Melanjutkan Perjuangan di Gedung Joang 45
Kalau datang tanpa pemandu, mungkin memang ada sedikit kebingungan pada awalnya. Museum ini memiliki banyak koleksi dan beberapa bagian yang bisa dieksplorasi, tetapi tidak ada alur kunjungan yang benar-benar terasa seperti sedang mengikuti tur.
Pengunjung bisa saja mulai dari satu diorama, berpindah ke lukisan, lalu tiba-tiba tertarik dengan koleksi lain di sudut ruangan. Untungnya, museum ini tidak sepenuhnya mengandalkan benda-benda yang hanya diam di balik kaca.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah bagian dilengkapi video dan teknologi interaktif yang membuat pengunjung bisa mengenal cerita di balik koleksi dengan cara yang lebih beragam. Ada pula imersif 360 derajat yang memungkinkan pengunjung mengeksplorasi bagian tertentu dari museum secara lebih interaktif.
Bagi yang datang tanpa pemandu, fitur-fitur tersebut cukup membantu agar kunjungan tidak terasa seperti sekadar berjalan dari satu etalase ke etalase lain.
Oh iya, pengunjung juga bisa mampir ke perpustakaan jika ingin membaca lebih jauh tentang sejarah perjuangan dan tokoh-tokoh yang kisahnya tersimpan di museum. Jangan lupa juga mengisi Museum Passport dengan stempel sebelum pulang.
Setelah sebelumnya melihat tempat naskah Proklamasi dirumuskan, berkunjung ke Menteng 31 seperti melanjutkan cerita dari sisi yang berbeda.
(asr/asr)