Museum Kebangkitan Nasional dan Gagasan Kebangsaan Para Pelajar
Lalu, apa hubungannya dengan Kebangkitan Nasional?
Pertanyaan di atas mungkin muncul setelah melihat bahwa tempat ini awalnya merupakan sekolah dokter. Jawabannya ada pada para pelajar yang pernah berkumpul di dalamnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 20 Mei 1908, sejumlah pelajar STOVIA mendirikan Boedi Oetomo. Organisasi tersebut menjadi salah satu tonggak penting munculnya gerakan kebangsaan Indonesia.
Perjuangan melawan penjajahan perlahan mengambil bentuk baru. Bukan hanya perlawanan fisik dan bersifat kedaerahan, tetapi juga perjuangan melalui pendidikan, organisasi, gagasan, dan kesadaran untuk bersatu sebagai sebuah bangsa.
Pada 8 Agustus 1908, sebuah rapat membahas pelaksanaan kongres pertama Boedi Oetomo yang kemudian digelar di Yogyakarta pada 3-5 Oktober 1908. Biaya kongres sebagian berasal dari pelajar STOVIA yang rela menjual barang berharga milik mereka.
Kalau dipikir-pikir, kisahnya cukup sederhana. Sekumpulan pelajar berkumpul, berdiskusi, menyusun rencana, bahkan rela melepaskan barang milik sendiri demi sebuah organisasi. Tapi dari ruang-ruang semacam itulah gagasan kebangsaan mulai menemukan bentuknya.
Boedi Oetomo memang menjadi salah satu cerita terbesar yang melekat pada STOVIA. Namun, para pelajar dan lulusan sekolah ini juga memiliki kisah masing-masing.
Ada Tirto Adhi Soerjo, misalnya. Ia pernah menempuh pendidikan di STOVIA sebelum akhirnya dikeluarkan. Tirto dikenal sebagai tokoh pers yang menggunakan tulisan untuk menyuarakan kepentingan masyarakat pribumi.
Ada pula Ki Hajar Dewantara yang kemudian dikenal sebagai tokoh pendidikan nasional.
Kisah-kisah tersebut membuat STOVIA terasa seperti titik temu berbagai bentuk perjuangan. Ada yang bergerak melalui kedokteran, pendidikan, pers, organisasi, hingga gagasan politik.
Mereka mungkin memiliki jalan yang berbeda, tetapi berangkat dari satu hal yang sama yaitu pengetahuan.
Dari sekolah dokter menjadi Museum Kebangkitan Nasional
Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta, Kamis (6/7). (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf) |
Pada 5 Juli 1920, seluruh pendidikan dokter dipindahkan ke gedung baru di Salemba yang memiliki fasilitas lebih memadai. Bangunan STOVIA di Weltevreden kemudian digunakan sebagai asrama.
Fungsi gedung itu terus berubah seiring waktu, sampai akhirnya ditetapkan sebagai Museum Kebangkitan Nasional.
Kini, hanya dengan membayar tiket masuk Rp5 ribu, pengunjung bisa melihat kembali ruang-ruang yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan para pelajar STOVIA.
Ada ruang kelas, ruang direktur, ruang rekreasi, ruang gymnastiek, hingga asrama. Benda-benda dan teknologi interaktif di dalamnya membantu menghubungkan ruang-ruang tersebut dengan cerita orang-orang yang pernah mengisinya.
Kebangkitan nasional tidak lahir begitu saja pada satu tanggal. Ia tumbuh dari ruang-ruang pendidikan, dari pertemuan para pemuda, dari buku yang dibaca, percakapan yang dilakukan, dan keberanian untuk membayangkan kehidupan yang berbeda.
STOVIA mungkin awalnya dibangun untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis di tengah wabah. Tapi di tempat yang sama, para pemuda menemukan sesuatu yang jauh lebih besar, gagasan bahwa pengetahuan bisa menjadi bekal untuk memperjuangkan kebebasan.
Buat kamu yang mau datang ke sini, museum buka setiap hari Selasa-Minggu, pukul 08.00-16.00 WIB. Kumpulkan stempelnya untuk museum passport kamu!
(asr/asr)
