Canggu dikenal sebagai kawasan yang ramai dan kehidupan malamnya. Namun, ada sisi lain yang tenang yang bisa ditemukan di wilayah pesisir barat daya Bali ini. (Foto: CNN Indonesia/Fersita Felicia Facette)
Jakarta, CNN Indonesia --
Lima belas tahun lalu, ketika terakhir kali menginjakkan kaki di Bali, Canggu belum menjadi nama yang muncul di kepala ketika membicarakan pulau ini. Setidaknya, bukan di kepala saya.
Kala itu, Bali identik dengan Kuta, Sanur, atau Ubud. Canggu terasa seperti sudut pesisir yang jauh dari hiruk-pikuk destinasi utama.
Waktu rupanya mengubah banyak hal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya pun kembali ke Pulau Dewata pada awal September 2026 atas undangan Holiday Inn Resort Bali Canggu. Resor ini berlokasi di Jalan Pantai Batu Bolong, Canggu, Bali. Saya mendapati kawasan ini sudah menjelma jadi tempat yang berbeda.
Jalan-jalannya sesak oleh lalu-lalang kendaraan bermotor. Kafe dan coffee shop berdiri rapat di sepanjang jalan. Pun restoran, butik, hingga beach club modern berjejer seolah tak habis untuk dijelajahi.
Turis dari berbagai negara berjalan kaki dengan pakaian santai ala pantai. Para digital nomad betah nongkrong berjam-jam di depan laptop.
Jelang sore, lalu lintas kian padat. Saat malam datang, barulah terasa seperti Canggu baru benar-benar hidup.
Di beberapa titik, musik mulai terdengar dari balik pintu restoran dan bar. Lampu-lampu menyala, orang-orang berlalu-lalang.
Namun, di balik geliat itu, Canggu masih menyimpan pesona pesisirnya. Pantai-pantai dengan pasir yang terhampar luas masih menjadi tujuan peselancar. Ombak datang menggulung tinggi, angin laut bertiup kencang, dan layang-layang menghiasi langit senja.
Canggu seakan punya dua sisi. Riuhnya terus sejak pagi hingga malam, tetapi di sela itu, ada ruang untuk mengambil napas.
Jeda di jantung Canggu
Resor bintang lima ini seperti menawarkan pengalaman yang kontras dengan hiruk-pikuk Canggu yang saya rasakan di luar. Begitu masuk area resor, keramaian seolah tertinggal di luar.
Elemen kayu mendominasi berbagai sudut, berpadu dengan sentuhan seni khas Bali dan ornamen bertema selancar serta laut. Kesan pertama yang muncul adalah hangat.
Bukan karena cuaca Bali akrab dengan matahari, melainkan suasana yang terasa tenang dan nyaman. Detail tersebut yang membuat bangunan modern yang baru dibuka pada akhir 2023 ini tidak terasa 'dingin'.
Holiday Inn Resort Bali Canggu (Foto: Tangkapan layar web canggu.holidayinnresorts.com)
General Manager Holiday Inn Resort Bali Canggu by IHG, Ankit Airon, mengatakan resort ini memiliki karakter tersendiri dibandingkan properti Holiday Inn Resort lainnya di Bali.
Selain dari segi desain, yang menjadi andalan resort ini adalah Roomah, restoran utama yang mengusung konsep semi-buffet dengan pilihan menu nusantara sekaligus internasional.
Tamu bisa memilih dari deretan hidangan buffet, sementara beberapa menu lain disajikan secara à la carte langsung dari dapur.
"Chef kami menciptakan pengalaman makan yang sayang untuk dilewatkan. Hampir semua sajian di sini dibuat sendiri dari nol, termasuk sourdough dan makanan lain yang diracik langsung di dapur dengan bahan-bahan pilihan," ujarnya.
Holiday Inn Resort Bali Canggu menjadi salah satu dari lima Holiday Inn Resort yang ada di Indonesia. Tiga di antaranya berada di Bali, yakni di Canggu, Nusa Dua, dan Baruna, sementara dua lainnya berada di Batam dan Bintan.
Namun, masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Terutama di Canggu, identitas itu terasa kuat lewat perpaduan desain modern dengan unsur kayu dan sentuhan budaya Bali.
Saya berkesempatan menempati kamar suite dengan pemandangan Samudra Hindia dan kawasan Pantai Batu Bolong. Dari balkon kamar, laut menjadi pemandangan utama yang sulit untuk diabaikan.
Sebelum Canggu 'terbangun'
Holiday Inn Resort Bali Canggu Foto: Tangkapan layar web canggu.holidayinnresorts.com
Pagi kedua di Canggu menjadi salah satu momen yang paling membekas. Sekitar pukul 04.30 WITA saya bangun. Langit masih gelap ketika saya membuka tirai dan pintu balkon.
Perlahan, mata mulai terbiasa dengan pemandangan di depan. Laut dan langit tampak seperti menyatu, dipisahkan oleh garis tipis di kejauhan.
Terdengar dengan jelas di telinga hanya ada cicit burung, sesekali suara tokek, dan debur ombak yang datang bergantian.
Tanpa suara musik, tanpa deru kendaraan. Saya duduk cukup lama sampai langit perlahan terang.
Barangkali tak ada yang istimewa dari pagi itu. Namun, justru itu yang membuat pagi saya kala itu terasa berbeda. Sebab di Jakarta, pagi hampir sulit dinikmati.
Menempa sabar dari sebuah perak
Proses peleburan biji perak sebagai tahap awal pembuatan perhiasan. (CNN Indonesia/Fersita Felicia Facette)
Ketenangan yang saya dapatkan selama perjalanan ini nyatanya tak selalu hadir ketika berdiam diri. Melainkan dapat muncul ketika tangan mulai bekerja.
Saya mengikuti kelas membuat perhiasan perak di kawasan Brawa, tak jauh dari tempat menginap. Saya bertemu dengan Wayan Ino, pengrajin yang telah menekuni pekerjaannya selama sekitar 23 tahun.
Sehari-hari bekerja di ibu kota, saya tak pernah membayangkan akan duduk dan membuat cincin sendiri. Prosesnya jauh lebih rumit daripada yang saya kira.
Biji perak dilebur, kemudian material cair dipadatkan kembali menjadi ingot, lalu ditempa, dibentuk, hingga dipoles.
Saya menyadari satu hal. Selama ini, kita begitu terbiasa melihat sesuatu dalam bentuk akhir. Seperti cincin, tinggal beli lalu pakai. Padahal, di balik benda kecil itu, ada waktu, keterampilan, kesabaran, dan sentuhan tangan manusia.
"Saya sudah merasa sejak sekitar 2005, kehadiran mesin dan produk murah yang diproduksi massal membuat pembuatan manual makin sulit," ujarnya.
Katanya, sekarang barang bisa dibuat lebih cepat dan lebih murah. Tapi ada satu yang sulit digantikan, itulah rasa seni yang lahir dari tangan.
Baca halaman selanjutnya...
Sejenak mendengarkan tubuh
Pengalaman lain datang dalam bentuk yang bahkan belum pernah saya coba sebelumnya. Bahkan mendengar saja tidak. "Apa itu chakra balancing?" batinku.
Di kamar, seorang healer berpakaian adat madya datang. Ia memulai sesi dengan menghitung serta mengidentifikasi chakra berdasarkan tanggal dan tahun kelahiran. Dari sana, ia menjelaskan chakra mana dari saya yang dianggap dominan.
"Chakra itu adalah pusat energi yang ada di dalam tubuh kita (manusia). Setiap orang punya main chakra," kata Mbok Ika.
Tapi stres dan pengalaman emosional lain dapat mengganggu keseimbangan chakra. Makanya, chakra balancing dilakukan untuk membantu mengembalikan keseimbangan energi, sekaligus pemulihan pada tubuh dan pikiran.
Saya memulai sesi itu dengan penasaran. Tak lama, mata kemudian ditutup dengan kain. Dalam posisi berbaring, indera saya perlahan menjadi lebih peka pada suara dan sensasi yang hadir di tubuh.
Terdengar pelan mantra yang dirapalkan. Ada sentuhan ringan dari batu-batu kecil yang diletakkan di tubuh saya. Lalu, dengung singing bowl berbahan kuningan terasa bergetar di telinga saya.
Entah bagaimana sesi itu membuat rileks. Ternyata ketika mata tertutup, kita lebih mudah menyadari suara-suara dan vibrasi kecil yang biasanya luput dari perhatian.
Kala yoga mengajarkan cara melambat
wisata di Canggu, Bali Foto: CNN Indonesia/Fersita Felicia Facette
Hari terakhir dimulai dengan flow yoga di rooftop deck. Pagi itu, sekitar 10 peserta yang seluruhnya merupakan tamu resort mengikuti kelas bersama seorang instruktur.
Lagi-lagi, sebagai pemula saya datang dengan anggapan yoga tidak akan terlalu sulit. Ternyata salah.
Mengatur napas sambil menyelaraskannya dengan gerakan tubuh membutuhkan konsentrasi tersendiri. Gerakannya memang perlahan, tetapi justru karena itu saya lebih menyadari setiap rasa bagian tubuh.
Instruktur yoga hari itu menjelaskan bahwa sesi dirancang agar cukup ramah bagi pemula.
"Gerakannya relatif sederhana dengan jeda yang tidak terlalu panjang, tetapi tetap membantu melatih fleksibilitas, kelenturan, dan kekuatan tubuh," kata Hurip di akhir sesi.
Ada satu hal yang paling saya rasakan dari pengalaman yoga pertama itu. Ternyata, melambat juga membutuhkan latihan.
Kita terbiasa bergerak cepat, berpikir cepat, bahkan kadang bernapas tanpa benar-benar menyadarinya. Yoga membuat saya menyadari sejenak hal-hal yang biasanya terjadi secara otomatis.
Di rooftop, dengan langit Bali di atas kepala dan laut yang terbentang lekat dari pandangan, latihan itu terasa seperti penutup yang pas.
Menemukan tenang dengan cara sendiri
Canggu mungkin tetap akan menjadi Canggu yang ramai. Jalanan, kafe, dan beach club penuh wisatawan, serta jedag-jedug musik remix akan terus menjadi bagian dari kawasan ini.
Namun, perjalanan kali ini menyadarkan saya bahwa sebuah tempat tak selalu hanya punya satu wajah. Canggu yang saya temui bukan hanya tentang keramaian.
Ada pagi yang masih sunyi. Ada tangan yang sibuk membentuk perak. Ada mata yang ditutup untuk mendengarkan tubuh sendiri. Ada napas yang diselaraskan bersama gerakan yoga.
Mungkin, menemukan tenang tak selalu berarti pergi ke tempat yang benar-benar sunyi. Kadang, ketenangan justru ditemukan ketika kita bisa menciptakannya.
Dan di Canggu, saya menemukan tenang itu. Bukan jauh dari keramaian, melainkan tepat di antaranya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Lima belas tahun lalu, ketika terakhir kali menginjakkan kaki di Bali, Canggu belum menjadi nama yang muncul di kepala ketika membicarakan pulau ini. Setidaknya, bukan di kepala saya.
Kala itu, Bali identik dengan Kuta, Sanur, atau Ubud. Canggu terasa seperti sudut pesisir yang jauh dari hiruk-pikuk destinasi utama.
Waktu rupanya mengubah banyak hal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya pun kembali ke Pulau Dewata pada awal September 2026 atas undangan Holiday Inn Resort Bali Canggu. Resor ini berlokasi di Jalan Pantai Batu Bolong, Canggu, Bali. Saya mendapati kawasan ini sudah menjelma jadi tempat yang berbeda.
Jalan-jalannya sesak oleh lalu-lalang kendaraan bermotor. Kafe dan coffee shop berdiri rapat di sepanjang jalan. Pun restoran, butik, hingga beach club modern berjejer seolah tak habis untuk dijelajahi.
Turis dari berbagai negara berjalan kaki dengan pakaian santai ala pantai. Para digital nomad betah nongkrong berjam-jam di depan laptop.
Jelang sore, lalu lintas kian padat. Saat malam datang, barulah terasa seperti Canggu baru benar-benar hidup.
Di beberapa titik, musik mulai terdengar dari balik pintu restoran dan bar. Lampu-lampu menyala, orang-orang berlalu-lalang.
Namun, di balik geliat itu, Canggu masih menyimpan pesona pesisirnya. Pantai-pantai dengan pasir yang terhampar luas masih menjadi tujuan peselancar. Ombak datang menggulung tinggi, angin laut bertiup kencang, dan layang-layang menghiasi langit senja.
Canggu seakan punya dua sisi. Riuhnya terus sejak pagi hingga malam, tetapi di sela itu, ada ruang untuk mengambil napas.
Jeda di jantung Canggu
Resor bintang lima ini seperti menawarkan pengalaman yang kontras dengan hiruk-pikuk Canggu yang saya rasakan di luar. Begitu masuk area resor, keramaian seolah tertinggal di luar.
Elemen kayu mendominasi berbagai sudut, berpadu dengan sentuhan seni khas Bali dan ornamen bertema selancar serta laut. Kesan pertama yang muncul adalah hangat.
Bukan karena cuaca Bali akrab dengan matahari, melainkan suasana yang terasa tenang dan nyaman. Detail tersebut yang membuat bangunan modern yang baru dibuka pada akhir 2023 ini tidak terasa 'dingin'.
Holiday Inn Resort Bali Canggu (Foto: Tangkapan layar web canggu.holidayinnresorts.com)
General Manager Holiday Inn Resort Bali Canggu by IHG, Ankit Airon, mengatakan resort ini memiliki karakter tersendiri dibandingkan properti Holiday Inn Resort lainnya di Bali.
Selain dari segi desain, yang menjadi andalan resort ini adalah Roomah, restoran utama yang mengusung konsep semi-buffet dengan pilihan menu nusantara sekaligus internasional.
Tamu bisa memilih dari deretan hidangan buffet, sementara beberapa menu lain disajikan secara à la carte langsung dari dapur.
"Chef kami menciptakan pengalaman makan yang sayang untuk dilewatkan. Hampir semua sajian di sini dibuat sendiri dari nol, termasuk sourdough dan makanan lain yang diracik langsung di dapur dengan bahan-bahan pilihan," ujarnya.
Holiday Inn Resort Bali Canggu menjadi salah satu dari lima Holiday Inn Resort yang ada di Indonesia. Tiga di antaranya berada di Bali, yakni di Canggu, Nusa Dua, dan Baruna, sementara dua lainnya berada di Batam dan Bintan.
Namun, masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Terutama di Canggu, identitas itu terasa kuat lewat perpaduan desain modern dengan unsur kayu dan sentuhan budaya Bali.
Saya berkesempatan menempati kamar suite dengan pemandangan Samudra Hindia dan kawasan Pantai Batu Bolong. Dari balkon kamar, laut menjadi pemandangan utama yang sulit untuk diabaikan.
Sebelum Canggu 'terbangun'
Holiday Inn Resort Bali Canggu Foto: Tangkapan layar web canggu.holidayinnresorts.com
Pagi kedua di Canggu menjadi salah satu momen yang paling membekas. Sekitar pukul 04.30 WITA saya bangun. Langit masih gelap ketika saya membuka tirai dan pintu balkon.
Perlahan, mata mulai terbiasa dengan pemandangan di depan. Laut dan langit tampak seperti menyatu, dipisahkan oleh garis tipis di kejauhan.
Terdengar dengan jelas di telinga hanya ada cicit burung, sesekali suara tokek, dan debur ombak yang datang bergantian.
Tanpa suara musik, tanpa deru kendaraan. Saya duduk cukup lama sampai langit perlahan terang.
Barangkali tak ada yang istimewa dari pagi itu. Namun, justru itu yang membuat pagi saya kala itu terasa berbeda. Sebab di Jakarta, pagi hampir sulit dinikmati.
Menempa sabar dari sebuah perak
Proses peleburan biji perak sebagai tahap awal pembuatan perhiasan. (CNN Indonesia/Fersita Felicia Facette)
Ketenangan yang saya dapatkan selama perjalanan ini nyatanya tak selalu hadir ketika berdiam diri. Melainkan dapat muncul ketika tangan mulai bekerja.
Saya mengikuti kelas membuat perhiasan perak di kawasan Brawa, tak jauh dari tempat menginap. Saya bertemu dengan Wayan Ino, pengrajin yang telah menekuni pekerjaannya selama sekitar 23 tahun.
Sehari-hari bekerja di ibu kota, saya tak pernah membayangkan akan duduk dan membuat cincin sendiri. Prosesnya jauh lebih rumit daripada yang saya kira.
Biji perak dilebur, kemudian material cair dipadatkan kembali menjadi ingot, lalu ditempa, dibentuk, hingga dipoles.
Saya menyadari satu hal. Selama ini, kita begitu terbiasa melihat sesuatu dalam bentuk akhir. Seperti cincin, tinggal beli lalu pakai. Padahal, di balik benda kecil itu, ada waktu, keterampilan, kesabaran, dan sentuhan tangan manusia.
"Saya sudah merasa sejak sekitar 2005, kehadiran mesin dan produk murah yang diproduksi massal membuat pembuatan manual makin sulit," ujarnya.
Katanya, sekarang barang bisa dibuat lebih cepat dan lebih murah. Tapi ada satu yang sulit digantikan, itulah rasa seni yang lahir dari tangan.
Baca halaman selanjutnya...
Menemukan Tenang di Antara Riuh Canggu
Canggu dikenal sebagai kawasan yang ramai dan kehidupan malamnya. Namun, ada sisi lain yang tenang yang bisa ditemukan di wilayah pesisir barat daya Bali ini. (Foto: CNN Indonesia/Fersita Felicia Facette)
Sejenak mendengarkan tubuh
Pengalaman lain datang dalam bentuk yang bahkan belum pernah saya coba sebelumnya. Bahkan mendengar saja tidak. "Apa itu chakra balancing?" batinku.
Di kamar, seorang healer berpakaian adat madya datang. Ia memulai sesi dengan menghitung serta mengidentifikasi chakra berdasarkan tanggal dan tahun kelahiran. Dari sana, ia menjelaskan chakra mana dari saya yang dianggap dominan.
"Chakra itu adalah pusat energi yang ada di dalam tubuh kita (manusia). Setiap orang punya main chakra," kata Mbok Ika.
Tapi stres dan pengalaman emosional lain dapat mengganggu keseimbangan chakra. Makanya, chakra balancing dilakukan untuk membantu mengembalikan keseimbangan energi, sekaligus pemulihan pada tubuh dan pikiran.
Saya memulai sesi itu dengan penasaran. Tak lama, mata kemudian ditutup dengan kain. Dalam posisi berbaring, indera saya perlahan menjadi lebih peka pada suara dan sensasi yang hadir di tubuh.
Terdengar pelan mantra yang dirapalkan. Ada sentuhan ringan dari batu-batu kecil yang diletakkan di tubuh saya. Lalu, dengung singing bowl berbahan kuningan terasa bergetar di telinga saya.
Entah bagaimana sesi itu membuat rileks. Ternyata ketika mata tertutup, kita lebih mudah menyadari suara-suara dan vibrasi kecil yang biasanya luput dari perhatian.
Kala yoga mengajarkan cara melambat
wisata di Canggu, Bali Foto: CNN Indonesia/Fersita Felicia Facette
Hari terakhir dimulai dengan flow yoga di rooftop deck. Pagi itu, sekitar 10 peserta yang seluruhnya merupakan tamu resort mengikuti kelas bersama seorang instruktur.
Lagi-lagi, sebagai pemula saya datang dengan anggapan yoga tidak akan terlalu sulit. Ternyata salah.
Mengatur napas sambil menyelaraskannya dengan gerakan tubuh membutuhkan konsentrasi tersendiri. Gerakannya memang perlahan, tetapi justru karena itu saya lebih menyadari setiap rasa bagian tubuh.
Instruktur yoga hari itu menjelaskan bahwa sesi dirancang agar cukup ramah bagi pemula.
"Gerakannya relatif sederhana dengan jeda yang tidak terlalu panjang, tetapi tetap membantu melatih fleksibilitas, kelenturan, dan kekuatan tubuh," kata Hurip di akhir sesi.
Ada satu hal yang paling saya rasakan dari pengalaman yoga pertama itu. Ternyata, melambat juga membutuhkan latihan.
Kita terbiasa bergerak cepat, berpikir cepat, bahkan kadang bernapas tanpa benar-benar menyadarinya. Yoga membuat saya menyadari sejenak hal-hal yang biasanya terjadi secara otomatis.
Di rooftop, dengan langit Bali di atas kepala dan laut yang terbentang lekat dari pandangan, latihan itu terasa seperti penutup yang pas.
Menemukan tenang dengan cara sendiri
Canggu mungkin tetap akan menjadi Canggu yang ramai. Jalanan, kafe, dan beach club penuh wisatawan, serta jedag-jedug musik remix akan terus menjadi bagian dari kawasan ini.
Namun, perjalanan kali ini menyadarkan saya bahwa sebuah tempat tak selalu hanya punya satu wajah. Canggu yang saya temui bukan hanya tentang keramaian.
Ada pagi yang masih sunyi. Ada tangan yang sibuk membentuk perak. Ada mata yang ditutup untuk mendengarkan tubuh sendiri. Ada napas yang diselaraskan bersama gerakan yoga.
Mungkin, menemukan tenang tak selalu berarti pergi ke tempat yang benar-benar sunyi. Kadang, ketenangan justru ditemukan ketika kita bisa menciptakannya.
Dan di Canggu, saya menemukan tenang itu. Bukan jauh dari keramaian, melainkan tepat di antaranya.