Ada Kafein dalam Cokelat, Benarkah? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Cokelat identik dengan camilan manis yang bisa dinikmati kapan saja, termasuk malam hari. Tapi, tak banyak menyadari bahwa makanan ini juga ternyata mengandung kafein.
Cokelat sendiri dibuat dari biji kakao (cocoa beans), yang secara alami mengandung dua senyawa stimulan, yakni kafein dan teobromin.
Lihat Juga :Hari Cokelat Sedunia Dirayakan Dunia Hari Ini, Benarkah Cokelat Bermanfaat buat Jantung? |
Mengutip National Institutes of Health, kedua senyawa tersebut bekerja merangsang sistem saraf. Namun, efek teobromin cenderung lebih ringan dibandingkan kafein.Kombinasi keduanya inilah yang diduga menjadi salah satu alasan mengapa sebagian orang merasa lebih segar atau lebih berenergi setelah mengonsumsi cokelat.
Meski begitu, kandungan kafein pada cokelat tidak sebesar pada kopi. Mengutip jurnal LactMed yang dipublikasikan pada NCBI menjelaskan bahwa semua cokelat yang mengandung padatan kakao (cocoa solids) memiliki kafein dalam jumlah tertentu. Semakin tinggi kandungan kakao, semakin tinggi pula kadar kafeinnya.
Sebaliknya, cokelat putih hampir tidak mengandung kafein. Pasalnya, cokelat putih dibuat dari cocoa butter atau lemak kakao, bukan padatan kakao yang menjadi sumber utama kafein.
Perbedaan kandungan kafein ini juga terlihat pada masing-masing jenis cokelat. Mengutip data United States Department of Agriculture (USDA), sekitar 28 gram dark chocolate mengandung sekitar 12-24 miligram kafein. Sementara itu, sekitar 43 gram milk chocolate mengandung sekitar 9 miligram kafein.
Sebagai perbandingan, secangkir kopi seduh umumnya mengandung sekitar 80-100 miligram kafein, sehingga kadar kafein pada cokelat relatif jauh lebih rendah.
Meski jumlahnya kecil, kafein dalam cokelat tetap bisa memberi efek pada sebagian orang, terutama mereka yang sensitif terhadap kafein atau mengonsumsinya dalam jumlah banyak menjelang waktu tidur.
Karena itu, jika Anda mudah sulit tidur setelah mengonsumsi makanan atau minuman berkafein, tak ada salahnya memperhatikan jenis dan jumlah cokelat yang dikonsumsi, terutama dark chocolate dengan kadar kakao yang tinggi.
(anm/asr)