Nirmal, Pendaki Dunia Modern Ternama Asal Nepal Tewas di Pakistan

CNN Indonesia
Minggu, 02 Agu 2026 19:50 WIB
Ilustrasi pendaki gunung salju. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pendaki terkenal asal Nepal, Nirmal Purja (43)--yang telah mencetak sejarah selama bertahun-tahun dengan mendaki beberapa puncak tertinggi di dunia--telah dipastikan meninggal dunia setelah longsoran salju menghantam ekspedisinya di Pakistan awal pekan ini.

Mengutip dari CNN, sosok yang dikenal sebagai 'Legenda Himalaya' itu adalah salah satu dari 10 pendaki gunung yang hilang karena longsor, Kamis pekan lalu. Sebelumnya mereka diyakini berada di Puncak Broad (Broad peak) setinggi 8.047 meter, di Pakistan utara ketika longsor terjadi di wilayah tersebut sekitar tengah hari waktu setempat.

Yayasan Nimsdai--yang didirikan Purja pada 2022 lalu--pun mengonfirmasi kematian pendaki terkenal di dunia modern saat ini tersebut.

"Hari ini, kita berduka bukan hanya atas Nims, tetapi juga setiap nyawa yang hilang dalam tragedi ini termasuk rekan pendaki dan pemandu tepercayanya," bunyi unggahan Instagram tersebut dikutip Minggu (2/8).

"Warisannya akan terus hidup dalam kehidupan tak terhitung yang telah dia ubah, dan orang-orang yang telah terinpirasi darinya untuk mendaki gunung mereka sendiri," tambah unggahan tersebut.

Selain Purja, pendaki lain yang telah dipastikan tewas dalam insiden yang sama adalah Nadhira Al Harty (Oman), Pur Bahadur Gurung 'Yukta' (Nepal), dan Sarah Mallory Geis(Amerika Serikat/AS).

CNN mewartakan per akhir pekan ini, upaya penyelamatan untuk enam pendaki yang tersisa masih berlangsung. Sebelumnya pada Sabtu (1/8), petugas darurat telah menyampaikan kekhawatiran kepada CNN tentang kemungkinan longsoran salju lain yang dapat menghambat operasi penyelamatan.

Seorang pendaki gunung Pakistan memperingatkan bahwa peluang para pendaki yang tersisa untuk bertahan hidup "sangat tipis sekarang."

"Pegunungan Pakistan sangat berbeda dengan Nepal," kata Naila Kiani, juru bicara Klub Alpine Pakistan, kepada BBC seperti dilansir dari CNN.

"Beberapa daerah tersebut masih rawan longsoran salju, jadi tim penyelamat kami harus sangat berhati-hati untuk menilai apakah mereka membahayakan nyawa mereka," tambahnya.

Purja adalah seorang mantan tentara Angkatan Darat Inggris.

Dia meraih popularitas di dunia pendakian setelah melakukan serangkaian perjalanan ke puncak gunung tinggi di dunia. Dia juga berulang kali memecahkan rekor ukuran ketahanan.

Pada 2019, namanya tercatat di sejarah setelah mendaki semua 14 puncak dunia yang tingginya lebih dari 8.000 meter (26.300 kaki) - yang dijuluki badan antariksa AS (NASA )sebagai Eight Thousanders - hanya dalam waktu enam bulan.

Perjalanan hidup dan pendakiannya pun dijadikan film dokumenter yang ditayangkan Netflix dengan judul 14 Peaks: Nothing is Impossible.

Kiani, yang juga pernah mendaki 'panggung dunia' bersama Purja, mengaku melihat koleganya itu 'sangat tak takut apapun' alias fearless. Dia juga mengatakan Purja dikenal dengan semangat 'Membuat sesuatu yang mustahil jadi bisa dilakukan'.

Dalam wawancara dengan CNN pada 2019 silam, mendiang Purja mengaku dirinya ingin mengerahkan yayasannya untuk menghormati keterampilan masyarakat Sherpa di Nepal. Sherpa adalah suku etnis di Nepal yang menjadi pemandu dan pembawa barang andal bagi para pendaki gunung di pegunungan Himalaya.

Sejarah mencatat nama sherpa terkadang tenggelam di balik nama besar pendaki dunia yang mereka bantu menaklukkan puncak gunung tertinggi sejagat.

"Meskipun mereka adalah pendaki top, mereka tidak mendapatkan pengakuan yang layak," kata Purja kala itu.

"Semoga--saya pikir--saya bisa mengangkat nama mereka," imbuhnya.

Sebelum tragedi pada tengah pekan lalu, Purja baru saja mencetak rekor mencapai puncak tinggi dunia--di atas 8 ribu mdpl--ke-13 dirinya di Gasherbrum II. Gasherbrum II adalah satu dari tiga puncak tertinggi pegunungan Gasherbrum yang berada di antara perbatasan Gilgit-Baltistan, Pakistan dan Xinjiang, China.

Sementara itu, Al Harthy--pendaki perempuan asal Oman--yang dikonfirmasi tewas bersama Purja, dalam wawancara dengan CNN sebelumnya mengaku lewat kegiatan pendakiannya dia ingin memberdayakan perempuan dan gadis Muslim lainnya - termasuk 32 keponakannya - untuk menekuni olahraga ketahanan.

"Iman kita... itu membuat Anda bangkit kembali. Itu memberi Anda kekuatan, itu memberi Anda kekuasaan," kata Al Harthy pada tahun 2021.

"[Keponakan-keponakan saya] sangat kuat, dan mereka memperjuangkan hak-hak mereka," tambahnya. "Saya selalu bangun di pagi hari dan berkata, 'Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, saya di sini.'..."

(kid)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK