Jakarta, CNN Indonesia --
Kesemutan atau parestesia umumnya dirasakan pada tangan atau kaki. Namun, sensasi serupa juga bisa muncul di kepala.
Kepala kesemutan dapat terasa seperti geli, tertusuk-tusuk, terbakar, gatal, atau bahkan mati rasa. Sensasinya bisa muncul di satu sisi maupun kedua sisi kepala dan terkadang menjalar ke wajah atau sekitar mata.
Kondisi ini berkaitan dengan sistem saraf, baik saraf pusat maupun saraf tepi. Penyebabnya pun beragam, mulai dari kondisi sementara seperti stres dan migrain hingga gangguan saraf tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apa saja penyebab kepala kesemutan? Berikut penjelasannya, melansir berbagai sumber:
1. Stres
Stres dapat menjadi salah satu penyebab kepala kesemutan. Ketika mengalami stres, tubuh mengalami perubahan respons yang dapat memicu ketegangan otot dan memengaruhi fungsi saraf.
Kesemutan akibat stres biasanya bersifat sementara dan membaik setelah pemicu stres teratasi. Namun, stres yang berlangsung lama dapat menimbulkan berbagai keluhan fisik lainnya.
2. Migrain
Migrain merupakan jenis sakit kepala yang dapat menyebabkan nyeri berdenyut dengan intensitas ringan hingga berat. Pada sebagian orang, migrain diawali dengan gejala yang disebut aura.
Aura dapat berupa gangguan penglihatan, kekakuan pada leher, serta sensasi kesemutan atau mati rasa pada bagian tubuh tertentu, termasuk wajah dan kepala. Pemicu migrain berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa di antaranya adalah perubahan hormon, stres, kelelahan, kurang tidur, faktor genetik, serta konsumsi makanan atau minuman tertentu.
3. Sinusitis
Sinusitis merupakan peradangan pada rongga sinus yang dapat menyebabkan lendir terperangkap dan menimbulkan tekanan di sekitar wajah.
Kondisi ini umumnya ditandai dengan hidung tersumbat, sakit kepala, serta nyeri atau tekanan di sekitar mata, dahi, dan hidung. Pada kondisi tertentu, tekanan atau iritasi pada saraf di sekitar wajah juga dapat menimbulkan sensasi kesemutan.
4. Neuropati kranial
Neuropati kranial terjadi ketika salah satu dari 12 pasang saraf kranial mengalami gangguan. Saraf-saraf tersebut berperan dalam berbagai fungsi, termasuk gerakan wajah, penglihatan, pendengaran, hingga sensasi pada wajah dan kepala.
Gangguan ini dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti infeksi, tekanan darah tinggi, diabetes, atau stroke. Gejalanya bergantung pada saraf yang mengalami gangguan, tetapi dapat berupa kesemutan, nyeri, mati rasa, kelemahan otot wajah, atau gangguan pada fungsi tertentu.
Baca kelanjutannya di halaman berikutnya..
5. Trauma kepala
Benturan pada kepala akibat terjatuh, kecelakaan, pukulan, atau cedera lainnya juga dapat menimbulkan sensasi kesemutan. Keluhan tersebut dapat disertai sakit kepala, pusing, gangguan penglihatan, mual, atau muntah.
Jika kesemutan muncul setelah mengalami benturan kepala, terutama bila disertai muntah berulang, kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, atau sakit kepala yang semakin berat, segera periksakan diri ke dokter.
6. Penyakit Lyme
Penyakit Lyme merupakan infeksi bakteri Borrelia burgdorferi yang ditularkan melalui gigitan kutu tertentu. Penyakit ini lebih banyak ditemukan di wilayah tertentu, terutama Amerika Utara dan Eropa.
Pada tahap awal, infeksi dapat menyebabkan ruam kemerahan yang dikenal sebagai erythema migrans. Jika tidak ditangani, infeksi dapat menyebar dan memengaruhi sistem saraf.
Pada tahap tersebut, penderita dapat mengalami kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, demam, gangguan saraf, hingga sensasi kesemutan.
7. Ensefalitis
Ensefalitis atau radang otak merupakan peradangan pada jaringan otak yang paling sering disebabkan oleh infeksi virus. Meski lebih jarang, kondisi ini juga dapat disebabkan oleh bakteri atau penyebab lainnya.
Gejalanya dapat berupa demam, sakit kepala, mual dan muntah, kekakuan leher, perubahan kesadaran, hingga kejang. Gangguan saraf juga dapat menimbulkan sensasi tidak normal, termasuk kesemutan.
Ensefalitis merupakan kondisi serius yang membutuhkan penanganan medis segera. Pada kasus berat, peradangan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen.
8. Herpes zoster
Herpes zoster terjadi akibat reaktivasi virus Varicella zoster, virus yang sama yang menyebabkan cacar air. Sebelum ruam muncul, penderita biasanya merasakan nyeri, terbakar, atau sensasi seperti tertusuk pada area tubuh yang dipengaruhi saraf yang terinfeksi.
Jika herpes zoster menyerang saraf di wajah atau kulit kepala, gejalanya dapat berupa kesemutan dan nyeri pada area tersebut. Beberapa hari kemudian, biasanya muncul ruam yang berkembang menjadi lepuhan berisi cairan dan terasa gatal atau nyeri.
9. Stroke
[Gambas:Infografis CNN]
Kesemutan atau mati rasa yang muncul secara tiba-tiba, terutama pada satu sisi tubuh atau wajah, dapat menjadi salah satu tanda stroke.
Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Selain kesemutan atau mati rasa, gejala stroke dapat berupa wajah mencong, kelemahan pada lengan atau tungkai, gangguan bicara, gangguan penglihatan, pusing, hingga kesulitan berjalan.
Jika gejala tersebut muncul tiba-tiba, segera cari pertolongan medis. Stroke merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan secepat mungkin.
10. Multiple sclerosis
Multiple sclerosis (MS) merupakan penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat, terutama lapisan pelindung serabut saraf yang disebut mielin.
Kerusakan tersebut dapat mengganggu komunikasi antara otak dan bagian tubuh lainnya. Salah satu gejalanya dapat berupa kesemutan atau mati rasa yang muncul berulang pada kepala maupun bagian tubuh lain.
Gejala MS sangat beragam dan dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, diagnosis biasanya membutuhkan pemeriksaan medis dan penunjang secara menyeluruh.
11. Tumor otak
Dalam kasus yang lebih jarang, kesemutan pada kepala dapat berkaitan dengan tumor otak. Namun, sensasi kesemutan umumnya bukan satu-satunya gejala.
Keluhan dapat disertai sakit kepala yang semakin berat atau berbeda dari biasanya, kejang, mual dan muntah, gangguan penglihatan, perubahan kemampuan berjalan, perubahan perilaku, hingga penurunan kesadaran.
Kemunculan gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami tumor otak. Diperlukan pemeriksaan dokter untuk mengetahui penyebab sebenarnya.