Anggun Tamara Ralph Berdiri Sendiri di Balik Korset dan Couture
Inspirasi dari segala penjuru
Satu hal yang membuat Tamara Ralph sulit ditebak adalah sumber inspirasinya. Koleksi pertamanya di Paris pada 2014 lahir dari sebuah buku foto karya Lillian Bassman yang diberikan oleh seorang teman. Siluet tegas dan dramatis era 1940-50-an yang, katanya, mustahil untuk diabaikan.
Setahun berikutnya, koleksi Fall/Winter tahun 2015 Ralph & Russo membawa gaung novel klasik Rusia karya Nikolai Chernyshevsky. Dan masih banyak lagi inspirasi yang digaungkan Tamara sebelumnya.
Lihat Juga :![]() Laporan dari Paris Ritual Sunyi Couture Adeline Andre lewat Lembaran Kain |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya hanya merasakannya," ujar Tamara. Inspirasi itu selalu datang kapan saja.
"Anda bisa sedang berjalan-jalan, lalu tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala," ujarnya.
Ketika ide mampet, resepnya sederhana: bernapas dalam-dalam, memejamkan mata, berbaring. Lalu, biarkan gagasan untuk bisa mengalir kembali.
Atelier: Keluarga yang tak pernah berpisah
Proses pembuatan koleksi Tamara Ralph Couture Fall/Winter 2025-2026 (CNN Indonesia/Fandi Stuerz) |
Satu hal yang paling menyentuh dari perjalanan Tamara adalah kesetiaan para pengrajin, ahli bordir, pembuat pola, dan penjahit. Atelier yang ia dirikan bertahun-tahun lalu, dimulai dari satu orang yang ia latih langsung dengan teknik-teknik warisan neneknya, kini menjadi tim yang telah bekerja bersamanya selama 12 hingga 15 tahun.
Para petit mains (atau tangan-tangan kecil, istilah bagi para pengrajin di atelier couture) ikut pindah ketika ia mendirikan rumah mode barunya.
"Cukup dengan sketsa kasar, mereka sudah tahu persis bagaimana hasil akhirnya," katanya. "[Pemahaman] itu tak ternilai harganya."
Meski Maison Tamara Ralph kini berbasis di Paris, atelier utamanya tetap berada di London, tempat 'keluarga' pengrajinnya berasal.
"Saya mempertahankannya di sana karena semua pengrajin tersayang saya, keluarga saya, berbasis di sana," katanya.
Lihat Juga :![]() Laporan dari Paris Surat Cinta untuk Ibu, Manish Malhotra Bawa India ke Panggung Couture |
Couture di abad ke-21
Di zaman visual, di mana segala sesuatu, termasuk gaun couture seharga rumah, bisa dinikmati dalam hitungan detik lewat layar ponsel, apakah couture masih bicara soal keterampilan tangan, atau sudah bergeser perannya secara kultural?
Bagi Tamara, jawabannya tidak bercabang.
"Couture akan selalu memiliki inti, berupa craftsmanship dan artistry yang menyatu," katanya tegas.
"Itu selalu menjadi fondasi couture, dan alasan mengapa rumah-rumah mode ini dirayakan, karena keahlian, kreativitas, dan seni mereka."
Ia tak menampik adanya perubahan dalam lanskap industru fesyen. Namun, ia melihat couture justru berkembang, seiring industri kemewahan yang bergeser dari kemewahan massal menuju permintaan akan kustomisasi, eksklusivitas, dan keunikan.
Bagi Tamara Ralph, couture tetap berkembang di tengah industri yang kian cepat. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz) |
Yang paling menarik dari pengamatannya adalah soal siapa yang kini membeli couture. Bukan lagi semata klien lama yang mewarisi kebiasaan berbusana keluarga mereka, melainkan generasi baru yang datang dengan alasan berbeda.
"Mereka menghargai bukan hanya nilai artistik dan craftsmanship-nya, tapi juga aspek keberlanjutannya, bahwa mereka membeli sesuatu yang akan bertahan selamanya," ujar Tamara.
Sebuah gaun couture, dalam logika ini, bukan produk sekali pakai untuk satu unggahan media sosial, melainkan investasi jangka panjang. Di tengah dunia yang serba instan, justru eksklusivitas menjadi daya tarik couture yang paling dicari.
Generasi muda yang kini antre untuk memesan gaun couture pertama mereka, menurut Tamara, memang sudah memahami dan menerima bahwa menunggu adalah bagian dari kemewahan itu sendiri.
Angelina Jolie mengenakan Ralph & Russo Couture saat bertemu Ratu Elizabeth II untuk menerima gelar kehormatan Dame atas upayanya memerangi kekerasan seksual. (PA Wire/Press Association Images/Anthony Devlin) |
Klien-kliennya pun lintas generasi dan lintas benua, mulai dari bayi berusia enam bulan hingga dewasa. Angelina Jolie saat menerima penghargaan kehormatan dari mendiang Ratu Elizabeth II pada 2014 lalu dan Jennifer Lopez yang hadir di Paris bulan Juli kemarin menjadi bukti nyata bahwa argumennya soal keabadian bukan sekadar retorika pemasaran.
Inilah alasan terbesarnya mendirikan lagi rumah mode dengan namanya sendiri. Ia ingin membangun sebuah rumah mode yang sepenuhnya mencerminkan dirinya.
Setiap kolaborasi, misalnya dengan Audemars Piguet di tahun 2024, dipilih bukan semata karena nama besar, melainkan karena memiliki nilai yang sama mengenai kualitas, eksklusivitas, dan penghormatan terhadap kerajinan tangan.
"Saya tidak akan pernah mengorbankan kualitas."
Kalimat yang terdengar nyaris seperti manifesto.
Di tengah industri yang semakin cepat, Tamara Ralph justru membangun rumah mode yang percaya pada kemewahan berdasar pada hal-hal yang jauh lebih tua daripada media sosial: waktu, keterampilan, kesabaran, dan keindahan.
Mungkin itulah sebabnya, meskipun nama di fasad maison telah berubah, bahasa visual Tamara Ralph tetap terasa akrab bagi siapa pun yang telah mengikutinya sejak satu dekade lalu. Karena pada akhirnya, couture bukan sekadar tentang gaun.
"Couture adalah hati dan jiwa dari seluruh karya dan bisnis saya," tutupnya.
(asr/asr)[Gambas:Video CNN]





