Museum Kebangkitan Nasional dan Gagasan Kebangsaan Para Pelajar

Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Minggu, 16 Agu 2026 14:10 WIB
Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kalau mendengar kata kebangkitan nasional, yang terbayang mungkin nama Boedi Oetomo, 20 Mei, lalu pelajaran sejarah tentang lahirnya kesadaran untuk bersatu melawan penjajahan. Tapi, pernahkah terpikir dari mana gagasan itu bermula?

Salah satu jawabannya bisa ditemukan di sebuah gedung tua di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Bangunan yang kini dikenal sebagai Museum Kebangkitan Nasional itu dulunya merupakan tempat pendidikan kedokteran bagi pemuda bumiputra, School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau STOVIA.

Dari luar, bangunannya memang sudah memberi kesan sebagai peninggalan masa lampau. Begitu masuk lebih jauh, suasananya terasa seperti membawa pengunjung kembali ke masa ketika para pemuda harus belajar kedokteran di tengah wabah penyakit, keterbatasan tenaga medis, dan pemerintahan kolonial.

Berawal dari wabah dan sekolah dokter Djawa

Kisahnya bermula dari persoalan kesehatan. Pada pertengahan abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda menghadapi berbagai wabah penyakit, termasuk cacar, kolera, dan disentri. Tenaga medis juga terbatas, sedangkan mendatangkan dokter dari Belanda membutuhkan biaya besar.

Kondisi itu membuat pemerintah Hindia Belanda membangun sekolah kedokteran dan vaksin bagi anak-anak bumiputra, yang kemudian dikenal dengan nama Dokter Djawa School atau Sekolah Dokter Jawa.

Sekolah tersebut terus berkembang. Pada 1901, Direktur Sekolah Dokter Djawa, H.F. Roll, mengusulkan perubahan status sekolah menjadi pendidikan tinggi kedokteran. Nama sekolah pun berubah menjadi STOVIA. Gedung STOVIA di Hospitaal Weg kemudian diresmikan pada 1 Maret 1902.

Jejak kehidupan pelajar STOVIA

Salah satu bagian yang terasa paling dekat dengan kehidupan para pelajar adalah area asrama. Tempat tidur, kasur, lemari, hingga berbagai gambaran kehidupan sehari-hari membuat STOVIA terasa bukan sekadar sekolah tua yang menyimpan buku dan dokumen.

Pengalaman itu dibuat lebih hidup lewat fitur audio. Pengunjung dapat mengenakan headphone dan mendengarkan cerita dari sudut pandang karakter yang menggambarkan kehidupan para pelajar di asrama.
Rasanya seperti mendengar kembali percakapan yang mungkin pernah terjadi di tempat tersebut lebih dari satu abad lalu.

Museum juga menyediakan berbagai media interaktif lain. Ada layar informasi hingga mini bioskop yang bisa digunakan untuk mengenal cerita STOVIA dengan cara yang tidak melulu membaca tulisan di dinding.

Ada pula ruang direktur yang dahulu digunakan H.F. Roll. Ruangan tersebut menjadi tempat menerima tamu dari berbagai instansi sekaligus membina pelajar yang membutuhkan bimbingan khusus.

Roll dikenal dekat dengan para pelajar dan memperhatikan kenyamanan mereka selama menempuh pendidikan. Ia bahkan pernah membela Soetomo ketika pemuda tersebut terancam dikeluarkan dari STOVIA karena aktivitasnya dalam organisasi pergerakan Boedi Oetomo.

Dari sinilah, cerita STOVIA mulai terasa bergeser.

Sekolah dokter ini perlahan bukan hanya melahirkan tenaga medis, tetapi juga menjadi tempat bertemunya gagasan tentang pendidikan, masyarakat, dan masa depan bangsa.

Simak ulasan selengkapnya di halaman berikutnya..

Museum Kebangkitan Nasional dan Gagasan Kebangsaan Para Pelajar


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :