga Harmoni pernah dilintasi trem.

Jejak trem itu menjadi pengingat bahwa Jakarta pernah memiliki wajah transportasi yang berbeda. Pada masa lalu, trem, oplet, angkot, becak, dan delman pernah menjadi bagian dari pergerakan warga.

"Trem itu hilang di era Soekarno, sekitar 1965-an, ketika trem disalahkan sebagai penyebab kemacetan Jakarta," kata Abimantra.

Menyusuri Glodok, Membaca Jejak Jakarta dari Satu Gang ke Gang LainSuasana di kawasan Glodok, Jakarta. (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf)

Di samping itu pula, bangunan-bangunan tua memperlihatkan perubahan zaman. Ada bekas apotek, bioskop lama, rumah tinggal, toko, hingga bangunan yang bentuknya sudah berubah karena tuntutan kebutuhan ruang dan transportasi.

Beberapa fasad masih menyimpan jejak era 1900-an. Ada bangunan yang bertambah lantai, ada yang tertutup jembatan, ada pula yang bentuk aslinya hanya tersisa sebagian.

Abimantra menilai bahwa arsitektur bisa membuka cara baru untuk membaca kota. Dari bentuk jendela, atap, lorong, dan posisi bangunan, orang bisa membayangkan bagaimana sebuah kawasan tumbuh. 

Rumah tua, feng shui, dan makna kecil di jalan

Menyusuri Glodok juga berarti memperhatikan detail kecil yang sering terlewat. Beberapa rumah tua masih menyimpan bentuk lama, termasuk ornamen tapal kuda dan cermin di bagian depan rumah.

Abimantra menjelaskan, tapal kuda dalam kepercayaan Tionghoa dapat dimaknai sebagai harapan agar rezeki dan perjalanan hidup bisa pergi jauh. Pada masa ketika kendaraan belum seperti sekarang, kuda menjadi simbol perjalanan dan daya jangkau.

"Dengan adanya rumah yang dinaungi tapal kuda, diharapkan rezeki kita, perjalanan manusia, bisa jauh. Sejauh kuda membawa kita," ujarnya.

Sementara cermin kerap dipasang sebagai bagian dari feng shui. Ia dipercaya dapat menangkal energi yang kurang baik.

"Kalau kita lihat, beberapa rumah ada cermin. Cermin itu feng shui, untuk menangkal pertemuan dengan tusuk sate atau kekuatan yang dipercaya negatif," kata Abimantra.

Detail-detail itu membuat perjalanan di Glodok terasa seperti membaca catatan kecil yang menempel di bangunan. Tidak selalu mencolok, tetapi menyimpan cara pandang masyarakat yang hidup di dalamnya.

Abimantra menyebut, berjalan di Glodok ini bisa terasa seperti perjalanan melintasi waktu. Bukan perjalanan jauh, tetapi cukup untuk membuka cara pandang baru tentang Jakarta.

"Time travelling. Kita sudah balik ke 400 tahun, membuka point of view baru, bagaimana berjalan di Jakarta, menikmati Jakarta, dan mungkin merayakan keberagaman," pungkasnya.

(asr/asr) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2