Skin Longevity, Kunci Jaga Kesehatan dan Kecantikan Jangka Panjang

Sido Muncul | CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 13:01 WIB
Ilustrasi. Tren skin longevity tidak lagi hanya dilihat dari apa yang digunakan di kulit, tetapi juga dari cara merawatnya dari dalam. (iStock/Nattakorn Maneerat)
Jakarta, CNN Indonesia --

Memiliki kulit yang sehat, kenyal, dan bercahaya tidak lagi hanya soal menggunakan skincare dari luar. Seiring meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan kulit, semakin banyak orang mulai melihat perawatan secara lebih menyeluruh, termasuk memperhatikan nutrisi yang dikonsumsi setiap hari.

Pendekatan ini dikenal dengan istilah skin longevity, yaitu upaya menjaga kesehatan dan kualitas kulit secara berkelanjutan, bukan sekadar mengejar hasil instan.

Lihat Juga :
LAPORAN INTERAKTIF
Pendar Rona Sepanjang Usia

Salah satu komponen yang berperan penting dalam menjaga struktur kulit adalah kolagen. Protein ini menyusun sekitar 30 persen dari total protein tubuh dan menjadi salah satu bahan pembangun utama kulit, otot, tulang, tendon, ligamen, serta jaringan ikat lainnya.

Produksi kolagen menurun sejak usia 25 tahun

Tubuh sebenarnya mampu memproduksi kolagen secara alami. Namun, produksi tersebut perlahan menurun seiring bertambahnya usia.

Menurut reviu ilmiah dalam jurnal Plastic and Aesthetic Research (2021), produksi kolagen mulai menurun sekitar 1-1,5 persen setiap tahun setelah memasuki usia 25 tahun. Penurunan tersebut berkaitan dengan semakin kurang aktifnya fibroblas, yaitu sel jaringan ikat yang berperan dalam memproduksi kolagen dan elastin.

Gaya hidup juga dapat mempercepat penurunan kualitas kulit. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang olahraga, kurang tidur, hingga paparan sinar matahari dan polusi dapat berkontribusi terhadap kerusakan kulit.

Karena itu, menjaga kesehatan kulit tidak cukup hanya dilakukan ketika tanda-tanda penuaan mulai terlihat. Memenuhi kebutuhan nutrisi sejak dini dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi kulit dalam jangka panjang.

Kolagen dan nutrisi pendukungnya

Kolagen yang dikonsumsi tidak serta-merta langsung menjadi kolagen di dalam kulit. Tubuh terlebih dahulu memecah kolagen menjadi peptida agar dapat diserap melalui usus. Peptida tersebut kemudian dapat berperan dalam proses pembentukan kolagen dan merangsang fibroblas untuk memproduksi kolagen, elastin, hingga asam hialuronat.

Dalam proses pembentukan kolagen, tubuh membutuhkan sejumlah asam amino, terutama prolin, glisin, dan hidroksiprolin. Selain itu, vitamin dan mineral seperti vitamin C, zinc, tembaga, serta mangan juga dibutuhkan untuk mendukung proses tersebut.

Salah satu bentuk kolagen yang kini banyak digunakan dalam produk nutricosmetic adalah collagen tripeptide (CTP). Dengan ukuran molekul kurang dari 500 Dalton, bentuk ini dirancang agar lebih mudah diserap tubuh dan dapat berperan sebagai sinyal biologis yang berinteraksi dengan fibroblas.

Penelitian yang dikutip dalam materi juga menunjukkan bahwa konsumsi collagen tripeptide selama sekitar tiga bulan dapat membantu meningkatkan kelembapan kulit sekaligus mengurangi tampilan kerutan.

Namun, kolagen tetap membutuhkan dukungan nutrisi lainnya. Vitamin C, misalnya, berperan sebagai kofaktor dalam proses pembentukan kolagen, sementara zinc membantu proses penguatan serat kolagen.

Hadirnya C+Collagen dalam rutinitas harian

Melihat kebutuhan tersebut, Sido Muncul menghadirkan C+Collagen sebagai minuman kolagen yang memadukan collagen tripeptide, vitamin C, zinc, serta berbagai vitamin dan mineral lainnya.

Setiap saset C+Collagen mengandung 500 mg collagen tripeptide, 1.000 mg vitamin C, dan 10 mg zinc. Produk ini hadir dalam bentuk bubuk effervescent dengan rasa strawberry lemonade dan dapat diseduh menggunakan 200 ml air dingin.

Format tersebut membuat C+Collagen mudah dimasukkan ke dalam rutinitas sehari-hari. Minuman dapat dikonsumsi sebelum beraktivitas, setelah berolahraga, maupun ketika bekerja di kantor.

Selain praktis, C+Collagen juga hadir tanpa gula. Bagi konsumen yang kurang nyaman mengonsumsi suplemen dalam bentuk tablet atau kapsul, format minuman dapat menjadi alternatif yang lebih mudah dijadikan kebiasaan.

Pengalaman tersebut turut dirasakan oleh Angel, yang mengaku rutin mengonsumsi C+Collagen sebelum beraktivitas. Ketertarikannya terhadap produk berawal dari media sosial, tetapi kandungan nutrisi menjadi salah satu pertimbangan utama untuk mencobanya.

Sementara itu, Nura, seorang pekerja agensi sekaligus ibu, memilih C+Collagen karena mempertimbangkan reputasi Sido Muncul serta kepraktisan produk. Ia biasa membawa produk tersebut ke kantor dan mengonsumsinya setelah makan siang.

Suasana booth C+Collagen Sido Muncul di acara Event TikTok ForYouBeauty 2026 yang diselenggarakan pada 12–14 Juni 202 di Senayan City, Jakarta. (CNN Indonesia/Adi ibrahim)

Bukan sekadar mengejar hasil instan

Meski suplemen kolagen dapat menjadi bagian dari rutinitas perawatan kulit, hasilnya tetap membutuhkan proses. Konsumsi kolagen tidak dapat menggantikan kebiasaan sehat lainnya.

Angel, misalnya, mengimbangi konsumsi C+Collagen dengan olahraga, memperbanyak minum air, serta berusaha tidur setidaknya tujuh jam sehari. Nura juga mulai lebih rutin berolahraga dan menjaga pola makan.

Pendekatan menyeluruh tersebut sejalan dengan prinsip skin longevity. Menjaga kulit dalam jangka panjang membutuhkan kombinasi antara nutrisi, pola hidup, istirahat, perlindungan dari paparan lingkungan, dan perawatan dari luar.

Penelitian yang dikutip dalam materi menunjukkan bahwa perubahan pada hidrasi dan elastisitas kulit dapat mulai terlihat setelah konsumsi collagen tripeptide secara rutin selama 14 hingga 28 hari. Namun, perubahan yang lebih signifikan tetap membutuhkan konsumsi dalam jangka lebih panjang, sekitar 8-12 minggu.

Artinya, perawatan kulit bukanlah proses yang memberikan hasil dalam semalam. Konsistensi justru menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Ketika perawatan dari dalam menjadi kebiasaan

Tren skin longevity menunjukkan perubahan cara pandang terhadap kecantikan. Kulit yang sehat dan bercahaya tidak lagi hanya dilihat dari apa yang digunakan di permukaan, tetapi juga dari bagaimana tubuh dirawat secara keseluruhan.

Sejak diluncurkan melalui e-commerce pada November 2025, C+Collagen juga menunjukkan performa yang cukup menonjol. Produk ini disebut berhasil meraih market share tertinggi kedua di TikTok Shop untuk kategori Beauty Supplement, disertai lebih dari 4.500 earned affiliators, 3,2 juta produk terjual di e-commerce, dan lebih dari 10.000 earned content serta livestream selama periode peluncuran.

Popularitas tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap perawatan kulit dari dalam semakin mendapatkan tempat di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, skin longevity bukan tentang mempertahankan penampilan agar selalu terlihat muda. Lebih dari itu, konsep ini berbicara tentang bagaimana menjaga kesehatan kulit secara konsisten agar tetap nyaman, sehat, dan terawat dalam jangka panjang.

Dengan menjadikan nutrisi, aktivitas fisik, tidur cukup, hidrasi, serta perawatan kulit sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, menjaga kulit dapat menjadi perjalanan yang dilakukan secara bertahap-bukan sekadar mengejar hasil instan.



KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK