Ziarah Taman Prasasti, Sejarah Batavia yang Berbaring di Batu Nisan

Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Sabtu, 11 Jul 2026 16:20 WIB
Suasana Museum Taman Prasasti, Jakarta. (CNN Indonesia/ Angela Merici)
Jakarta, CNN Indonesia --

Batu nisan pertama langsung menyambut begitu melangkah melewati gerbang. Bukan satu atau dua, melainkan ratusan.

Sebagian menjulang tinggi, sebagian lain sederhana. Ada yang berbentuk menara, obelisk, gereja kecil, hingga alat musik. Di sela-selanya, pepohonan rindang membuat suasana teduh sekaligus sunyi.

Sulit menyebut Museum Taman Prasasti sebagai museum biasa. Tidak ada ruang pamer tertutup yang dipenuhi etalase kaca. Sebaliknya, seluruh koleksinya berada di ruang terbuka, berdiri di atas bekas kompleks pemakaman yang pernah menjadi tempat peristirahatan terakhir kalangan elite Batavia.

CNNIndonesia.com berkesempatan mengunjungi Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat, Selasa (7/7). Pengalaman menyusuri kawasan ini terasa seperti berjalan dari satu perhentian ke perhentian berikutnya. Jalurnya tenang, dipenuhi makam dan monumen, menghadirkan suasana yang mengingatkan pada perjalanan ziarah.

Dengan membeli tiket Rp10 ribu, pengunjung akan menerima selebaran berisi peta dan informasi singkat mengenai koleksi museum. Tidak ada pemandu khusus yang menemani, tetapi pengunjung dapat bertanya langsung kepada petugas yang berjaga di area museum.

Sebelum benar-benar masuk ke kawasan makam, perhatian tertuju pada sebuah batu prasasti marmer putih berukuran besar. Dari prasasti itulah diketahui bahwa kompleks pemakaman ini dibangun pada 1795 sebagai pemakaman orang Eropa di Batavia.

Sekitar 1975, kawasan ini ditutup sebagai tempat pemakaman. Karena memiliki nilai sejarah dan arsitektur, kawasan tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi Museum Taman Prasasti dan diresmikan pada 9 Juli 1977.

Salah seorang pengelola menjelaskan bahwa sebelum menjadi museum, kawasan ini merupakan kompleks pemakaman seluas sekitar 5,5 hektare.

"Taman pemakaman ini kita sebut Kebon Jahe Kober. Kebon Jahe itu nama tempatnya, sedangkan kober artinya kuburan bersama. Kalau dalam bahasa Belanda, namanya Begraafplaats," ujarnya.

Kini luas kawasan yang tersisa sekitar 1,3 hektare dengan sekitar 900 monumen makam yang masih dapat dilihat pengunjung.

Suasana Museum Taman Prasasti, Jakarta. (CNN Indonesia/ Angela Merici Keraf)

Belum jauh berjalan, sebuah patung perempuan menarik perhatian. Wajahnya menunduk, tangannya seolah menutupi kesedihan.

Patung itu dikenal sebagai The Crying Lady atau Lady in Mourning. Bukan menggambarkan seseorang yang dimakamkan di lokasi, sosok perempuan yang menangis itu adalah simbol duka cita dan kesedihan yang lazim ditemukan dalam seni pemakaman Eropa pada masa kolonial.

Sebagian besar makam menggunakan marmer putih berukuran besar dengan detail pahatan yang rumit. Masing-masing memiliki gaya arsitektur berbeda, seolah menunjukkan status sosial, profesi, maupun zamannya.

Salah satu yang paling mencolok adalah monumen makam Mayor Jenderal J.J. Perie. Warnanya hijau tua dengan bentuk menyerupai menara tinggi sehingga mudah dikenali bahkan dari kejauhan.

Tak jauh dari sana berdiri monumen L. Launy yang berbentuk obelisk, menyerupai tugu batu menjulang ke atas. Monumen ini merupakan makam seorang Direktur Jenderal Keuangan pada masa Hindia Belanda.

Ada pula makam Monsignor Walterus Jacobus Staal yang bentuknya menyerupai gereja bergaya Gotik. Menara runcing, lengkungan lancip, dan detail ukiran vertikal mendominasi keseluruhan bangunan.

Walterus Jacobus Staal merupakan Vikaris Apostolik Batavia sekaligus uskup Jesuit pertama yang memimpin Vikariat Apostolik Batavia pada akhir abad ke-19.

Ziarah Taman Prasasti, Sejarah Batavia yang Berbaring di Batu Nisan


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :