Pendaki Nekat Bawa Sapi Hidup ke Gunung Rinjani Panen Kritik Netizen

CNN Indonesia
Selasa, 28 Jul 2026 17:00 WIB
Ilustrasi sapi. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aksi sekelompok pendaki yang nekat membawa seekor sapi hidup saat mendaki Gunung Rinjani melalui jalur Torean, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), viral di media sosial.

Kenekatan tersebut memicu gelombang kecaman publik. Sapi malang itu dipaksa menanjak demi dijadikan persediaan bahan konsumsi rombongan.

Dalam cuplikan video yang diunggah ulang oleh akun Instagram @pendakilawas, tampak seekor sapi kesulitan dan tersiksa saat dipaksa menaiki tangga terjal di medan berbatu. Seseorang terlihat menuntun dan menarik paksa tali pengikat sapi tersebut dari arah atas.

Berdasarkan keterangan unggahan, sapi tersebut dibawa untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan bagi 10 tamu dan 14 porter. Namun, beratnya medan membuat perjalanan sang sapi terhenti di kawasan Cikararat/Goa Susu, dekat Danau Segara Anak. Rombongan akhirnya memutuskan untuk menyembelih dan mengolah sapi tersebut di lokasi.

Sontak, aksi tersebut memanen kritik pedas dari netizen hingga figur publik karena dianggap tidak etis, tidak beradab, serta menyiksa hewan.

"Izin, jangan terlalu caper mas. Yang mampu beli sapi bukan Anda doang. Yang normal-normal aja, perlakukanlah hewan konsumsi lebih manusiawi. Habis ini peradabannya tolong di-upgrade," sindir komika yang juga aktor, Dodit Mulyanto melalui akun @dodit_mul.

"Menurut saya pribadi tidak etis dan tidak beradab kalau kita membawa makhluk hidup/hewan dengan susah payah ikutan nanjak dan pada akhirnya akan disembelih. Lebih baik disembelih di bawah, tidak dibawa mendaki," tulis akun @hasrulzain.

Menanggapi kehebohan yang terjadi, Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Astekita Ardiaristo, mengonfirmasi bahwa rekaman video yang beredar tersebut merupakan peristiwa lama yang terjadi pada tahun lalu di jalur pendakian Torean.

Astekita menegaskan bahwa tindakan membawa hewan jenis apa pun ke dalam kawasan konservasi merupakan pelanggaran berat terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian TNGR.

"Sudah ada di SOP pendakian kita terkait ini, tidak boleh membawa hewan atau satwa ke kawasan," tegas Astekita, seperti dilansir Detik.

Pihak TNGR juga menduga aksi membawa sapi tersebut kemungkinan berkaitan dengan tradisi upacara budaya atau pemenuhan nazar oleh warga lokal.

Kendati demikian, TNGR menegaskan telah melakukan edukasi, koordinasi, dan sosialisasi secara masif agar tindakan melanggar hukum dan etika pendakian tersebut tidak kembali terulang.

(wiw)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK