Studi di Jepang Temukan Autofagi Bisa Perbaiki Fungsi Otak yang Hilang

CNN Indonesia
Kamis, 23 Jul 2026 02:00 WIB
Para peneliti dari Universitas Tokyo menemukan autofagi berpotensi menyembuhkan penyakit neurodegeneratif.
Para peneliti dari Universitas Tokyo menemukan autofagi berpotensi menyembuhkan penyakit neurodegeneratif. Penelitian dilakukan terhadap tikus percobaan. (iStock/LightFieldStudios)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah studi terbaru dari para peneliti di Jepang membuka harapan baru bagi dunia medis, khususnya dalam penanganan penyakit neurodegeneratif. Tim peneliti dari Universitas Tokyo melaporkan temuan yang menunjukkan autofagi dapat membantu memulihkan fungsi otak yang sebelumnya hilang.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tomoya Eguchi et al. ini, dipublikasikan di jurnal Science pada 25 Juni 2026 lalu dan dilakukan melalui eksperimen pada tikus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan tersebut penting karena selama ini kerusakan fungsi otak akibat penyakit degeneratif dianggap sulit, bahkan nyaris mustahil, untuk dipulihkan. Jika hasil ini terbukti pada manusia, autofagi bisa menjadi pintu menuju terapi baru yang lebih menjanjikan.

Autofagi jadi solusi penyakit neurodegeneratif?

Berbagai penyakit neurodegeneratif, antara lain seperti demensia, Alzheimer, Parkinson, Huntington, hingga amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Umumnya berbagai penyakit ini dianggap tak bisa dipulihkan. Namun penemuan baru bisa jadi secercah harapan.

Bagi yang belum tahu, autofagi adalah proses alami di dalam sel yang berfungsi seperti sistem daur ulang tubuh. Melalui proses ini, sel memecah protein rusak dan membersihkan komponen abnormal agar kesehatan sel tetap terjaga.

Adapun penyakit neurodegeneratif terjadi ketika protein abnormal menumpuk di dalam sel saraf. Namun sejauh ini belum diketahui apakah menghilangkan protein abnormal tersebut dapat mengembalikan fungsi otak.

Dalam penelitian terbaru ini, para peneliti menggunakan tikus laboratorium yang proses autofaginya bisa dikendalikan dengan obat. Saat proses ini dilakukan selama empat minggu, protein abnormal menumpuk di sel saraf.

Akibatnya, tikus menunjukkan penurunan kemampuan motorik, memori, dan belajar. Kondisi ini menyerupai gejala penyakit neurodegeneratif manusia.

Menariknya, ketika autofagi diaktifkan kembali, kadar protein abnormal turun dalam empat minggu berikutnya. Bersamaan dengan itu, fungsi motorik dan kognitif tikus ikut membaik.

Para peneliti menyebut temuan ini sebagai tanda bahwa sel saraf mungkin memiliki kemampuan pulih yang lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan. Ini menjadi kabar yang sangat menjanjikan bagi riset terapi otak di masa depan.

Bagi dunia medis, temuan ini sangat relevan karena penyakit seperti ALS, Alzheimer, dan Parkinson selama ini hanya bisa ditangani dengan memperlambat perkembangan. Belum ada terapi yang mampu mengembalikan fungsi otak. Jika autofagi bisa dimanfaatkan secara aman pada manusia, peluang untuk menciptakan pengobatan pemulihan pun akan makin terbuka.

Profesor biologi sel Universitas Tokyo, Noboru Mizushima, yang juga terlibat dalam studi ini, mengatakan temuan tersebut bisa mengarah pada terapi yang memulihkan fungsi saraf meski gejala sudah muncul.

"Kami ingin memastikan apakah pemulihan juga dapat dilihat pada tikus tua dan pada tikus yang menjadi model penyakit ini, kemudian berupaya mengidentifikasi obat yang dapat meningkatkan aktivitas autofagi pada manusia," ujar Mizushima seperti diberitakan The Mainichi.

Add as a preferred
source on Google
Cara Memantik Autofagi pada Tubuh BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2