Merayakan Kejayaan Maritim Nusantara di Museum Bahari
Lagu "Nenek Moyangku" ciptaan Ibu Sud rasanya bukan sekadar lagu anak-anak biasa. Berkunjung ke Museum Bahari di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, membuktikan bahwa leluhur bangsa Indonesia adalah pelaut hebat.
Perjalanan ke utara Jakarta bakal lengkap jika kamu berkunjung ke Museum Bahari. Mulanya, gedung museum merupakan gudang penyimpanan rempah dan sejumlah komoditas perdagangan VOC. Setelah beberapa kali beralih fungsi, pada 1976 gedung dipugar dan direvitalisasi, lalu diresmikan menjadi Museum Bahari Indonesia pada 1977.
Bangunan museum tak banyak berubah sejak era kolonial. Namun yang bakal membuatmu takjub, yaitu langit-langit gedung yang begitu rendah saat masuk lantai 1. Padahal umumnya bangunan Belanda didesain dengan langit-langit sangat tinggi.
Di lantai yang disebut area Pelayaran Awal ini, terdapat kolam pengukur tinggi air tanah. Melongok ke lubang persegi yang mirip kolam, kamu akan menemukan lantai asli museum sebelum dinaikkan setinggi 120 cm. Lubang tersebut akan penuh air ketika turun hujan dengan intensitas tinggi dan kenaikan permukaan air laut (banjir rob).
Meski ada kesan sempit karena langit-langit yang pendek, ini tidak mengurangi esensi perjalanan perlayaran awal di Nusantara. Kamu bakal menemukan replika dan kapal asli kapal-kapal tradisional dari berbagai wilayah Indonesia.
Terdapat Janggolan Madura yang mampu mengangkut muatan seberat 200 ton, perahu Jukung Barito yang terbuat dari sebatang kayu utuh, lalu Alut Pasa dari kalimantan Timur yang hanya dipakai untuk upacara adat, juga perahu Sandeq dari Mandar, Sulawesi Barat.
Yang menakjubkan, ada perahu cadik Papua atau Seman asli terbuat dari sebatang pohon Seiba. Perahu sempat berlayar dari Papua ke Jawa sebelum akhirnya disimpan di museum. Ujung perahu dibuat ramping bahkan tajam, berguna untuk memecah ombak lautan Indonesia bagian timur yang dikenal 'ganas'.
Jangan lupa intip kerangka kapal Pinisi di salah satu sudut ruang. Perahu layar kayu tradisional khas suku Bugis dan Makassar ini beda dari perahu-perahu lain, sebab pembuatannya diawali dengan pembuatan badan terlebih dahulu, baru kerangkanya.
Bagian-bagian perahu disatukan dengan pasak, bukan dengan paku. Adapun sela-selanya ditutup dengan campuran sabut kelapa dan kapur sirih guna menghindari rembesan air laut. Pinisi pun diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Legenda seputar lautan Nusantara yang menakjubkan
Beranjak ke lantai 2, kamu akan menemukan miniatur-miniatur kapal, baik kapal tradisional maupun kapal-kapal mancanegara yang pernah berlabuh di Nusantara.
Namun di antara miniatur-miniatur itu, justru yang cukup menarik perhatian adalah legenda dan dongeng yang hidup di berbagai wilayah di Indonesia. Dongeng dan legenda itu berkaitan dengan wilayah perairan mereka.
Tentang Pesut Mahakam dari Kalimantan Timur, misalnya, legenda menyebut hewan langka ini dahulu adalah manusia. Pada selembar poster berukuran besar dituliskan kisah muasal Pesut Mahakam.
Ada dua bersaudara yang ditelantarkan orang tua mereka. Rasa rindu mendorong mereka menempuh perjalanan berhari-hari dengan medan yang berat dan tanpa makan. Mereka pun berhasil menemukan pondok baru orang tua mereka.
Saat mengetuk pintu, tak ada seorang pun menyahut. Kemudian tiba-tiba tercium aroma bubur. Perut lapar tak bisa dilawan. Mereka langsung berlari menyongsong bubur itu ke dapur.
Bubur panas lahap dimakan. Namun bukan rasa kenyang yang didapat, melainkan panas di perut yang tak kunjung hilang. Mereka pun berlari keluar, melintasi kebun pisang yang gosong ketika tersentuh. Keduanya segera terjun ke Sungai Mahakam demi meredakan panas, tetapi malang, mereka berubah menjadi pesut.
Mengamati satu per satu cerita-cerita unik dari berbagai daerah sebenarnya mampu mendekatkan pengunjung pada budaya dan tradisi maritim tiap wilayah di Nusantara. Mungkin dengan kemasan yang lebih menarik dan informatif, cerita-cerita ini pasti masih bakal hidup dan diingat generasi sekarang.
Beralih ke ruangan berbeda, terdapat diorama tokoh-tokoh Nusantara dan mancanegara yang sangat berkaitan dengan perkembangan dunia maritim Indonesia. Sebut saja ada Laksamana Keumalahayati dari Aceh yang memimpin pasukan Inong Bale, Pangeran Fatahillah sang pahlawan pembebasan Sunda Kelapa, lalu ada penjelajah laut dari China, yakni Laksamana Zheng He dan Ibnu Battutah dari Maroko.
Puas berkeliling gedung museum, sebelum beranjak jangan lupa mampir ke kompleks Menara Syahbandar. Dari jauh, menara ini sedikit miring, mengingatkan akan Menara Pisa di Italia. Dibangun pada 1839, menara ini dahulu dipakai untuk memantau keluar-masuk kapal di Batavia.
Akan tetapi setelah dibangun Pelabuhan Tanjung Priok, peran Menara Syahbandar dan Pelabuhan Sunda Kelapa berkurang. Kendati demikian, menara ini tetap digunakan untuk memonitor kegiatan pelabuhan dan pasar ikan pada 1926-1967.
Kamu bisa naik ke menara dan menikmati pemandangan di sekitar dari ketinggian. Tiket masuk kompleks Menara Syahbandar sudah menjadi satu dengan tiket Museum Bahari, yakni Rp10 ribu untuk pengunjung dewasa.
Selain berfoto, buatlah kenangan kunjungan museum dengan stempel Museum Bahari dan Menara Syahbandar yang bisa kamu peroleh di front desk Museum Bahari. Selamat menjelajah!
(els)