Arti Istilah Londo Ireng, Prabowo Sebut Mereka Masih Ada Hingga Kini

CNN Indonesia
Selasa, 28 Jul 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Presiden Prabowo Subianto menyebut Londo Ireng masih ada hingga kini. Apa arti istilah Londo Ireng? (Rusman-Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam pidatonya di Puncak Harlah ke-28 PKB, Presiden Prabowo Subianto menyebut Londo Ireng masih ada hingga sekarang. Sebenarnya, apa arti istilah Londo Ireng?

Topik Londo Ireng belakangan ramai dibicarakan publik berkat pidato Prabowo. Di momen Puncak Harlah ke-28 PKB, Prabowo menyinggung bahwa Londo Ireng masih ada yang bersembunyi di balik identitas atau pekerjaan tertentu.

"Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis apa itu? pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?" kata Prabowo dalam pidatonya pada Kamis (23/7).

Arti istilah Londo Ireng

Londo Ireng jika diartikan secara harfiah bisa berarti Belanda hitam. Dulu kaum kolonial khususnya Belanda disebut "Londo", sedangkan "ireng" dalam bahasa Jawa artinya hitam.

Istilah Londo Ireng merujuk pada tentara sewaan termasuk pribumi yang bekerja untuk kepentingan kolonial Hindia Belanda. Selain kaum pribumi, tentara bayaran ini juga ada yang berasal dari Afrika Barat seperti Ghana dan Burkina Faso.

Londo Ireng yang disinggung Prabowo mengarah pada pribumi yang mendukung kolonial. Dia berkata sejak dulu sudah ada orang-orang Indonesia yang tidak patriotik.

Pakar komunikasi politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Zen Amirudin berkata dalam perkembangannya, istilah ini memang identik dengan sosok "musuh dalam selimut".

Menurut dia, penggunaan frasa ini bukan sekadar pilihan kata melainkan metafora politik yang mengandung makna historis sekaligus psikologis.

"Metafora ini membangkitkan memori kolektif bangsa tentang trauma pengkhianatan dari dalam," kata Zen seperti dikutip dari laman UMM.

Dalam komunikasi politik, penggunaan istilah Londo Ireng membawa konsekuensi apalagi dikaitkan dengan kelompok masyarakat sipil yang aktif mengkritik pemerintah.

Menurut Zen, dalam dinamika politik saat ini, jurnalis, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan aktivis sering dicurigai membawa agenda atau pendanaan dari pihak asing.

Mengingat arti istilah Londo Ireng ini, Zen mengatakan ada dampak-dampak yang musti diwaspadai salah satunya risiko delegitimasi terhadap fungsi watchdog.

Kelompok masyarakat sipil yang menjalankan fungsi kontrol sosial bisa kehilangan kepercayaan publik jika terus-terusan dicap pendukung kepentingan asing.

"Kedaulatan negara memang harus dijaga dari infiltrasi asing. Namun, jangan sampai setiap suara kritis dari jurnalis maupun LSM dengan mudah disederhanakan sebagai tindakan 'Londo Ireng'," imbuhnya.

(els)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK