4 Cara Mengatasi Anak Tantrum di Tempat Umum tanpa Panik
Anak yang tantrum di tempat umum sering kali membuat orang tua panik, malu, bahkan kebingungan harus bersikap seperti apa. Padahal, reaksi orang tua saat menghadapi situasi tersebut justru berperan besar dalam membantu anak kembali tenang.
Tantrum merupakan hal yang umum terjadi pada anak, terutama balita. Kondisi ini bukan sekadar perilaku 'nakal', melainkan bentuk luapan emosi ketika anak belum mampu mengungkapkan perasaan atau mengendalikan rasa frustrasi yang dialaminya.
Dokter spesialis anak I Gusti Ayu Trisna Windiani menjelaskan, tantrum adalah respons anak terhadap rasa frustrasi yang belum mampu mereka regulasi dengan baik.
"Tantrum itu anak tidak mampu meregulasi rasa frustrasi yang dia alami. Betul-betul tidak menyenangkan bagi anak jika sesuatu tidak sesuai dengan situasinya. Di mana pun bisa tantrum itu terjadi," ujar Ayu dalam seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) beberapa waktu lalu.
Menurut Ayu, ada beberapa faktor yang dapat memicu anak mengalami tantrum, mulai dari kurang tidur, menginginkan atau menolak sesuatu, pola asuh yang kurang konsisten, hingga keinginan untuk mendapatkan perhatian dari orang tua.
Lantas, bagaimana cara mengatasi anak tantrum di tempat umum?
Cara mengatasi anak tantrum di tempat umum
Ayu memperkenalkan pendekatan RIDD yang dapat diterapkan orang tua ketika menghadapi anak yang sedang tantrum. Berikut penjelasannya:
1. Tetap tenang
Langkah pertama dan paling penting adalah menjaga ketenangan. Meski situasi terasa memalukan atau membuat stres, orang tua sebaiknya tidak ikut terpancing emosi.
Biarkan anak meluapkan emosinya terlebih dahulu sambil memastikan ia tetap berada dalam kondisi aman. Ayu mengingatkan agar orang tua tidak membalas tantrum dengan teriakan atau kemarahan.
"Kalau kita berteriak, maka anak itu akan meningkatkan dua kali tantrumnya. Tenang dulu, kasih dia waktu," katanya.
Sikap tenang dari orang tua akan membantu anak belajar bahwa emosinya dapat dihadapi tanpa kemarahan.
2. Abaikan perilaku tantrumnya
Mengabaikan bukan berarti mengabaikan anak secara keseluruhan. Yang perlu diabaikan adalah perilaku tantrumnya agar anak tidak menganggap ledakan emosi sebagai cara efektif untuk mendapatkan perhatian.
"Jadi, abaikan dulu perilaku tantrumnya, tetapi tidak mengabaikan anak tersebut," ujar Ayu.
Orang tua tetap perlu mengawasi anak dari dekat dan memastikan keselamatannya selama proses tersebut berlangsung.
3. Alihkan perhatian anak
Setelah emosi anak mulai mereda, orang tua bisa mencoba mengalihkan perhatiannya ke aktivitas atau benda lain yang disukai. Menurut Ayu, cara ini membantu anak keluar dari situasi yang memicu frustrasi sekaligus memberi waktu baginya untuk menenangkan diri.
"Kasih dia dulu mengeluarkan energinya untuk tantrum," katanya.
Mengajak anak melihat sesuatu yang menarik, berjalan ke tempat yang lebih tenang, atau menawarkan aktivitas sederhana bisa menjadi pilihan untuk mengalihkan fokusnya.
4. Penuhi kebutuhan dasar, tetapi jangan menuruti semua keinginannya
Orang tua tetap harus memenuhi kebutuhan fisik dan keselamatan anak, misalnya ketika anak lapar, haus, atau merasa tidak nyaman. Namun, jangan langsung mengabulkan permintaan yang menjadi penyebab tantrum hanya agar anak berhenti menangis.
Menurut Ayu, sikap orang tua yang tidak konsisten justru membuat anak belajar bahwa tantrum adalah cara ampuh untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Jangan mudah tergoyah. Nanti anak akan ingat bahwa kalau mau mendapatkan sesuatu, saya harus guling-guling dulu," ujarnya.
Karena itu, orang tua perlu menetapkan batasan yang jelas dan konsisten. Dengan begitu, anak akan belajar bahwa ada cara yang lebih baik untuk menyampaikan keinginannya.
(tis/tis)