Dokter Ingatkan Dengue Tak Hanya Bisa Dilawan dengan 3M
Dengue tak lagi bisa dianggap sebagai penyakit yang hanya muncul saat musim hujan. Di Indonesia, risiko penularannya kini terjadi sepanjang tahun sehingga upaya pencegahan tidak bisa dilakukan secara musiman atau hanya ketika kasus mulai meningkat.
Para ahli menilai pendekatan pengendalian dengue juga harus berubah. Selama ini masyarakat mengenal gerakan 3M Plus sebagai langkah utama mencegah penyebaran nyamuk penyebab dengue. Namun, di tengah masih tingginya kasus dan besarnya dampak penyakit ini, pencegahan dinilai perlu dilakukan secara lebih komprehensif.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan ancaman dengue kini tidak bisa lagi dihadapi hanya dengan satu atau dua upaya pencegahan konvensional.
"Menghadapi ancaman penyakit dengue yang begitu berat dan meluas, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan satu atau dua upaya pencegahan konvensional seperti 3M Plus. Kita membutuhkan sesuatu yang komprehensif," kata Sri dalam keterangannya.
Menurut dia, strategi pencegahan perlu mengintegrasikan pengendalian vektor nyamuk, penguatan diagnosis dini di fasilitas kesehatan, serta adopsi intervensi medis yang inovatif seperti vaksinasi.
"Hanya melalui upaya komprehensif inilah kita dapat membangun perlindungan yang kuat bagi anak-anak dan masyarakat luas dari dengue," ujarnya.
Ancaman dengue di Indonesia memang masih besar. Studi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan pada 2024 beban ekonomi akibat dengue mencapai sekitar USD550,9 juta atau hampir Rp9 triliun. Pada periode yang sama, penyakit ini diperkirakan menyebabkan lebih dari 2 juta kasus rawat inap di Indonesia.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa dengue bukan sekadar persoalan tingginya angka kasus, tetapi telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak luas terhadap sistem kesehatan maupun kehidupan keluarga.
Dalam strategi pencegahan yang lebih menyeluruh, vaksinasi dengue kini mulai dipandang sebagai salah satu intervensi yang dapat melengkapi upaya pengendalian penyakit. Guru Besar Departemen Farmakologi dan Terapi Jarir At Thobari memaparkan hasil kajian pemodelan ekonomi kesehatan yang dipresentasikan pada 9th Asia Dengue Summit 2026 di Singapura.
Berdasarkan pemodelan tersebut, implementasi vaksinasi dengue di Indonesia diproyeksikan dapat berkontribusi menurunkan kasus dengue bergejala, angka rawat inap, hingga kematian selama 20 tahun. Kajian itu juga memperkirakan penurunan beban penyakit sebesar 1,1 juta hingga 1,3 juta Disability-Adjusted Life Years (DALY), yakni ukuran yang menggambarkan hilangnya tahun kehidupan sehat akibat penyakit, kecacatan, atau kematian dini.
Menurut Jarir, jika dilihat dari perspektif masyarakat, manfaat vaksinasi tidak hanya diukur dari sisi kesehatan, tetapi juga dari penghematan biaya yang harus ditanggung keluarga serta berkurangnya kehilangan produktivitas. Kajian tersebut memperkirakan implementasi vaksinasi dengue berpotensi menghasilkan penghematan biaya sebesar USD329 juta hingga USD731 juta atau sekitar Rp5,2 triliun hingga Rp11,5 triliun dalam kurun waktu 20 tahun.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat pencegahan dengue di Indonesia, PT Takeda Innovative Medicines terus menjalin kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, organisasi profesi, tenaga kesehatan, sektor pendidikan, hingga media. Kolaborasi tersebut dilakukan melalui edukasi berkelanjutan dan dukungan terhadap upaya pencegahan dengue yang lebih komprehensif.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines Andreas Gutknecht mengatakan seluruh masyarakat berisiko terinfeksi virus dengue dan pada sebagian kasus penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi yang berat. Menurut dia, peningkatan pemahaman masyarakat mengenai risiko dengue serta langkah-langkah perlindungan sejak dini menjadi bagian penting dalam menekan dampak penyakit tersebut.
"Kami terus berkomitmen bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung upaya pencegahan dengue yang komprehensif, melalui edukasi berkelanjutan dan perluasan akses terhadap pencegahan dengue yang inovatif agar semakin banyak keluarga Indonesia dapat memahami risiko dengue dan mengambil langkah perlindungan sejak dini," ujar Andreas.
Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang DKI Jakarta Rismala Dewi mengatakan dengue masih menjadi tantangan kesehatan yang perlu dihadapi bersama. Menurut dia, dokter anak memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada orang tua, mendorong deteksi dini, serta membantu keluarga memahami berbagai langkah perlindungan untuk mengurangi risiko maupun dampak dengue pada anak.
"Penanganan dengue memang harus menyeluruh, korbannya bukan hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak yang rentan terkena penyakit ini," kata dia.
(tis/tis)