Robert Wun Mengajak Couture Bermain Lagi
Dunia couture yang kerap dibangun di atas narasi tragedi, teknik ekstrem, atau kemewahan yang nyaris sakral. Namun Robert Wun justru memilih arah yang berbeda. Desainer asal Hong Kong itu mempersembahkan Childsplay, sebuah koleksi yang mengajak penonton kembali pada sesuatu yang hampir terlupakan dalam dunia mode: kegembiraan.
Wun ingin menciptakan kegembiraan yang lahir dari ingatan masa kecil, tentang masa ketika dunia belum dipenuhi kecemasan.
Lihat Juga :Laporan dari Paris Surat Cinta untuk Ibu, Manish Malhotra Bawa India ke Panggung Couture |
Berlokasi di Dome de Paris, Wun mengawali koleksi dengan sebuah pernyataan yang sederhana namun mengandung refleksi mendalam. Ia menulis bahwa ia ingin "menghadapkan cermin kepada dirinya sendiri dan perjalanan tiga tahun terakhir rumah couture ini."
"Apa lawan dari seluruh beban dan keseriusan yang kita pikul?" tulisnya dalam shownote yang diterima CNNIndonesia.com.
Pertanyaan ini kemudian menjadi fondasi seluruh koleksi. Childsplay sebenarnya merujuk pada sesuatu yang remeh, terlalu mudah, tidak penting, bahkan kekanak-kanakan. Padahal couture selama ini identik dengan kebalikannya: rumit, eksklusif, dan penuh keseriusan. Namun Wun membalik makna tersebut.
"Inspirasi justru muncul ketika segala sesuatu dikembalikan pada esensinya yang paling sederhana. Mendefinisikan kembali keindahan melalui mata polos yang pernah dimiliki setiap dari kita," tulisnya lebih lanjut.
Di tangan Wun, bermain bukan berarti mengurangi kualitas. Bermain justru menjadi metode untuk menemukan kembali makna.
Narasi itu pun langsung terbaca sejak penampilan pertama. Sosok model berjalan mengenakan gaun putih bersih, seolah kanvas kosong yang baru saja keluar dari studio pelukis. Dari kejauhan, warna-warni yang tampak seperti cipratan cat memenuhi permukaannya.
Baru ketika dilihat lebih dekat, ilusi itu terpecahkan. Yang terlihat bukan cat sama sekali, melainkan ribuan mikro manik-manik yang dijahit satu per satu dengan presisi couture.
Melihat dari sudut pandang anak-anak
Permainan persepsi ini menjadi salah satu kekuatan terbesar koleksi ini. Wun tidak sekadar menghadirkan ilusi visual, tetapi juga mengingatkan bahwa masa kanak-kanak selalu dipenuhi cara pandang yang belum dibatasi logika.
Koleksi ini kemudian berkembang layaknya sebuah garis waktu kehidupan. Dari "kertas kosong", warna mulai bermunculan. Siluet menjadi semakin terstruktur, karakter mulai terbentuk, seakan seorang anak perlahan menemukan identitasnya.
Boneka, mainan, dan cerita-cerita masa kecil diterjemahkan bukan secara literal, melainkan melalui konstruksi busana yang teatrikal namun tetap elegan.
Wun memahami bahwa couture tidak harus kehilangan esensi atau kelasnya hanya karena memilih tema yang ringan.
Sebaliknya, justru melalui teknik tailoring yang memiliki presisi tinggi, bordiran yang nyaris mustahil, dan konstruksi volume yang dramatis, ia memperlihatkan bahwa imajinasi anak-anak layak diperlakukan dengan keseriusan tertinggi.
Pertunjukan ini juga dipenuhi momen-momen yang mengundang senyum tanpa pernah berubah menjadi kostum.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah sebuah aksesori berbentuk gelembung permen karet yang tampak mengembang dari wajah seorang model. Referensinya langsung terasa akrab, tetapi dieksekusi dengan bahasa couture yang begitu bersih sehingga tidak pernah jatuh menjadi gimmick.
Menariknya, permainan visual tersebut menemukan gema di barisan depan, ketika Cardi B hadir mengenakan gaun merah dramatis dengan bodice sama-sama bermain dengan proporsi tubuh secara teatrikal.
Kehadirannya seolah mempertegas bahwa dunia Wun memang sedang mengaburkan batas antara fantasi, mode, dan showmanship.
Di balik seluruh warna cerah itu, Wun sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih serius.
Ia memperkenalkan gagasan yang disebutnya sebagai Re-believe. Sebuah ajakan untuk kembali percaya.
"Percaya bahwa sebuah karya seharusnya menginspirasi lebih dari sekadar hasrat material, melainkan menjadi komitmen untuk menggambarkan sisi terbaik kemanusiaan, kemenangan emosi kita, dan perayaan atas kenangan," tulisnya.
"Percaya pada kekuatan imajinasi, bahwa keberanian untuk mencipta jauh lebih besar daripada keinginan untuk mengonsumsi."
Pesan ini mungkin terdengar idealistis. Namun justru di situlah letak keberaniannya. Ketika banyak koleksi couture musim ini memilih nostalgia sebagai estetika, Robert Wun menggunakan nostalgia sebagai bahasa emosional. Ia tidak sedang menjual masa kecil.
Menuju akhir pertunjukan, koleksi ini mencapai klimaks yang paling puitis.
Seorang model muncul mengenakan mantel hitam berpotongan tegas. Dari balik tubuhnya bermunculan balon-balon berwarna cerah yang seolah meledak keluar dari konstruksi busana.
Setelah seluruh perjalanan koleksi bergerak dari putih menuju ledakan warna, penampilan terakhir ini terasa seperti pelepasan emosi yang telah ditahan sejak awal. Dan balon-balon itu bukan sekadar dekorasi.
"Bagaikan masa kecil yang masih kita simpan jauh di dalam diri. Indah dan penuh sukacita, tetapi rapuh dan memang tidak diciptakan untuk bertahan selamanya," tulis Wun mengenai penutup koleksi tersebut.
Kalimat itu mungkin menjadi definisi paling tepat untuk keseluruhan Childsplay. Masa kecil memang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk menjadi kenangan yang sesekali muncul ketika dipicu oleh aroma, lagu, atau bahkan sebuah gaun couture.
Robert Wun tidak sedang menawarkan pelarian dari kenyataan. Ia justru mengusulkan cara baru untuk menghadapinya. Dengan sedikit lebih banyak rasa ingin tahu. Dengan sedikit lebih banyak keberanian untuk berimajinasi. Dan mungkin, dengan sedikit lebih banyak ruang untuk bermain.
Di akhir catatan koleksinya, ia menulis satu kalimat sederhana: "Percaya pada kebaikan, tanpa wilayah abu-abu. Seperti yang dahulu diajarkan kepada kita."
(fas/els)