6 Kebiasaan yang Diam-diam Merusak Kesehatan Hati, Perlu Dihindari

CNN Indonesia
Jumat, 31 Jul 2026 20:00 WIB
Terdapat beberapa kebiasaan sepele yang ternyata diam-diam merusak organ hati. Ini berasal dari aktivitas sehari-hari yang sering dianggap sepele.
Ilustrasi. Terdapat beberapa kebiasaan sepele yang ternyata diam-diam merusak organ hati. Ini berasal dari aktivitas sehari-hari yang sering dianggap sepele. (iStock/PonyWang)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Kebiasaan yang diam-diam merusak hati bisa berasal dari aktivitas sehari-hari yang sering dianggap sepele.

Jika terus dilakukan dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit hati, mulai dari perlemakan hati hingga sirosis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, hati merupakan organ vital yang bekerja tanpa henti untuk menyaring racun, membantu proses metabolisme, mengubah makanan menjadi energi, serta menyimpan berbagai nutrisi penting bagi tubuh.

Dengan mengenali dan menghindari kebiasaan yang diam-diam merusak hati, kamu bisa membantu menjaga fungsi organ ini tetap optimal dan menurunkan risiko berbagai penyakit hati di kemudian hari.

Daftar kebiasaan yang diam-diam merusak hati

Melansir dari berbagai sumber, berikut kebiasaan yang diam-diam merusak hati yang perlu kamu hindari.

1. Konsumsi alkohol berlebihan

Mengonsumsi alkohol secara berlebihan menjadi salah satu penyebab utama kerusakan hati. Kebiasaan ini dapat memicu penumpukan lemak, peradangan, hingga terbentuknya jaringan parut yang mengganggu fungsi hati secara permanen.

2. Pola makan tidak sehat

Makanan tinggi gula, lemak jenuh, dan makanan olahan dapat meningkatkan risiko perlemakan hati, terutama jika disertai kelebihan berat badan atau diabetes tipe 2. Kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan hati yang lebih serius jika tidak dikendalikan.

3. Mengonsumsi obat atau suplemen sembarangan

Penggunaan obat, suplemen, maupun produk herbal tanpa mengikuti dosis yang dianjurkan dapat membebani kerja hati. Beberapa jenis obat bahkan dapat menyebabkan kerusakan hati apabila dikonsumsi secara berlebihan atau dalam jangka panjang tanpa pengawasan tenaga medis.

4. Kurang bergerak

Gaya hidup yang minim aktivitas fisik meningkatkan risiko obesitas dan resistensi insulin, dua faktor yang berkaitan erat dengan penyakit hati berlemak. Berolahraga secara rutin membantu menjaga metabolisme dan mengurangi penumpukan lemak pada hati.

5. Berbagi jarum atau hubungan seks tanpa perlindungan

Kebiasaan berbagi jarum suntik maupun melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan dapat meningkatkan risiko tertular hepatitis B dan hepatitis C. Kedua infeksi virus tersebut dapat berkembang menjadi penyakit hati kronis apabila tidak ditangani dengan baik.

6. Mengabaikan pemeriksaan kesehatan

Banyak penyakit hati tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk tes fungsi hati bila diperlukan, menjadi langkah penting untuk mendeteksi gangguan lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Menjaga kesehatan hati dapat dimulai dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, membatasi konsumsi alkohol, serta menggunakan obat sesuai anjuran.

Selain itu, lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko penyakit hati.

(fef/han/fef)