Saran Pramugari ke Penumpang: Jangan Pesan Soda Diet di Pesawat
Saat berada di atas pesawat, ada sejumlah minuman yang sebaiknya dihindari karena alasan kebersihan dan kenyamanan. Beberapa di antaranya, kopi dan teh yang dibuat di atas pesawat. Pasalnya minuman tersebut dibuat dari air dari tangki pesawat yang jarang dibersihkan.
Oleh karena itu, penumpang disarankan mengonsumsi minuman dalam kemasan yang lebih terjamin kebersihannya. Namun ternyata ada satu minuman kemasan yang pramugari tak ingin kamu terlalu sering memesannya, yaitu soda diet.
Lihat Juga : |
Pramugari Luke Gary mengakui, penumpang yang memesan minuman bersoda, apalagi soda diet, di pesawat merupakan salah satu pengalaman paling membuat frustrasi bagi awak kabin. Bukan karena soal kesehatan, tetapi karena dirinya canggung. Kok bisa?
Pasalnya, saat soda dituangkan, busanya kerap naik begitu cepat, sehingga harus menunggu cukup lama sebelum gelas bisa terisi penuh. Proses ini menjadi lebih merepotkan ketika pramugari harus menuangkan berkali-kali dalam satu pesanan.
"Gelembung-gelembung itu butuh waktu 60 detik untuk menghilang sebelum Anda bahkan mendapatkan seperempat cangkir. Dan kemudian Anda harus terus menuangkannya, terus menuangkannya, sambil mencoba mengajak orang itu mengobrol," tutur Gary seperti diberitakan Travel + Leisure.
Gary merasa tak masalah jika harus mengobrol dengan penumpang. Namun yang jadi masalah, tak semua penumpang mau diajak mengobrol.
"Kebanyakan dari mereka memakai headphone lagi, dan mereka tidak mau mengobrol dengan Anda, jadi apa yang harus saya lakukan selama satu menit? Berdiri canggung di sana?" kata Gary lagi.
Gelembung soda diet ternyata lebih banyak
Keluhan tersebut ternyata bukan sekadar soal repot saat melayani penumpang. Ada penjelasan ilmiah di balik mengapa soda diet cenderung lebih berbusa dibandingkan soda biasa.
Menurut laman McGill University, tingkat buih atau fizziness pada soda dipengaruhi oleh kemudahan karbon dioksida membentuk gelembung di dalam minuman. Makin mudah gelembung terbentuk, makin tinggi tingkat gas yang terasa.
Dua faktor utama yang memengaruhi hal itu, yakni tekanan permukaan dan viskositas atau kekentalan. Pada cairan dengan tekanan permukaan tinggi, molekul-molekulnya lebih kuat saling terikat sehingga gelembung lebih sulit terbentuk.
Adapun diet soda memiliki tekanan permukaan yang lebih rendah karena mengandung surfaktan dalam formulanya, termasuk pemanis buatan aspartam dan bahan pengawet kalium benzoat. Kondisi ini membuat gelembung lebih mudah muncul.
Selain itu, viskositas juga berperan. Cairan yang lebih kental biasanya menghasilkan lebih sedikit gelembung, tetapi gelembung yang muncul cenderung bertahan lebih lama.
Dalam kasus soda diet, viskositasnya sedikit lebih tinggi ketimbang soda biasa, sehingga busanya lebih stabil dan tidak cepat hilang. Itulah mengapa soda diet bukan hanya lebih berbusa, tetapi juga menghasilkan busa yang bertahan lebih lama.
Bagi sebagian penumpang pesawat, menunggu soda diet dituangkan ke gelas memang bukan masalah besar. Namun jika ingin menghindari kerepotan dan menjaga pelayanan tetap lancar, pilihan paling aman tetap minuman yang sederhana, yakni air mineral. Tentu saja, air mineral dalam kemasan dari bandara jauh lebih disarankan ketimbang air keran pesawat.
(rti)