Komedian Temon Meninggal, Seberapa Berbahaya Hipertensi bagi Jantung?
Kabar duka datang dari dunia hiburan Tanah Air, komedian Simson Rarameha Ngadang atau yang lebih dikenal sebagai Temon disebut meninggal dunia akibat serangan jantung, pada Minggu (12/7) pagi.
Sebelum meninggal, Temon diketahui memiliki riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Kepergian Temon kembali menjadi pengingat bahwa hipertensi bukan sekadar masalah tekanan darah tinggi biasa. Kondisi yang kerap disebut sebagai silent killer atau 'pembunuh diam-diam' ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga kematian.
Lantas, seberapa berbahaya hipertensi dan mengapa kondisi ini bisa berujung pada serangan jantung yang fatal?
Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas normal. Mengutip laman Kementerian Kesehatan RI, seseorang didiagnosis hipertensi bila tekanan darahnya mencapai 140/90 mmHg atau lebih pada lebih dari satu kali pemeriksaan.
Masalahnya, sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan gejala apa pun. Karena itulah, banyak orang baru mengetahui dirinya mengidap hipertensi setelah mengalami komplikasi serius.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sekitar 1,4 miliar orang dewasa di dunia hidup dengan hipertensi. Namun, banyak di antaranya tidak menyadari kondisi tersebut.
WHO bahkan menempatkan hipertensi sebagai salah satu penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. Bahaya hipertensi bukan hanya soal angka tekanan darah yang tinggi, tetapi kerusakan yang ditimbulkannya pada organ-organ penting tubuh.
Bagaimana hipertensi bisa memicu serangan jantung?
Tekanan darah yang tinggi membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, pembuluh darah bisa mengalami kerusakan dan mengeras.
Lama-kelamaan, dinding arteri menjadi lebih sempit akibat penumpukan lemak dan kolesterol sehingga aliran darah ke jantung berkurang.
Saat pembuluh darah koroner tersumbat, otot jantung tidak mendapatkan cukup oksigen, hal inilah yang menyebabkan serangan jantung. Serangan jantung sendiri merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika aliran darah ke jantung berkurang atau terhenti secara drastis.
Penyebab kematian terbesar di dunia
Penyakit jantung dan pembuluh darah, termasuk serangan jantung dan stroke, masih menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Menurut data terbaru WHO, sekitar 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada 2022.
Angka tersebut setara dengan sekitar 32 persen dari seluruh kematian global.
Yang mengkhawatirkan, sekitar 85 persen kematian akibat penyakit kardiovaskular disebabkan oleh serangan jantung dan stroke.
Artinya, hampir satu dari tiga kematian di dunia berkaitan dengan gangguan pada jantung dan pembuluh darah.
Jika tidak terkontrol, hipertensi dapat merusak banyak organ penting. WHO menyebut tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko:
- serangan jantung,
- gagal jantung,
- stroke,
- gangguan irama jantung,
- gagal ginjal,
- hingga kematian mendadak.
Karena kerusakan terjadi perlahan selama bertahun-tahun, banyak orang tidak menyadari tubuhnya sudah berada dalam kondisi berbahaya.
Bisa dicegah sejak dini
Kabar baiknya, hipertensi termasuk penyakit yang dapat dikendalikan. Sejumlah langkah sederhana dapat membantu menjaga tekanan darah tetap normal, di antaranya:
- rutin memeriksa tekanan darah,
- mengurangi konsumsi garam,
- menjaga berat badan ideal,
- rutin berolahraga,
- menghindari rokok,
- membatasi konsumsi alkohol,
- mengelola stres,
- dan meminum obat secara teratur bila diresepkan dokter.
Kasus yang dialami Temon menjadi pengingat bahwa hipertensi bukan penyakit yang bisa dianggap remeh.
Karena sering tidak menimbulkan gejala, tekanan darah tinggi kerap luput dari perhatian hingga akhirnya memicu komplikasi serius, termasuk serangan jantung yang dapat berujung pada kematian.
(anm/fef)